
Di sini lah Jason. Berhadapan dengan Nelis yang bercucuran air mata dalam keadaan berlutut memohon maaf padanya. Jason datang untuk memutus hubungan mereka, tetapi Nelis tidak terima begitu saja.
"Pikirkan anak yang ada di kandunganku, Jason." Isak tangis itu begitu lirih, tetapi belum bisa meluluhkan hati Jason sendiri.
"Aku menyesal." Jason mendongak, menatap langit-langit apartemen, lalu beralih dengan memandang Nelis yang setia menunduk. "Ibuku mengenalkan seorang gadis baik untuk dinikahkan kepadaku, tetapi aku menyia-yiakannya demi wanita sepertimu. Kau ... aku setia dan selalu menuruti apa yang kau inginkan. Tapi kenapa waktu itu kau tidak patuh padaku? Tidak semua bisa aku tolerir, Nelis. Kau sungguh kejam. Karena kau, ibuku tiada."
Nelis mengangguk. Ia mendongak agar dapat memandang Jason. "Ini memang salahku. Tapi ini juga takdir. Mungkin sudah saatnya ibumu dipanggil."
Tidak habis pikir. Masih saja Nelis ini membela dirinya. Jason juga tahu kalau semua ini adalah takdir. Tapi yang menjadi penyebab kematian itu adalah wanita yang ia cintai, dan ia tidak terima itu. Bila Nelis diam saja waktu itu, Jason yakin ibunya masih berada bersama dirinya.
"Sudahlah, Nelis. Aku sudah putuskan untuk mengakhiri hubungan ini. Aku ingin bersama Latina, istriku."
"Kita sudah menjalin hubungan ini begitu lama, Jason. Pertimbangkan itu. Kau mencintaiku, dan tidak semudah itu kau berpaling."
"Sakit hatiku lebih dalam daripada mempertahankan hubungan bersama wanita sepertimu."
"Anakmu, Jason." Nelis masih mencoba untuk menahan kekasihnya. "Apa salahnya?"
Jason mengembuskan napas panjang. Ini juga yang membuat ia kecewa pada Nelis karena telah hamil tanpa persetujuan darinya.
"Dia anakku, dan aku akan tanggung jawab. Aku akan biayai hidupnya, tapi maaf, Nelis. Aku tidak akan pernah menikahimu."
Setelah mengatakan itu, Jason melangkah pergi. Namun, Nelis meraih kakinya. Dengan derai air mata, ia ingin Jason memaafkan segala kesalahannya.
"Jason!" teriak Nelis, disertai dengan tangis.
Jason berpikir bahwa keputusannya ini memang sudah benar. Ia memutus hubungan ini bersama Nelis, lalu kembali pada Latina. Hanya tinggal satu masalah lagi, yaitu Dean. Ya, Jason harus punya cara agar pria itu mau membatalkan kontraknya.
Tidak peduli hal ini menganggu perusahaan nantinya. Uang bisa dicari, tetapi istri seperti Latina sangatlah sulit untuk didapat. Jason menyesal karena selama tiga tahun ia mengabaikan Latina. Padahal apa kurangnya wanita itu? Jason bisa mengatakan kalau dia sempurna. Matanya saja yang terbutakan oleh cinta Nelis sampai tidak bisa melihat berlian di depan mata.
Dalam perjalanan pulang, perasaan Jason menjadi lega. Ia mencoba menghubungi asisten pribadi Dean melalui sambungan telepon.
"Halo, Tuan Sebastian. Ini aku, Jason. Aku ingin bertemu dengan Tuan Dean Cornor." Jason berharap pria ini menyetujui permintaannya.
"Tuan Dean tidak ada di tempat. Dua minggu lagi dia akan kembali."
"Benarkah?"
"Ya, dia liburan bersama kekasihnya setelah itu ada suatu pekerjaan yang harus diselesaikan."
"Baiklah ... tolong kau hubungi aku jika beliau sudah kembali. Aku ingin bicara mengenai perjanjian itu."
Terdengar dari seberang telepon sana yang mengiakan permintaan Jason, dan sambungan percakapan itu pun diputus.
"Aku harus sabar dalam dua minggu ini," gumam Jason.