Sistem Penguasa Alam

Sistem Penguasa Alam
Strategi


Matahari tinggal segalah lagi sebelum terbenam sempurna. Di perbatasan, perkemahan prajurit Kerajaan Victoria terlihat. Dengan persepsinya, Saka mendapati kekuatan tertinggi berada di ranah Immortal tahap akhir yang hampir menembus ranah Saint. Jumlah seluruh prajurit ada seratus juta, sama dengan jumlah pasukan dari Benua Tengah. Namun, dalam segi kekuatan, jika Saka tidak ikut campur maka pasukan Kerajaan Victoria hanya akan menjadi bulan-bulanan saja.


"Kakek, jika melihat dari kekuatan prajurit Victoria, apakah kakek yakin akan memenangkan perang?" tanya Saka kepada Thomas yang kini tersenyum masam.


"Jangan bercanda, Nak Saka! Dengan kekuatan saat ini, sudah pasti kekalahan ada di pihak kita kecuali ada keajaiban. Kalau tidak ada Nak Saka, maka kita hanya visa bertempur sampai mati. Entah kalah atau menang," jawab Thomas sembari menghela napas panjang.


Saka terdiam sejenak. Jika langsung bertempur, sepertinya tidak akan menyenangkan. Tak berapa lama, senyum Saka terukir.


"Kek, tolong panggil semua Jenderal, aku mempunyai rencana untuk meminimalisir korban."


Thomas sedikit sangsi, tetapi ia tetap memanggil seluruh Jenderal, termasuk Jenderal besar yang kekuatannya berada di ranah Immortal tahap akhir.


Dua puluh orang termasuk Saka dan Thomas, kini duduk membuat lingkaran di rerumputan. Para Jenderal sempat menatap Saka dengan sinis, karena mereka tak mendeteksi adanya energi dalam duri Saka. Namun keberadaan Thomas membuat mereka tak bisa menyuarakan protes.


Saka pun memilih tak peduli, daripada repot-repot menjelaskan, ia langsung beraksi.


Saka mengeluarkan gulungan kertas berisi peta yang ia minta dari sistem.


"Jenderal sekalian, dengan kekuatan kita, sangat mustahil untuk menang melawan Pasukan Benua Tengah yang rata-rata berada di ranah Langit ke atas. Maka dari itu, aku akan membuat strategi jebakan untuk mereka. Meskipun tidak bisa semuanya terbunuh, tapi paling tidak akan mengurangi gerak mereka jika terluka." Saka terdiam sejenak, melihat reaksi para Jenderal yang tadinya sinis kini serius.


"Nah, di titik yang sudah aku lingkari ini, kita akan membuat pos kecil, yang mana tugas mereka adalah menyergap musuh dan mengacaukan mereka sebelum akhirnya kita menyerang."


"Bagaimana cara kita menyergap mereka?" Salah satu Jenderal muda bertanya.


"Dengan ini!" Saka kemudian menunjukkan satu granat tangan, melepaskan cincinnya lalu melemparkan ke padang rumput yang jauh dan ....


DUAAAR!


Semua prajurit tampak kaget mengira jika terjadi serangan mendadak. Para Jenderal dan Thomas pun hanya mampu terdiam dengan pandangan melotot.


"Benda bulat apa itu tadi? Kenapa tidak ada pancaran energi tetapi memiliki daya ledak yang sangat kuat?" Sang Jenderal besar bertanya dengan takjub.


"Jenderal, apa yang terjadi? Apakah ada serangan mendadak?" Salah satu prajurit berlari dengan tergopoh-gopoh menemui para pemimpinnya yang tengah berkumpul.


Para Jenderal pun tersadar dari terpananya dan menatap bawahannya.


"Tidak ada yang terjadi, kita hanya mengatur strategi."


Meski kebingungan, prajurit itu memilih undur diri dengan pertanyaan yang menumpuk di benaknya.


"Tuan Muda, benda bulat itu tadi luar biasa, bahkan ranah Langit pun akan terluka parah jika tidak segera menghindar." Dengan tatapak takjub, para Jenderal kemudian memuji. Kini tak ada lagi tatapan sinis, berganti dengan tatapan takjub dan kagum.


"Nah, sekarang tugas para Jenderal adalah memilih pasukan yang akan kita tempatkan di titik-titik yang sudah aku tandai. Siapkan juga beberapa prajurit yang nanti akan memasang ranjau di sepanjang jalan yang akan dilalui musuh. Hal ini harus segera selesai sebelum tengah malam."


"Ranjau? Apa itu?"


Saka dengan sabar menjelaskan. "Sama seperti benda tadi, hanya saja jika benda tadi akan meledak saat cincinnya dilepas, maka ranjau akan meledak saat ada yang menginjaknya."


