Simpanan Bos Berondong

Simpanan Bos Berondong
Satu


Entah Latina harus bahagia karena ungkapan hati Dean atau ia merasa telah menjadi seorang wanita perebut. Ia bahagia, lalu bagaimana dengan Fiona? Ia pernah diposisi wanita yang dicampakkan, dan rasanya ini tidak adil.


"Dean, ini tidak benar. Kembalilah pada Fiona." Latina rasa ia harus mengembalikan keadaan seperti semula. Dean bukan untuknya dan selamanya akan begitu.


"Aku mencintaimu. Lalu kenapa kau ingin aku bersamanya?" Dean menatap mata Latina dengan penuh perasaan.


"Dia mencintaimu. Hatinya sakit bila dibuang begitu saja. Aku pernah diposisi itu, Dean. Bahkan lebih parah lagi." Latina membenci masa lalu, tetapi masa itu telah memberinya satu keluarga. Ia memiliki anak laki-laki yang lucu.


Dean tahu ia bersalah karena telah membuang Fiona. Tapi, apa perasaan palsu ini harus terus dipertahankan? Bukankah berpura-pura itu lebih menyakitkan? Ia menjalin hubungan bersama Fiona karena gadis itu nyaman dijadikan tempat curhat.


Tidak ada yang menyatakan cinta. Dean sama sekali tidak pernah mengatakan itu sebelumnya. Yang memulai lebih dulu adalah Fiona, dan Dean tidak tega menolaknya. Ia telah berjanji akan berubah dengan lebih mengutamakan perasaan. Akhirnya, ia menjalin asmara bersama Fiona.


Namun, Dean merasa ini bukan dirinya. Ia tersiksa berpura-pura. Yang ia inginkan adalah Latina. Saat wanita ini kembali, Dean telah menemukan jati diri yang sesungguhnya Ia berani membuang hal yang tidak disukai.


"Kau memikirkan Fiona, lalu bagaimana dengan diriku? Aku mencintaimu sejak dulu, dan aku benci baru menyadarinya."


"Aku harus pulang." Latina tidak dapat berkata apa-apa lagi. Ia sendiri juga bingung harus apa. Sesungguhnya ia pun punya hati pada Dean.


"Kau harus ikut denganku." Dean tidak lagi menarik tangan Latina, melainkan langsung menggendong wanita itu layaknya ia memikul sekarung beras.


Keduanya tiba di depan mobil. Dean membuka pintu, membuat Latina masuk ke dalam, dan ia memasang sabuk pengaman agar sang wanita tidak bisa lari.


"Jangan coba-coba untuk lari."


"Aku benci sifat pemaksamu," kata Latina.


"Aku tidak akan begini jika kau menurut." Pintu mobil ditutup, dan Dean bergegas menuju tempat duduk di sebelahnya.


"Antar aku pulang." Latina berkata begitu setelah Dean masuk.


Bukan ke rumah, melainkan ke tempat yang sama sekali belum pernah Latina kunjungi sebelumnya. Kediaman dari seorang Dean Cornor.


"Aku tidak setuju kau membawaku kemari," kata Latina.


Dean masih saja menutup mulutnya. Ia mematikan mesin, membuka sabuk, lalu keluar. Dean berlari kecil menuju bagian kursi penumpang.


Ia membuka pintu, mengulurkan tangan agar Latina keluar. "Ayo, keluar."


Dalam keadaan kesal, Latina menuruti keinginan pria ini. Dean menekan angka di gagang kunci otomatis. Setelah pintu terbuka, ia membawa Latina masuk.


"Buat apa kau membawaku kemari?"


"Kau masih saja marah padaku. Sebenarnya salahku apa? Aku tidak selingkuh dan aku juga tidak menyakitimu."


"Apa?" Latina terperangah mendengar ucapan Dean. "Kau membeliku dan kau juga berniat menjadikanku simpanan lagi. Sekarang, kau datang, lalu menyatakan cinta padaku."


"Karena aku menyukaimu. Saat Jason datang, aku memanfaatkannya." Dean menghela. "Oke! Aku salah. Saat itu aku belum menyadarinya saja. Terima aku, Latina. Ini juga demi Rael, anak kita."


Latina menggeleng. "Aku tidak bisa menerimamu, Dean."


Dean berjalan mendekat, ia mengulurkan tangan untuk dapat menyentuh wajah manis itu. "Sampai kapan kau akan membohongi dirimu sendiri? Tatap aku, Latina. Kau juga menyukaiku."


Dean mengecup bibir merekah itu. Ia memperlakukannya dengan lembut, dan Latina hanyut dalam buaian sang pemuda. Sudah lama, dan ia ingin merasakan kehangatan itu lagi.


TBC