
Saka dan Orion terbang dengan kecepatan konstan ke arah tenggara. Keduanya memasang persepsi dengan cermat tak ingin melewatkan hal kecil sekali pun. Saat matahari mulai tenggelam ke uduk barat, sebuah desa tampak di di visi Saka.
"Kita istirahat di desa itu saja, Kak Rion!"
Orion hanya mengangguk saja dan mengikuti Saka. Namun, saat mereka semakin mendekat ke desa, gerbang sudah tertutup rapat dan semua warga sudah mengunci diri di rumah.
"Tuan Muda, desa ini aneh sekali," ucap Orion karena suasana yang begitu mencekam meski malam belum begitu larut.
Saka memandang sekeliling, mencoba mengedarkan persepsinya, tetapi ia tak menjumpai hal yang aneh.
"Sebaiknya kita langsung masuk saja, nanti kita tanya kepada warga di dalam."
Keduanya lantas terbang dan mendarat tak jauh dari gerbang desa. Tak ada yang datang, tetapi Saka bisa melihat beberapa pasang mata mengintip dari rumah masing-masing. Masih diliputi kebingungan, Saka terus berjalan mencoba menemukan penduduk yang mungkin masih berada di luar rumah.
Sekian lama berjalan, tak ada satu pun penduduk yang keluar dari rumah, membuat Saka sedikit jengkel. Ia penasaran, tetapi tidak ada yang bisa ditanya karena semua orang bersembunyi.
"Sepertinya ini rumah Kepala Desa, Tuan Muda!" ucap Orion saat mereka berdiri di depan rumah yang terlihat paling mencolok.
Saka menggunakan mata dewa miliknya untuk melihat ke dalam rumah dan terlihat seorang pria paruh baya tampak tengah mengintip dari balik pintu.
"Paman, keluarlah! Ada yang ingin kutanyakan tentang kondisi desa ini." Saka menggunakan telepati yang membuat pria paruh baya di balik pintu itu terjengkang karena terkejut.
Saka tersenyum samar melihatnya. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu yang dibuka perlahan. Sosok pria paruh baya yang terlihat lebih tua dari umurnya berjalan perlahan mendekat ke arah Saka. Jejak ketakutan tak bisa dihilangkan dari wajahnya membuat Saka mengernyit heran. Apa yang sebenarnya terjadi di desa ini sehingga semua penduduknya sangat ketakutan?
"Paman, jangan takut! Aku hanya ingin mengetahui apa yang terjadi di desa ini, syuku-syukur kalau aku bisa membantu." Saka dengan ramah menyambut Kepala Desa yang terlalu ragu untuk melangkah.
Mendengar kata bantuan, secercah harapanĀ muncul di hati Kepala Desa.
"Benarkah? Tuan Muda bersedia membantu desa ini?"
"Tentu saja, Paman! Sekarang katakan saja yang sebenarnya. Kenapa desa ini sangat sepi padahal malam belum terlalu larut?"
Wajah Kepala Desa kembali muram. "Ini sudah berlangsung selama lima hari, Tuan Muda! Setiap malam akan datang segerombolan orang yang menculik generasi muda di desa ini, dan juga merampas harta kami. Kekuatan mereka sangat besar dan kami bukan tandingannya." Kepala Desa hanya mampu menyalahkan diri sendiri karena tidak berdaya. Dengan tingkat kultivasinya yang hanya berada di ranah Jenderal tingkat enam, tidak cukup untuk melawan orang-orang yang datang setiap malam.
Alis Saka terangkat sebelah. "Apakah kalian tidak melapor ke Tuan Kota?"
Kepala Desa menghela napas panjang. "Kami sudah mencobanya, Tuan Muda! Tapi semua yang mencoba melapor ke Tuan Kota tidak ada yang kembali ke desa sampai saat ini."
Saka semakin merasakan sesuatu yang tidak wajar. "Paman, tenanglah! Aku akan menyelidiki masalah ini dan sebisa mungkin menyelamatkan orang-orang yang diculik."
"Benarkah? Tuan Muda, tapi orang-orang itu sangat kuat dan gerakannya cepat. Meskipun berada di ranah yang sama, kekuatannya berada di atas kita."
Saka terdiam dengan banyak dugaan di benaknya. "Kita akan tahu setelah mereka datang. Kepala Desa, sebaiknya kamu kembali ke dalam rumah. Aku yang akan menyambut saat mereka datang nanti."
"Tuan Muda, hati-hati!" pesan Kepala Desa sebelum kembali masuk ke dalam rumah dan menutup pintu dengan rapat. Meski begitu, ia tetap mengintip karena sangat khawatir dengan keselamatan dua Tuan Muda yang ingin membantu penduduk desanya itu.
"Tuan Muda, apa yang akan kita lakukan?" tanya Orion begitu Kepala Desa sudah pergi.
