Sistem Penguasa Alam

Sistem Penguasa Alam
Memulai Penyerangan 1


[Ding! Tuan, kenapa Tuan tidak membawa Pasukan Garuda saja? Inu waktu yang tepat untuk menunjukkan mereka pada dunia]


Saka terdiam sejenak, menimbang baik dan buruk dari saran yang diberikan sistem.


"Aku memiliki firasat kalau di sekte Bukit Tengkorak juga terdapat portal para vampire, aku takut anak-anak akan terpapar energi kegelapan mereka."


[Ding! Tuan bisa memberikan mereka zirah dewa dan senjata berbahan perak, sistem menyediakan semua itu dengan harga yang terjangkau]


Saka hampir tersedak ludahnya sendiri. "Pada akhirnya, kamu hanya ingin menjual produkmu bukan?"


[Ding! Ini namanya win-win solution, Tuan! Dengan zirah dewa, mereka akan terlindungi dari energi kegelapan, mereka juga tidak akan terluka kecuali lawan mereka berada di ranah Mahayana, ini adalah solusi terbaik dari sistem. Tuan menang, sistem senang!]


"Oalah jan*cok, mulut sales memang tidak ada duanya kalau soal menawarkan dagangannya," gerutu Saka meski setelah itu ia memerintahkan sistem untuk langsung membeli zirah dewa dan memasangkan ke semua Pasukan Garuda.


Setelah berkomunikasi dengan sistem di pikirannya, Saka kemudian menatap tiga orang di depannya.


"Sepertinya aku berubah pikiran. Menghancurkan Sekte Bukit Tengkorak sepertinya adalah waktu debut yang tepat untuk Pasukan Garuda," ucap Saka dengan mata berbinar. Ia langsung melesat kembali ke lapangan diikuti oleh Alice, Vega dan Venus yang masih belum terlalu mengerti dengan maksud Saka.


"Pasukan Garuda, dengar!"


Semua pasukan yang sebelumnya sibuk berlatih langsung menghentikan kegiatannya dan berkumpul di depan Saka dengan patuh, siap mendengarkan arahan.


"Hari ini, aku berencana untuk menyerang Sekte Bukit Tengkorak, tentunya kalian tahu rentang sekte itu bukan?" Saka terdiam sejenak, melihat reaksi para pasukannya yang kini mengepalkan tangan penuh emosi.


"Tuan, beri perintah kepada kami dan kami akan melenyapkan Sekte Bukit Tengkorak!" ujar Ren.


Saka tersenyum tipis. "Aku memang akan menerjunkan kalian ke medan perang. Aku tahu kalian memiliki dendam pribadi dengan sekte itu, tapi perlu aku ingatkan, meskipun marah, kalian harus tetap berpikir jernih, apakah kalian mengerti?"


"Kamu mengerti, Tuan!" jawab mereka serentak dengan semangat membara. Menghancurkan sekte yang sudah membuat mereka kehilangan orang-orang tercinta adalah salah satu motivasi yang membuat mereka terus berlatih keras dan berkultivasi.


"Baiklah, pulihkan diri kalian dengan pil pemulih energi, kalian bisa mendapatkannya di aula istana, sementara untuk senjata, kalian bisa mendapatkannya di gudang senjata. Saat waktunya tepat, aku akan mengeluarkan kalian dari sini dan menghancurkan Sekte Bukit Tengkorak itu," ucap Saka mengakhiri pertemuan itu dan langsung keluar dari dunia cincin bersama Vega, Venus dan Alice.


Suasana di daerah kumuh masih sama, hanya saja karena semua penghuninya sudah berpindah tempat, hanya sepi yang menyapa mereka saat keluar.


"Kita langsung ke Sekte Bukit Tengkorak, aku sudah tidak sabar menghancurkan mereka," ajak Saka yang langsung meminta ketiganya berpegangan tangan. Tahu apa yang akan dilakukan oleh Saka, ketinganya dengan patuh berpegangan tangan lalu memejamkan mata.


Saka tersenyum tipis lalu berteleportasi hingga sampai di dekat kawasan Sekte Bukit Tengkorak.


Vega dan Venus ikut melayang dibantu dengan energi dari Alice dan Saka. Saka juga membuat array ilusi sehingga keberadaan mereka tidak terdeteksi oleh pihak sekte.


"Kalian tunggu di sini, aku akan masuk dan menyelamatkan para tawanan, aku merasakan banyak aura kehidupan lemah di bawah tanah," ucap Saka yang langsung menghilang dengan teknik menyatu alam, tak ada satu pun yang menyadari keberadaannya.


