Sistem Penguasa Alam

Sistem Penguasa Alam
Ternyata Warisan Dewi


Lima belas menit adalah waktu yang dibutuhkan Saka untuk mencerna semua yang terjadi padanya sekaligus menyusun semua memori yang masuk secara paksa. Saat rasa sakit tak lagi mendera dan semua ingatan baru sudah tersusun rapi, Saka hanya mampu menggeleng tak berdaya.


Dewi Cahaya, adalah Dewi yang ada di Alam Dewa dan berkuasa di Benua Timur. Namun kekacauan terjadi di alam dewa seratus juta tahun yang lalu mengakibatkan banyak dewa dan dewi terbunuh. Dewi Cahaya adalah salah satu dewi yang masih sempat melarikan diri ke alam kultivator sebelum kemudian mati karena luka yang cukup parah.


Saka akhirnya mengerti, pemilik dari goa ini ternyata adalah Dewi Cahaya dari alam dewa.


"Hah, ternyata sangat rumit," gumam Saka setelahnya.


Baru saja Saka ingin menjelajahi taman, tetapi semua tampak memudar hingga Saka tersedot ke ruang hampa sebelum muncul di tempat semula.


"Tuan Muda!" Orion berseru dengan gembira melihat Saka yang kembali. Ia tadi sudah sangat panik dan merasa bersalah karena kehilangan jejak Saka tepat di depan matanya.


"Tenanglah, aku baik-baik saja," ujar Saka dengan senyum kecil.


Ia kemudian beralih melihat ke dalam peti. Di sana terdapat satu buku yang sangat kuno serta sebuah cincin penyimpanan.


Saka meraih cincin penyimpanan dan melihat isinya.


"Kok nggak bisa?" gumam Saka saat tak ada reaksi apa pun.


"Mungkin Tuan Muda harus meneteskan darah ke cincin itu dulu." Orion menimpali.


"Masa iya? Ada cincin penyimpanan yang seperti ini?" Saka melihat cincin itu lekat-lekat. Ia tak pernah tahu ada cincin penyimpanan yang membutuhkan darah untuk membuka segelnya.


"Cincin kualitas tinggi memang dilengkapi dengan segel darah, Tuan Muda!"


Saka hanya mengangguk saja, lalu menggigit jarinya dan meneteskan darah si cincin penyimpanan.


Wush!


Seberkas sinar putih tampak dari cincin itu sebelum Saka akhirnya bisa mengalirkan energi untuk membuka cincin penyimpanan.


"I-ini ...." Mata Saka melotot lebar melihat isi dari cincin penyimpanan.


Jika goa ini saja sudah harta karun dengan banyaknya koin emas, eliksir, dan batu roh berbagai tingkatan, maka yang ada di cincin penyimpanan adalah dua kali lipat jumlah yang ada di goa. Belum lagi berbagai senjata tingkat dewa yang mungkin jika dijual semua Saka bisa membeli seluruh kerajaan Victoria.


"Kak Rion, senjata apa yang biasanya kamu gunakan?" Saka mengalihkan pandang ke arah Orion yang sejak tadi hanya diam menyimak.


"Saya biasanya menggunakan tombak, Tuan Muda!" Orion kemudian mengeluarkan sebuah tombak tingkat surga berwarna hitam dengan banyak lilitan petir yang terlihat hidup.


Saka bergidik, membayangkan disengat petir dengan tegangan tinggi membuatnya ngeri.


"Kak Rion, sepertinya aku punya yang lebih hebat dari itu," ucap Saka sembari mengeluarkan sebuah tombak berwarna putih dengan ukiran emas yang melilit di genggaman, sementara kedua ujung tombak yang runcing berbahan perak.


"Tuan Muda, i-ini senjata tingkat dewa!" Orion terpana dengan betapa elegannya tombak yang dipegang Saka.


"Ini untukmu!"


"Untukku?" Orion hampir tidak bisa mempercayai pendengarannya. Kenapa ada orang yang begitu mudahnya memberikan senjata tingkat dewa secara cuma-cuma?


"Aku lebih suka menggunakan pedang atau pistol, jadi Kak Rion saja yang menggunakan tombak," ucap Saka sembari menyerahkan tombak yang diterima oleh Orion dengan tangan bergetar.


"Sepertinya hari sudah mulai siang, Kak! Aku akan mengambil beberapa eliksir dulu lalu kita keluar."


*


"Bagaimana, Kak? Apakah efek kabut berlaku juga untuk seseorang di ranah Saint King?"


Saat ini, Orion dan Saka sudah berada di luar goa. Penampilan Saka juga sudah berubah seperti semula, hanya bola matanya saja yang tetap berwarna emas.


"Saya benar-benar seperti orang buta, Tuan Muda! Kabut ini terlalu pekat hingga tanganku sendiri seolah tak terlihat, dan persepsiku seperti dihalangi sesuatu hingga tak berfungsi."


Saka hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia semakin penasaran untuk menyelidiki asal kabut yang menyelimuti pegunungan ini.


"Baiklah, Kak! Sekarang tutup matamu!"


Meski bingung, Orion hanya menurut saja dan menutup mata. Saka langsung membawa Orion keluar dari gunung berkabut dengan teleportasi. Berkat tambahan energi mental dari tempat Dewi Cahaya, kini Saka bisa melakukan teleportasi lebih dari 5 kilometer.


"Sudah, sekarang buka mata!"


