
Mobil hitam yang sempat Latina temui di depan gedung sekolah putranya, terparkir di tepi jalan. Penumpang di dalam sana keluar. Dengan senyum mengembang, Fiona berlari kecil untuk dapat menggandeng sang kekasih.
"Kau seperti anak kecil jika menemukan kedai es krim."
Fiona tertawa mendengarnya. "Aku tidak pernah ingin melewatkan es krim di sini. Setiap makan siang atau pulang mengajar, aku akan kemari."
"Ya, aku tahu kebiasaanmu. Tapi, kau bilang ingin makan siang," ucap Dean.
"Setelah kita menyantap es krim dulu."
Dean cuma menggeleng. Lama-lama Fiona sama seperti wanita masa lalunya. Kadang bersikap dewasa dan kadang kekanak-kanakan.
Keduanya masuk ke cafe. Dean mencari tempat di pojok dekat pot bunga. Sementara Fiona pergi mengantri.
Sementara Rael sudah melepaskan diri lagi dari Latina. Ia berlari masuk menuju kedai es krim, dan membuat sang ibu menggerutu karena ulahnya.
"Dia tidak lelah berjalan kaki sampai sini." Meski begitu, Latina senang melihat Rael yang aktif.
Tanpa sengaja, Rael menabrak seorang wanita di depannya. Ia terduduk dan membuat perempuan itu menoleh ke belakang.
"Oh, kau tidak apa-apa?" Fiona menunduk untuk membantu Rael berdiri.
"Maaf, Bibi. Rael tidak sengaja."
Fiona tersenyum. "Tidak apa-apa, Sayang. Di mana ibumu?"
Adegan itu dilihat oleh Dean. Ia tersenyum mendapati Fiona yang kasih kepada seorang anak kecil. Melihat itu, Dean berkeinginan untuk segera menikahinya. Itu masih kehendak. Sejujurnya Dean tidak tahu apakah Fiona adalah pasangan yang pas untuknya. Ia sudah berbohong. Dean menyukai Fiona karena ia mirip dengan Latina.
"Rael!"
Jantung Dean berdegup kencang mendengar suara yang ia kenal. Ia bangkit berdiri dari duduknya untuk dapat melihat siapa wanita yang baru saja masuk.
"Dia tidak sengaja menabrakku dan terjatuh," ucap Fiona.
Latina merasa pernah melihat wanita di depannya ini. Ia ingat sekarang. Perempuan ini yang ia lihat di seberang gedung sekolah Rael.
"Oh, maaf. Rael tadi berlari masuk. Kau tidak apa-apa, kan?" Latina meraih putranya. "Sayang, minta maaf pada Bibi."
"Tidak apa-apa. Ini bukan masalah besar."
"Maafkan aku, Bibi."
Rael mengangguk. "Iya ...."
"Karena kau sangat menginginkannya, aku akan mengalah untuk anak manis sepertimu." Fiona mengatakan itu sembari mengacak-acak rambut Rael.
Sementara yang dipanggil anak manis, merasa tidak senang, dan itu membuat Fiona semakin gemas akan tingkah Rael.
"Maafkan Rael. Dia lebih suka dipanggil jagoan," kata Latina.
"Baiklah, Jagoan. Silakan pergi mengantri lebih dulu."
"Kau sungguh tidak apa-apa?" Latina memastikan lagi.
"Untuk anak se-imut dia, aku akan mengalah."
Latina tersenyum. "Terima kasih ...."
"Latina!"
Seruan itu membuat Latina menoleh ke arah samping. Ia terkesiap. Jantungnya berdetak lebih kencang melihat sosok di depan.
Baru kembali ke tanah kelahirannya, ia langsung bertemu dengan Dean, pria yang merupakan ayah dari anak kandungnya.
"Kau kembali." Dean tidak menyangka jika ia masih dapat bertemu Latina.
"Sayang, kau kenal mereka?" Fiona segera menghampiri kekasihnya.
Pandangan Dean tertuju pada Rael. Ia mengulurkan tangan hendak meraih putranya. "Dia ...."
Latina segera mengalihkan Rael ke posisi belakang tubuhnya. "Lama tidak berjumpa, Tuan Muda Dean Cornor. Kebetulan masih banyak urusan yang belum diselesaikan. Sebaiknya kami lekas pergi."
Bergegas Latina membawa Rael keluar dari kedai es krim itu. Membuat Fiona heran, dan Dean yang tidak ingin kehilangan lagi wanitanya, segera menyusul.
"Latina!" serunya.
"Mom, Paman itu mengejar kita."
TBC