"Kita tunggu mereka datang. Akan lebih menghemat waktu jika mereka yang menunjukkan jalan ke markas mereka sendiri."
Saat angka analog di layar sistem menunjukkan pukul sembilan, beberapa sosok bayangan hitam terdeteksi persepsi Saka.
"Mereka datang," gumam Saka tetapi masih mampu didengar oleh Orion yang membuat pemuda itu menghentikan kultivasinya.
"Enam orang, tertinggi ranah Langit tingkat dua, dan terendah ranah Jenderal tingkat tiga."
Saka berdiri, meregangkan otot-otot tubuhnya yang lumayan kaku. "Biar aku saja yang bertindak, Kak! Kamu berjaga-jaga saja untuk segala kemungkinan." Sebelum Orion mengajukan diri, Saka sudah memberi perintah yang membuat Orion hanya mampu mengangguk.
Dalam lima hela napas, sosok bayangan itu sampai di tempat Saka dan cukup terkejut mendapati dua manusia yang berani di luar rumah.
"Siapa kalian?" Salah satu dari sosok itu bertanya dengan waspada. Ia menyadari jika dua orang itu bukanlah penduduk desa ini.
"Kalian lama sekali? Aku sampai mengantuk menunggu kalian datang," ucap Saka sembari menguap malas.
"Kita tidak memiliki urusan dengan kalian," sosok itu mencoba tetap tenang.
"Tentu saja. Tapi, aku yang memiliki urusan dengan kalian. Berani-beraninya kalian bertingkah di kota Tanica, dasar vampire busuk!"
Saat sosok-sosok itu sampai di depan mereka, Saka baru sadar jika aura mereka sangat berbeda dari aura manusia. Maka dari itu, Saka meminta sistem untuk memindahkan mereka, dan hasilnya sangat mengejutkan. Sejak kapan vampire berada di alam kultivator?
Keterkejutan tak bisa disembunyikan oleh sosok-sosok itu. Mereka mundur perlahan, merasakan bahaya dari dua pemuda yang tidak bisa mereka lihat ranah kultivasinya.
"Jangan bicara sembarangan! Tidak ada vampire di alam ini." Sosok itu mencoba menyangkal, tetapi Saka hanya tersenyum miring.
"Oh, ya? Haruskah aku membuka kedok kalian?" Bersamaan dengan itu, Saka menggores telapak tangannya. Darah emas mulai menetes dan menampilkan bau yang berkali-kali lipat lebih manis bagi para vampire dibandingkan dengan manusia dewasa.
Beberapa sosok itu mulai memegang tenggorokannya saat rasa haus melanda. Tatapannya tak terlepas dari darah emas Saka yang terus menetes ke tanah sebelum lenyap entah kemana.
Brakk!
Duagh!
Sosok yang memiliki ranah terendah tak kuat menahan godaan sehingga langsung menyerang Saka. Namun, Saka dengan santai mengusap telapak tangannya hingga luka itu menghilang sebelum kemudian memberikan pukulan telak yang membuat vampire itu terhempas jauh dengan dada yang cekung ke dalam.
"Manis, darahnya sangat manis," gumam sosok-sosok itu yang langsung kehilangan kendali. Kedua taring mereka memanjang dan segera menyerang Saka dengan tak sabar. Menghadapi lima vampire cukup merepotkan. Apalagi kekuatan dan kecepatan mereka lebih tinggi meski berada di ranah yang sama.
Kini Saka dan keenam vampire bertarung sengit. Mereka bertukar pukulan dan sesekali Saka menggunakan teknik jari setan miliknya dan membuat lubang di tubuh para vampire yang membuat mereka semakin menggeram marah.
Setelah tiga puluh menit, napas Saka mulai tak beraturan. Ternyata cukup menguras tenaga untuk mengimbangi kecepatan para vampire. Karena kecepatan mereka hampir sama dengan saat ia memakai teleportasi. Langkah angin bahkan tak bisa dibandingkan.
"Waktunya mengakhiri permainan," ucap Saka sembari mengeluarkan sebuah pedang dewa dengan bilah putih yang mengkilat saat terkena sinar bulan.
Para vampire itu mundur, mereka menyadari jika pedang itu terbuat dari perak, di mana perak adalah kelemahan terbesar mereka. Salah satu sosok itu bergerak cepat melarikan diri diikuti oleh sosok yang lain. Namun, Saka tak akan mengijinkan itu terjadi. Menggunakan teknik Hukum, Ruang dan Waktu, Saka menghentikan waktu hingga sepuluh detik. Cukup untuk membunuh mereka semua.
Saka melesat dengan teleportasi dan membunuh satu per satu hingga menyisakan vampire yang memiliki ranah tertinggi. Sebelumnya, ia sudah membeli rantai perak dari sistem dan mengikat vampire itu. Saat waktu kembali berjalan, sang vampire yang masih hidup merasakan kekuatannya tersegel dan kulitnya perlahan melepuh.
Aarrghh!