Simpanan Bos Berondong

Simpanan Bos Berondong
Ajakan


Langit kamar terlihat asing ketika Latina membuka mata. Ruangan maskulin yang juga menjadi saksi bisu betapa hangat dan liarnya permainan semalam.


Latina beringsut bangun. Selimut yang menutupi tubuhnya merosot turun, tertarik oleh pria yang tengah mengubah posisi tidurnya. Dean masih enggan bangun. Ia menarik kain tebal itu untuk menutupi tubuh polosnya.


Baju dan sepatu berserakan di lantai. Masih teringat dengan jelas kejadian semalam, di mana napas keduanya saling memburu. Bukan sekali, tetapi sampai keduanya sudah tidak sanggup lagi untuk melakukan adegan mesra itu.


"Dean, ini sudah pagi. Antar aku pulang." Latina turun dari tempat tidur. Mengambil pakaian, lalu meletakannya di sofa. "Di mana tasku?"


Mendengar suara Latina, mau tidak mau Dean membuka mata. Ia sangat lelah, dan masih ingin tidur.


"Kau meninggalkannya di ruang tamu."


"Aku harus menelepon Rael."


"Ya ...." Dean kembali menutup mata. Ia kembali bergelung dalam selimut.


Pakaian pesta ini tidak mungkin dipakai lagi. Latina berjalan ke arah lemari. Menggeser pintu, lalu mengambil salah satu kemeja Dean.


"Setelah dia menyiksaku semalam, dia baru merasakan lelahnya." Latina berdecak. Ia pun terbuai dalam rayuan yang pria itu berikan. Kurang lebih lima tahun. Saat mereka berpisah, ia tidak merasakan lagi kehangatan pria. Tadi malam, sungguh menakjubkan. Dean sama seperti masa lalu, bahkan terlalu liar.


Mandi menjadi tujuan pertama. Setelah membersihkan diri, Latina menelepon Rael. Anak itu sudah jelas mencari keberadaan sang ibu. Setelah dijelaskan dengan siapa ia saat ini, Rael terlihat senang.


"Mom akan datang bersama Daddy, kan? Sore nanti, Rael ingin bermain bola."


Suara Rael begitu lucu untuk didengar. "Iya, Sayang. Mom akan pulang bersama Daddy-mu."


"Bawakan juga es krim dan cokelat. Mom tidak lupa kalau ini hari Minggu, kan?"


Latina tertawa mendengarnya. "Mom akan belikan. Sekarang, Rael sarapan pagi bersama Nenek Eliza."


Anak itu patuh dengan apa yang diucapkan oleh sang ibu. Setelah menelepon, tugas Latina adalah membuat sarapan. Ia langsung menuju dapur milik seorang Dean Cornor.


Dilihat-lihat lagi, Latina merasa rumah ini tidak tersentuh oleh yang namanya wanita. Di kamar mandi Dean juga tidak ada barang yang berbau feminim. Latina sebenarnya ingin bertanya, tetapi Dean masih tidur.


"Aroma roti panggang itu membangunkanku."


Latina menoleh ke belakang. Tukang tidur sudah bangun. "Aku panggangkan dua lembar roti untukmu." Latina berbalik menghadap Dean. "Mau susu atau jus buah?"


Dean bersiul saat melihat baju yang dikenakan Latina. Kemeja yang kependekan dan sempit di bagian depan. Dean menggigit bibir ketika melihat dua tonjolan kecil di balik itu.


"Aku tidak mungkin memakai gaun pesta di pagi hari." Latina sadar kalau Dean memperhatikan dirinya.


"Aku malah senang kau memakai pakaianku."


"Jadi, kau mau minum apa?" tanya Latina.


"Susu!"


"Biar kutuangkan."


Dean menggeleng. Ia berjalan masuk ke sudut dapur, menghampiri Latina. "Biarkan aku minum secara langsung."


"Kau mau apa?"


"Tentu saja menikmati sarapanku."


Pasrah, saat Dean memeluk dan membuka kemeja yang ia pakai. Latina membiarkan kekasihnya itu menikmati setiap jengkal tubuhnya.


"Malam ini, kau ikut denganku."


"Ke mana?" tubuh Latina berguncang hebat karena hunjaman Dean. Ia menahan diri dengan berpegangan pada meja.


"Bertemu dengan kedua orang tuaku."


TBC