
[Ding! Selamat Tuan, telah menyelesaikan misi sistem, mendapatkan kotak hadiah semesta]
Saka yang sedang bersantai di tepi danau usai membantai semua keluarga yang berhubungan dengan vampire mendengar notifikasi dari sistem.
Senyum tipis tampak di wajah tampannya. Ia juga tengah melihat telur phoenix yang mulai retak. Sesuai arahan dari sistem, Saka kemudian melukai jarinya dan mengalirkan energi untuk mempercepat telur menetas.
Kraak!
Telur retak, dan dari dalamnya kemudian muncul seekor burung kecil berwarna merah dan biru dengan ekor panjang yang mengintimidasi meski ukuran tubuhnya masih kecil.
"Tuan!"
Burung itu mencicit, tetapi Saka mendengar telepati dari burung itu memanggilnya Tuan.
"Burung kecil, apakah kamu sudah bisa berubah menjadi manusia?" tanya Saka sembari mengelus bulu burung itu dengan lembut.
"Belum, Tuan! Kekuatanku menurun sampai ke ranah Saint awal, aku harus sampai ke ranah Mahayana untuk berubah menjadi manusia," jawab sang burung phoenix suci itu.
"Namamu Freya bukan? Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu antara kau dan Draco?" tanya Saka begitu tahu jika phoenix di depannya adalah reinkarnasi dari penguasa ras phoenix suci di Alam Primordial.
Mendengar pertanyaan dari Saka, tampak Freya tertunduk. "Itu murni kesalahan hamba dan Draco yang mudah termakan hasutan dan membuat kami berperang satu sama lain," jelas Freya dengan intonasi lirih. Peristiwa itu adalah momen kebodohan yang ingin sekali ia ulang waktunya. Penyesalan terbesar dari Freya yang tak bisa mengemban tugasnya sebagai penguasa dengan baik.
"Sudahlah, penyesalan memang menyakitkan, tapi berlarut-larut juga tidak akan menyelesaikan masalah. Karena kamu bereinkarnasi, aku yakin Draco juga bereinkarnasi di suatu tempat. Berharap saja kita bisa dipertemukan dengannya."
Freya dalam bentuk burung kecil semakin menunduk hingga terdengar isakan lirih. "Itu tidak mungkin, Tuan!"
"Eh, kenapa?" tanya Saka kaget.
"Karena Draco menggunakan kekuatan jiwanya untuk menyelamatkan Gentala dan aku. Jiwanya musnah tanpa bisa bereinkarnasi lagi."
Saka membeku. Pikirannya kembali rumit. Ia kemudian menghela napas panjang. Ternyata tugasnya semakin menumpuk.
"Baiklah, Freya! Sebaiknya gunakan waktu dengan baik untuk mengembalikan kekuatan puncakmu. Aku juga akan berkultivasi. Firasatku mengatakan akan terjadi perang di Alam Kultivator ini," ucap Saka sembari bangkit dan meninggalkan Freya yang terbang ke dahan pohon persik dan berkultivasi untuk mengembalikan kekuatannya.
*
Saka melihat Pasukan Garuda yang tengah berlatih dengan serius. Kini, dari dua ratus jumlah awal, bertambah menjadi lima ratus berkat sandera yang ia bebaskan dari sekte dan keluarga yang ia hancurkan. Vega dan Venus pun memutuskan untuk bergabung dengan Pasukan Garuda. Perkembangan kekuatan mereka pun tak mengecewakan. Saka berniat untuk menjadikan mereka sebagai pasukan terkuat yang akan menjadi pelindung Alam Kultivator.
Saka juga melihat Tigra dan Gentala tengah melatih Pasukan Garuda, Orion yang tengah berkultivasi karena hampir menembus ranah Mahayana, Sinta yang baru saja keluar dari kultivasi tertutup dan sudah berada di ranah Bumi. Alice juga masih berada di menara jiwa untuk menempa kekuatan jiwanya. Sementara dua pengkhianat sedang merawat kebun eliksir.
Saka tersenyum senang melihat semua orang yang begitu bersemangat untuk menjadi bertambah kuat. Maka ia pun tak ingin kalah. Hadiah kotak semesta dari sistem terlihat sangat menggiurkan hingga ia tak sabar untuk segera membukanya.
Saka langsung saja melesat ke ruang kultivasi dan membuka hadiah dari sistem.