Sepanjang perjalanan, Saka mendapati banyak vampire berkeliaran di dalam ruangan. Kekuatan mereka juga tak bisa diremehkan, yang terendah berada di ranah Raja.


"Jika mereka yang datang ke kota Tanica, bukankah kota Tanica akan kesulitan untuk bertahan?" gumam Saka semakin tak sabar untuk memusnahkan mereka semua. Sayang sekali, ia hanya bisa melawan para petinggi dan membiarkan pasukannya yang maju.


"Dasar biadab!" Saka tak mampu menahan amarah saat melihat tumpukan tulang dibungkus kulit yang menumpuk tinggi bagai gunung di ujung ruangan.


"Tenanglah, aku akan menyelamatkan kalian," ucap Saka saat semua orang menatapnya ketakutan.


"Aku tidak percaya! Apa buktinya kalau kamu akan menyelamatkan kami?" Seorang pemuda yang berusia sekitar dua puluh lima tahun, mendekat ke arah Saka dengan tatapan yang tajam.


Saka tersenyum lembut. Ia memaklumi reaksi ini. Tentunya mereka yang disekap di sini sudah mengalami guncangan mental yang luar biasa melihat satu per satu dari mereka mati mengering.


Tak ingin banyak bicara, Saka membuat array yang memperlihatkan dunia cincin di mana para Pasukan Garuda tengah bersiap untuk berperang. Jubah berwarna emas dan putih dengan sulaman burung garuda di punggung mereka, membuat mereka terlihat sangat mengintimidasi meski masih anak-anak.


"Apa kalian mengenali mereka?"


Beberapa orang semakin mendekat dan mulai menangis saat melihat sosok putra dan putri tercinta mereka.


"Mereka saat ini dalam perlindunganku dan menjadi pasukanku, mereka juga yang akan menghancurkan sekte ini sebagai balas dendam untuk kalian," lanjut Saka yang membuat semua orang mulai berpelukan dan sedikit memiliki harapan.


"Tapi Tuan Muda–" Seorang pria paruh baya menyela.


"Kamu ayah dari Ren bersaudara bukan?" potong Saka dengan senyum tipisnya. "Jangan khawatir, anakmu bahkan lebih kuat darimu sekarang," ujarnya.


Pria paruh baya itu tampak tersenyum haru. Ia sudah cukup depresi mengingat tiga anaknya yang masih kecil dan istrinya yang sakit, sementara dirinya terkurung dengan ancaman kematian.


"Terima kasih, Tuan Muda!" Pria paruh baya itu membungkuk dengan penuh hormat.


"Baiklah, sebelum itu, apakah di sini ada yang ingin mengikutiku? Tentu saja kalian bisa bertemu dengan keluarga kalian setelah ini."


"Tuan Muda, kami akan menjadi pengikut." Hampir semua orang berucap, sementara yang lain ragu-ragu.


"Menjadi pengikutku, kalian tidak diizinkan untuk berkhianat, jadi aku akan memberikan pil pengikat jiwa kepada semua yang ingin mengikutiku. Sekarang pikirkanlah! Aku tidak akan memaksa kalian, tentu saja aku juga akan tetap menyelamatkan kalian dari sini."


Beberapa saat terjadi keheningan. Namun, setelahnya hampir sembilan puluh persen menyatakan kesetiaannya menjadi pengikut Saka, sementara sisanya adalah murid dari sekte aliran putih yang ingin kembali ke sekte mereka. Saka pun tak keberatan, ia membuka ruang untuk mereka kembali ke sekte setelah menerima ingatan tentang lokasi sekte mereka.


Saka pun langsung memindahkan semua orang ke dunia kecil bagian lain. Ia ingin mempertemukan mereka setelah perang usai.


"Urusan tahanan sudah beres, sebaiknya aku menuju gudang harta sekte ini. Akan sangat mubazir jika semua sumber daya musnah karena perang," gumam Saka dengan seringai tipis. "Harta tidak akan berguna untuk orang mati, tapi akan berguna untuk orang hidup. Aku hanya akan memanfaatkan apa yang ada di depanku saja," lanjut Saka yang kini sudah berada di dalam gudang harta, di mana banyak sumber daya kelas tinggi bagi orang biasa, sementara bagi Saka, sumber daya yang ada di sekte ini tak lebih dari seonggok sampah. Hanya koin emas, senjata serta artefak tingkat rendah yang lumayan nilainya, setidaknya bisa ia tukarkan dengan poin sistem untuk membeli sumber daya yang lebih tinggi.


"Sekte Bukit Tengkorak, it's show time!"


**


aku akan tetap update meskipun terseret-seret