
Proses masuk ke kota Ngiwa tak mengalami kendala yang berarti karena Saka menunjukkan lencana Paviliun Bunga Mekar.
"Kita akan ke mana?" tanya Alice yang sebelum masuk ke kota telah mengenakan cadar. Ia tak mau kejadian yang sama di Kota Rogo terjadi lagi di sini. Begitu pula Saka yang mengenakan topeng setengah wajah berwarna emas. Meski begitu, aura yang keduanya tunjukkan tetap saja menarik perhatian banyak orang.
Kota Ngiwa termasuk kota yang cukup besar, sekte aliran hitam dan putih bertebaran menjadi kekuatan yang saling bersaing di kota ini. Namun karena hal itu pula, tingkat kriminalitas di kota meningkat. Beberapa kelompok bandit bahkan tak segan merampok di tengah kota. Apalagi kekuatan Tuan Kota yang seimbang sehingga akan berpikir dua kali untuk memicu peperangan.
"Tuan, tolong ini adalah uang terakhir kami, ibu kami sedang sakit dan kami harus membeli obat untuknya." Seorang pemuda dan anak kecil yang berpakaian kumal memohon dengan air mata berderai kepada sekelompok orang berjubah merah dengan sulaman bergambar binatang ... sapi? Saka memicingkan mata untuk melihat dengan jelas jenis gambar apa yang terdapat di bagian belakang jubah orang-orang itu.
[Ding! Bukan sapi, Tuan! Itu gambar banteng, mereka dari organisasi Banteng Api]
Saka menahan tawa. "Banteng jenis apa yang imut montok berwarna hitam putih? Ini mah sapi perah," gumam Saka sembari menggigit bibir agar tidak tertawa. Namanya saja yang seram tetapi gambarnya sungguh menggelikan.
"Heh, Bocah! Apa yang kau tertawakan?" Tanpa Saka sadari, ada seorang dari kelompok itu yang melihat Saka tengah menahan tawa sembari melihat mereka.
"Siapa? Aku?" tanya Saka polos sembari menunjuk dirinya sendiri.
"Memangnya siapa lagi, di situ hanya ada dirimu." Dengan menahan geram, orang itu menjawab.
"Oh, aku hanya sedang menertawakan gambar yang ada jubah kalian itu," jawab Saka dengan santai.
Orang-orang dari kelompok Banteng Api itu pun melihat gambar di punggung temannya.
"Apa yang lucu, Bocah! Apa kau tidak tahu kami ini siapa, hah?"
"Apa peduliku kalian siapa? Hanya saja gambar itu memang lucu. Kenapa kalian menggambar sapi perah di jubah kalian?" tanya Saka berpura-pura polos.
"Bocah sialan! Apa kau tidak tahu ini adalah banteng api, simbol dari organisasi kami?"
Saka menggeleng secara lambat. "Yang aku tahu, banteng itu menyeramkan dengan dua tanduk yang panjang dan besar dan berwarna hitam, lalu apa-apaan gambar di jubah kalian itu? Imut montok, mana warnanya hitam putih lagi?" Saka berkata dengan nada menghina.
Mendengar hinaan dari Saka, kelompok organisasi Banteng Api itu pun murka, apalagi yang dihina adalah simbol yang menyiratkan betapa ganasnya organisasi mereka dalam beraksi.
"Bocah, sepertinya kamu sudah bosan hidup!" Seorang dari mereka melangkah lebih maju menghadap Saka. Sepertinya dia yang menjadi ketua kelompoknya.
"Masih banyak tempat yang belum kudatangi, masih banyak makanan yang belum kucicipi, dan masih banyak keindahan yang belum kunikmati, kenapa aku ingin cepat mati?" tanya Saka dengan santai.
Beberapa orang yang melihat aksi Saka pun saling berbisik, beberapa ada yang mencibir karena melihat kultivasi Saka yang lebih rendah, beberapa lagi merasa kasihan, sementara yang lain tidak peduli.
"Bocah, aku akan mengampunimu jika kamu bersujud dan menjilat kakiku lalu memberikan seluruh barang berharga milikmu!"
Saka mengangkat sebelah alis dan tersenyum remeh. "Siapa yang meminta pengampunanmu, dasar idiot!"
"Apa katamu?" Wajah pemimpin kelompok itu memerah menahan marah. "Serang dia! Jangan dibunuh dulu karena aku ingin menyiksanya sampai dia mengerti jika kematian lebih baik daripada melawanku!"
Salah satu orang yang bertubuh tinggi berada di ranah Jenderal tahap akhir maju. "Biar aku saja, Komandan! Hanya bocah ranah Prajurit saja berani menghina Organisasi Banteng Api? Biar aku kasih tahu bagaimana rasanya patah tulang." Orang itu melesat dengan cepat dan meninju Saka yang sejak tadi tak berniat menghindar.