Para jenderal tak bisa untuk tidak kagum, strategi yang digunakan Saka selain menghemat tenaga juga meminimalisir jatuhnya korban dari pihak mereka. Thomas yang sejak tadi terdiam pun memandang Saka dengan penuh syukur. Kini, ia optimis jika Kerajaan Victoria akan memenangkan perang dengan adanya Saka di pihak mereka.


Para Jenderal kemudian bergerak dengan cepat. Dalam waktu satu jam, saat semburat orange mulai muncul di ufuk barat, berkumpul dua ratus prajurit yang mana seratus orang akan menempati pos yang sudah ditentukan, sementara seratus yang lain akan memasang ranjau.


Saka kemudian mengulangi penjelasan cara menggunakan granat tangan. Ia juga memberi peringatan keras untuk tak ceroboh dan melepaskan cincin granat jika belum waktunya. Saka juga memberikan HT yang berguna untuk saling berkomunikasi.


Usai memberikan pengertian dan wejangan kepada kelompok penyergap, Saka kemudian memerintahkan mereka untuk berangkat. Seratus prajurit yang tersisa, Saka memimpinnya sendiri untuk menelusuri jalan yang akan digunakan oleh para Pasukan Benua Tengah.


Sesuai petunjuk dari Saka, mereka memasang ratusan ranjau di sepanjang jalan, saat tengah malam, barulah pekerjaan mereka selesai. Meski melelahkan, tetapi senyum lebar tak lekang dari bibir semua prajurit, membayangkan kemenangan ada di depan mata.


[Ding! Selamat Tuan, membunuh dua ratus kultivator ranah Bumi, mendapatkan dua puluh poin sistem]


Saat dalam perjalanan pulang, Saka mendengar notifikasi dari sistem. Hampir saja ia tersedak karena tak menyangka dengan pendapatan poin sistem yang begitu kecil untuk pembunuhan ranah Bumi.


"Sistem, yang benar saja dua ratus orang cuma dapat dua puluh poin?"


[Ding! Semakin tinggi kultivasi Tuan, maka membunuh makhluk hidup dengan kultivasi rendah tidak akan mendapatkan poin]


Saka menghela napas panjang. Meski begitu, ia tak sabar menunggu hari esok di mana poin-poin yang lebih tinggi akan datang padanya dengan suka rela.


"Ada apa Nak Saka?" tanya Thomas yang melihat Saka tengah termenung.


"Tidak apa-apa, Kek! Hanya saja pertempuran dengan Sekte Lembah Hitam tengah terjadi."


"Benarkah? Dari mana kamu tahu?"


"Tentu saja dari pasukanku," jawab Saka singkat.


Thomas pun memilih untuk tak lagi bertanya. Keduanya kemudian menikmati pemandangan malam dalam diam hingga esok menyapa.


Matahari menyingsing, para prajurit bersiap untuk menyambut datangnya musuh. Saka sendiri melayang dengan tenang di belakang barisan prajurit. Melalui persepsinya, kini Pasukan Benua Tengah mulai masuk ke perbatasan. Mungkin mereka akan tiba dalam waktu satu jam. Semua orang berdebar, mereka tak sabar untuk melihat pasukan musuh terbantai.


"Sekarang!" Saka memberi aba-aba kepada para penyergap saat pasukan musuh sudah berada dalam jangkauan.


Dari tempat Saka, ia melihat beberapa benda bulat melayang di langit sebelum kemudian terjatuh bersamaan dengan ledakan keras yang bercampur dengan jeritan kesakitan.


"Aarghh! Kita diserang!"


Pasukan musuh di lini tengah yang mana menjadi sasaran para penyergap pun tercerai berai. Beberapa berlari maju, tetapi ranjau menyambut mereka.


DUARR!


DUAARR!


DUAARR!


Ledakan terus bergema bersamaan dengan asap tebal membumbung tinggi. Pasukan musuh terbantai hampir tiga puluh persen. Membuat para petinggi yang ada di belakang menggeretakkan gigi dengan kesal.


"Bajingan! Kalian benar-benar memilih mati dengan tersiksa!"


PYAKK!


Baru saja selesai bicara, kepalanya pecah seperti semangka tanpa ada seorang pun yang mengetahui apa penyebabnya. Teror ketakutan pun dirasakan oleh pihak musuh, membuat mereka tak lagi fokus, sehingga para jenderal memanfaatkan keadaan dengan menyerang.


Pertempuran pecah, sementara Saka kini masih di udara, hanya saja dalam posisi tengkurap. Di tangannya terdapat senapan mesin M240 yang baru saja meledakkan kepala salah satu petinggi pasukan musuh.