[Ding! Selamat Tuan mendapatkan darah semesta]
[Ding! Selamat Tuan mendapatkan tulang semesta]
[Ding! Selamat Tuan, mendapatkan tubuh semesta]
[Ding! Selamat Tuan, mendapatkan pengetahuan semesta]
[Ding! Selamat Tuan mendapatkan mahkota penguasa]
Semua di tingkat semesta. Senyum Saka semakin melebar dan tak sabar untuk kembali naik ranah.
"Sistem, pasang semua hadiah!"
[Ding! Sistem akan mulai memasang, mohon Tuan tetap menjaga kesadaran]
Satu bulan ....
Dua bulan ....
Tiga bulan ....
Satu tahun penuh Saka menahan rasa sakit hingga menghabiskan dua ratus botol pil pemulih energi. Berkali-kali pula ia hampir pingsan dan menyerah di tengah jalan, tetapi semua itu ia tahan mengingat tanggung jawabnya yang begitu besar.
[Ding! Selamat Tuan, dengan tubuh, tulang, darah dan jiwa semesta, maka Tuan menjadi abadi. Tidak ada yang bisa membunuh Tuan kecuali sang pencipta]
[Ding! Selamat Tuan, telah berada di ranah Saint King tingkat sembilan]
Saka tergeletak di lantai sembari mengatur napas saat satu per satu notifikasi sistem terdengar. Ini gila. Menahan rasa sakit selama satu tahun penuh, ia tak pernah bisa membayangkan akan sanggup melaluinya.
"Sistem, lalu di mana mahkotaku?" tanya Saka saat tak mendapati mahkota di inventory.
[Ding! Mahkota sudah menjadi bagian dari diri Tuan, tidak bisa dilepas, hanya bisa disembunyikan]
Saka meraba kepalanya, ia tak merasakan ada mahkota.
"Mana? Kok nggak ada?"
[Ding! Tuan bisa mencoba merasakan mahkota itu dengan kekuatan jiwa Tuan, Tuan bisa mengontrol mahkota itu, apakah mau ditunjukkan atau disembunyikan]
Saka pun mengikuti instruksi dari sistem, saat berikutnya ia meraba kepalanya dan mendapati sebuah mahkota yang sepertinya sangat elegan. Tak sabar, Saka menuju pojok ruangan, di mana cermin berada.
Sebuah mahkota perpaduan emas dan berlian terlihat sangat megah. Sebuah permata putih besar yang ada di tengah, bisa berubah warna tergantung elemen yang ia gunakan.
Saka terkekeh. "Hehehe, ternyata aku ganteng banget kalau pake mahkota," ujarnya narsis.
Puas mengagumi diri sendiri, Saka pun beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri setelah satu tahun tak menyentuh air.
Dengan perubahan fisik yang didominasi oleh semesta, wajah Saka memang sudah bisa dikategorikan di atas tampan. Ia seperti berlian yang bersinar dan sangat indah.
Saka keluar dari ruangannya dan langsung menghampiri Alice yang berada di danau, tengah bermain bersama Freya.
[Ding! Tuan, sebelumnya sistem harus mengingatkan Tuan untuk tidak tunduk dan berlutut pada siapa pun setelah ini]
Saka membeku, langkahnya pun tertahan dengan mulut menganga. Tak paham kenapa sistem tiba-tiba saja memberikan peringatan aneh.
"Jika aku tidak berlutut di hadapan raja, bukankah aku akan dipenggal?" tanya Saka dengan wajah rumit.
[Ding! Dengan menyatunya mahkota penguasa dengan Tuan, maka alam pun sudah mengakui Tuan sebagai Sang Penguasa Alam. Jika Tuan menunduk kepada orang lain, bisa-bisa mereka akan disambar petir surgawi hingga menjadi debu]
Hiss!
Saka mendesis. Ternyata efeknya begitu besar. Maklum saja, level kepemimpinan paling tinggi yang ia jalani hanyalah menjadi kapten tim Garuda. Tujuannya menjadi jenderal, tapi belum kesampaian malah mati duluan.
Sekarang ia menjadi penguasa, raja dari para raja, pemimpin dari para dewa, dan penjaga alam semesta. Ia harus membiasakan diri dihormati. Berjalan tegak, menatap ke depan dengan bahu terangkat. Namun, Saka tak ingin terlalu pusing. Dengan adanya aura penguasa dan mahkotanya, maka semua makhluk hidup akan tunduk tanpa syarat padanya.
**
Mahkota