"Habis sudah! Bocah itu pasti mati," bisik seseorang yang mengamati.
"Belum tentu, kita tidak bisa menilai akhir sebelum semuanya benar-benar berakhir," sahut orang lainnya yang memakai caping bambu. Sudut bibirnya tertarik ke atas melihat Saka. "Menarik," gumamnya.
Mata semua orang membelalak kaget melihat bagaimana tangan salah satu anggota Banteng Api itu tertekuk tak beraturan, bahkan ada tulang yang menonjol keluar. Darah pun menyembur dan tangannya terkulai begitu saja.
"Apa yang terjadi? Padahal bocah itu hanya diam saja tanpa berbuat apa-apa!" Kerumunan itu gempar, sementara anggota yang lain berwajah muram.
"Dilihat dari pakaianmu, kau pasti Tuan Muda dari bangsawan besar. Tidak heran kalau kau memiliki artefak yang bisa menahan serangan anggotaku. Begini saja, kau akan kulepaskan jika memberikan artefak itu padaku." Sorot serakah tampak do wajah sang pemimpin.
Saka berdecih. "Apa kau idiot? Kau bahkan belum tentu selamat dari sini bagaimana mungkin ingin melepaskanku?"
"Bocah, kau pandai membual! Mungkin artefak milikmu bisa menahan kekuatan ranah Jenderal, tapj tidak dengan ranah Bumi. Terima ini!" Dengan pedang besar yang mungkin beratnya lebih dari 50 kg, pemimpin itu mengayunkannya ke arah Saka.
Tuk!
Mata sang pemimpin membelalak lebar saat melihat serangannya hanya ditahan dengan dua tangan.
"Siapa bilang aku menggunakan artefak?"
Ctah!
Pedang besar itu hancur berkeping-keping.
Pemimpin organisasi itu melompat ke belakang dengan ekspresi ngeri. Pedangnya adalah senjata kualitas tinggi yang bahkan seorang ranah Bumi pun akan membutuhkan usaha yang keras untuk menghancurkannya, tapi kini di depan pemuda lemah itu senjatanya seolah hanya kerupuk yang sewaktu-waktu bisa hancur saat terinjak.
Semua orang yang melihat juga terperangah. Mereka yang awalnya meremehkan Saka langsung lari terbirit-birit karena takut jika Saka akan balas dendam. Seorang pria paruh baya bercaping bambu yang sejak tadi mengamati Saka tersenyum tipis. Merasa semakin tertarik untuk melihat aksinya lebih lanjut.
"Ba-bagaimana kamu bisa menghancurkan pedangku? Itu senjata kualitas tinggi!" Sang pemimpin mulai gentar, ia memikirkan keputusan apa yang harus ia ambil untuk menyelamatkan nyawanya.
"Mudah saja! Pedangmu kualitasnya sangat buruk!"
Pemimpin organisasi itu hampir muntah darah mendengar jawaban Saka. Senjata tingkat tinggi sangat mahal, bahkan jika dilelang bisa sampai puluhan ribu koin emas. Meski kerajaan Victoria terkenal dengan kekuatannya, tetapi untuk bidang penempa, Kerajaan Barsoom lebih unggul. Meskipun sangat jarang ada yang bisa membuat senjata kualitas langit. Senjata kualitas Langit mungkin hanya ada di kerajaan dan sekte besar warisan dari leluhur yang dijadikan sebagai pusaka.
"Bocah, kita tidak ada urusan, kenapa kau mengganggu urusanku?" Merasakan ancaman bahaya dari pemuda di hadapannya, pemimpin itu mencoba untuk berdamai.
"Benarkah? Anak buahmu tadi membentakku," jawab Saka sembari menunjuk salah satu anggota Banteng Api yang gemetar.
Bugh!
"Aku sudah menghukumnya, apakah ini sudah cukup?" tanya pemimpin organisasi setelah memukul anak buahnya.
Saka terkekeh. Ia kemudian melmbaikan tangan, memadatkan elemen angin membentuk gumpalan-gumpalan berwarna putih lalu melesatkannya ke semua anggota Banteng Api.
Bommm!
*
Maaf ya soalnya 2 hari nggak update, aku dilema banget sama alurnya. jujur aja aku nggak jago soal romance, makanya aku mencoba tantangan bikin harem tapi aneh banget masa nggak pernah nemu cewek yang pas buat Saka? Bukannya nemu cewek, yang ada malah ketemu monster atau nggak ya bandit 🥲
ini gimana tulung 🥲