"Hanya sebuah keberuntungan, sekarang aku ingin mencoba kekuatan di ranah baru. Kak Rion, mari kita ... TERBAANG!" Saka memekik sembari melesat ke udara diiringi dengan cekikian dan perasaan geli dari diri Saka sendiri yang bertingkah bak anak kecil.


Orion pun hanya tersenyum tipis lalu melesat menyusul Saka dan menyesuaikan kecepatan terbang.


Tak membutuhkan waktu lama, Orion dan Saka sudah tiba di pusat kota Tanica. Keduanya turun tak jauh dari gerbang Paviliun Bunga Mekar. Setelah menunjukkan identitas, keduanya langsung menuju ke lantai lima.


"Dirga! Tak kusangka kamu akan kembali secepat ini?" Sofia menyambut di depan pintu. Sempat terlihat kekagetan di wajah cantiknya, sebelum semu merah menghiasi pipinya.


"Aku ada janji dengan Tetua Rama, apa beliau ada di sini?" tanya Saka langsung.


Sofia yang mendengar itu pun mendengkus.


"Huh, jadi kau ke sini ingin bertemu Tetua Rama?" Nada Sofia terdengar sedikit ketus meski sudah ditutupi.


"Kenapa? Apa kau begitu merindukanku sehingga berharap aku ke sini untukmu?" Saka menyeringai. Ia sendiri cukup bingung melihat betapa lihainya dia menggoda perempuan. Padahal saat di bumi, ia terkenal dengan julukan, jomlo karatan. Ah, mungkin saja ini sisa-sisa sifat dari Wisaka, mengingat ia dengan tololnya menjadi budak cinta Alisha Caraka.


"Omong kosong!" sergah Sofia. Meski begitu, wajahnya semakin merah padam. "Tunggu saja di sana, Tetua Rama akan datang sebentar lagi."


Lalu dengan menghentakkan kaki, Sofia masuk ke ruangan lain.


Tak lama, pintu kembali terbuka dan Tetua Rama masuk dengan senyum lebarnya.


"Anak Muda, kau sudah datang?"


"Salam, Tetua!" Rama dan Orion berdiri lalu memberi salam bersamaan.


"Duduklah!"


Mereka bertiga kemudian duduk dan memulai perbincangan.


"Oh iya, Nak Saka! Sebelum memulai ke inti pembicaraan, apakah kau sudah mendengar sesuatu yang terjadi di keluarga Hirawan?"


Saka mengernyit, kemudian menggeleng. "Memangnya apa yang terjadi, Tetua?"


"Keluarga Hirawan sekarang tengah kacau. Kemarin siang, gudang harta keluarga Hirawan ludes diambil oleh Jaila dan anaknya. Sampai sekarang, tidak ada yang mengetahui di mana keberadaan mereka berdua. Bahkan ada rumor yang mengatakan jika Raden Hirawan sebenarnya bukanlah anak biologis ayahmu, dan juga pembunuh ibumu ...." Tetua Rama ragu-ragu untuk melanjutkan.


"Lanjutkan saja, Tetua!"


"Rumornya, Jaila adalah pembunuh ibumu, demi bisa masuk ke Keluarga Hirawan." Tetua Rama berkata pelan, sembari melirik Orion yang sejak tadi hanya diam.


"Ah, maafkan aku, Tetua! Aku lupa belum memperkenalkan kakakku. Ini Orion Dirgantara, kakakku!" Saka yang sempat melihat lirikan Tetua Rama menggunakan waktu untuk memperkenalkan Orion.


"Yang tua ini adalah Tetua Balai Obat yang sekarang menjadi Paviliun Bunga Mekar. Aku sangat tidak menyangka akan bertemu dua genius hari ini."


'Luar biasa, masih sangat muda tetapi sudah berada di ranah yang sangat tinggi. Meski aku tidak bisa melihat ranah kultivasinya, tetapi aura ini bahkan lebih kuat dari aku sendiri," batin Tetua Rama.


"Tetua terlalu berlebihan. Untuk masalah keluarga Hirawan, aku memang baru mendengarnya saat ini. Tapi, apa peduliku? Masalah pembunuh ibuku, aku pasti akan menemukannya meski ia bersembunyi di lubang semut dan membuatnya membayar perbuatan itu berkali-kali lipat." Kilatan dingin tampak di mata emas Saka.


Tetua Rama sempat bergidik sejenak. "Saka, perlu kamu tahu, kakekmu mengerahkan pasukan secara besar-besaran untuk mencarimu."


Saka tercenung. Ia menggali ingatan tentang sang kakek dari ingatan milik Wisaka. Beberapa saat kemudian, ia akhirnya memiliki gambaran tentang sang kakek yang sangat perhatian dan selalu mendukungnya. Bohong jika Saka tidak penasaran kenapa sang kakek sampai mengerahkan banyak orang untuk mencarinya.


"Baiklah, Tetua! Terima kasih untuk informasinya. Ini yang Tetua inginkan kemarin," ucap Saka sambil mengeluarkan dua eliksir yang dia janjikan.


Wajah Tetua Rama tampak sumrigah. "Berapa yang harus kubayar untuk ini?"


"Anggap saja ini hadiah pertemuan kita, Tetua!"


"Hahahaha ... kamu sangat murah hati, Saka! Kedepannya, panggil saja aku kakek." Tetua Rama sangat girang mendapatkan eliksir langka secara gratis.


Saka hanya tersenyum tipis. "Baiklah, Kek! Sekarang aku pergi dulu!"


"Kita ke mana, Tuan Muda?" tanya Orion begitu mereka keluar dari Paviliun.


"Keluarga Hirawan."