Simpanan Bos Berondong

Simpanan Bos Berondong
Kehilangan


Dean tidak tahan untuk segera pergi dari pesta ini. Tamu undangan memang sudah pulang, tetapi kedua keluarga serta sahabat masih ingin melanjutkan.


Ruangan dingin ini terasa panas menurutnya. Dean membuka dasi pita berikut dengan jas yang ia kenakan. Kancing kemeja dibuka tiga, lalu mengacak-acak rambutnya.


"Kau kepanasan?" Berlin memperhatikan tunangannya yang sedikit aneh malam ini.


"Ya, aku merasa gerah." Dean meminta pelayan memberinya minum. Ia perlu minuman dingin untuk meredakan amarah.


Dalam hati, Dean tidak bisa mengontrol sumpah serapahnya untuk Latina. Ke mana wanita itu? Beraninya berbohong. Kenapa dia tidak datang? Padahal Latina sudah janji akan menghadiri acara pertunangannya.


Sedari tadi Dean menunggu balasan pesan yang ia kirimkan untuk wanita itu. Namun, hasilnya nihil, bahkan tertanda centang satu.


"Aku ke toilet sebentar." Dean bangun dari duduknya setelah menghabiskan segelas air yang diberikan oleh pelayan.


Berlin mengangguk. "Ya, pergilah dulu."


Ini tidak bisa dibiarkan. Dean harus bisa menghubungi Latina bagaimanapun caranya. Perjanjiannya belum selesai, dan ia masih ingin memberi kontrak baru. Latina juga menyetujuinya. Setelah kontrak ini berakhir, Latina akan bercerai dengan Jason, lalu menjadi simpanannya untuk selama-lamanya.


Dean tidak pergi ke toilet yang ada di dalam ballroom. Ia menyelinap keluar dari sana, kemudian menelepon Latina. Sama sekali tidak tersambung, dan itu membuat Dean tidak bisa menahan diri.


"Sialan! Kau pasti bersenang-senang dengan suamimu itu. Tidak akan kubiarkan."


Tanpa mempedulikan keluarga yang pasti menunggunya kembali, Dean keluar dari hotel. Ia menghentikan taksi, lalu segera pergi. Tujuannya jelas, yaitu kediaman Latina.


Sekitar 45 menit, Dean tiba di kediaman Jason. Sepi, tidak ada mobil suami dari Latina di pekarangan rumah. Namun, Dean tetap berjalan menuju bel.


"Latina!" teriak Dean. Bel ditekan dengan tidak sabarnya, tetapi tidak ada yang membuka pintu. "Sialan! Latina!" Dean sungguh marah. "Kau pasti di dalam!"


Ia terengah-engah. Tubuhnya merosot ke bawah. Lelah juga mencari seseorang yang sebenarnya telah berada dalam pesawat karena Latina tengah di perjalanan menuju Spanyol.


Mobil sedan hitam masuk ke pekarangan rumah. Melihat itu, Dean merasa ada harapan. Latina pasti bersama Jason hingga tidak memenuhi undangannya.


Namun sayang, ketika pemilik mobil itu keluar, Dean hanya melihat Jason seorang. Di mana Latina? Timbul pikiran buruk di kepala Dean.


"Di mana Latina?" Dean bergegas menghampiri.


"Aku tidak tahu. Dia bilang ingin menghadiri acara pertunanganmu, lalu makan malam bersamaku. Tapi, dia tidak datang ke restoran."


"Dia pasti di dalam rumah. Cepat kau buka pintunya!" Dean merasa ada sesuatu terjadi. Mungkin saja Latina sakit, lalu terjebak di dalam rumah. Setahu Dean, Latina memang mengeluhkan nyeri di perut. Asal tahu saja, kalau itu semua hanya kebohongan.


Jason mematuhi perintah Dean dengan membuka pintu rumah. Ia pun cemas karena Latina tidak bisa dihubungi. Saat pintu telah dibuka, Dean yang lebih dulu menerobos masuk.


"Latina!" serunya.


"Duduk saja. Biar aku yang cari." Jason tidak suka tindakan Dean. Sama sekali tidak punya sopan santun saat berada di rumah orang lain.


"Cepat cari. Mungkin dia di kamar."


Jelas Jason juga tahu. Itu sebabnya ia langsung menuju ke kamar. Tapi apa, ketika pintu kamar dibuka, tidak ada siapa-siapa di dalam. Hanya ada kertas bertuliskan dua suku kata yang tergeletak di meja hias.


Jason mengambil kertas itu, lalu membacanya. "Selamat tinggal?"


TBC