Simpanan Bos Berondong

Simpanan Bos Berondong
Berakhir


Berlin butuh bukti lagi. Ia berjalan menuju kamar. Di atas ranjang, Dean masih tidur dengan pulasnya.


Dari aroma ruangan ini, jelas ada tanda dari berdiamnya seorang wanita. Berlin melangkah ke meja rias. Lipstik, bedak tabur serta parfum tergeletak di atas sana.


Lalu, ia berjalan lagi ke arah lemari. Ada banyak gaun malam di dalamnya. Hati ini terasa sesak. Jika ada gaun artinya, Dean dan wanita itu tinggal bersama.


"Dean!" teriak Berlin, dan berhasil membuat pria itu bangun.


"Latina!"


Berlin terkesiap. Ia tidak salah dengar. Tunangannya menyebut nama seorang wanita, tetapi itu bukan namanya.


"Latina? Siapa dia?"


"Berlin! Kau di sini?"


"Katakan siapa dia, Dean? Sejak kapan kau berselingkuh dariku?" Berlin berteriak. Nada tinggi ini sebagai pelampiasan sakit hatinya. "Jadi, kau pergi dari pesta karena wanita itu?"


Dean mengusap wajahnya. "Kau tahu kebiasaanku, kan?"


"Ya, aku sangat tahu. Tapi kau, sudah berjanji untuk berubah. Kau bilang mencintaiku. Kita sudah mau menikah, Dean!"


"Aku tahu. Aku tahu, Berlin!" Dean beranjak dari tempat duduk. "Saat melihatnya, aku menginginkannya."


"Siapa? Siapa wanita itu?"


"Kau juga pernah bertemu dan mengenalnya. Dia Latina."


Berlin terdiam sesaat. Hanya ada satu nama Latina yang ia kenal, yaitu wanita yang merupakan teman dari calon kakak iparnya, Sasa. Tapi, setahu Berlin, perempuan itu sudah punya suami.


"Maksudmu Latina, teman Sasa?"


"Kau bercanda." Berlin tidak dapat mempercayainya. Ia mendekat. "Kau pasti bohong!" Jika benar artinya, saat ia menjumpai Dean dan Berlin di pusat perbelanjaan, sebenarnya mereka berdua tengah kencan. "Sialan!" Berlin melayangkan tangannya ke wajah sang kekasih.


"Aku pantas mendapatkannya."


"Apa kurangnya aku, Dean? Kau lebih tertarik dengan perempuan tua itu?" Berlin melotot. Ia bahkan lebih segala-galanya dari Latina.


"Dia hanya simpanan. Tapi kau, adalah calon istriku."


"Simpanan? Kau bahkan tinggal bersamanya di sini. Kau menghabiskan malam-malammu bersamanya dan kau dengan mudahnya mengatakan kalau aku ini adalah calon istrimu. Kau pikir aku tidak punya perasaan?"


"Lalu kau mau apa?" Dean juga tidak kalah berteriak. "Aku sudah jujur padamu. Kau ingin membatalkan pertunangan ini, silakan. Aku terima itu."


"Ya! Aku memang ingin membatalkan pertunangan ini. Tapi, aku tidak akan membuatmu bersatu dengannya. Kau juga harus menderita. Kita lihat, Dean. Apa yang akan keluargamu lakukan jika sampai hal ini terdengar oleh mereka."


"Ini masalah pribadi kita, Berlin!" Dean tidak ingin sampai hal ini menyeret nama keluarganya. Reputasi mereka bisa mempengaruhi citra perusahaan.


"Hal ini sudah menyangkut keluarga. Kau berselingkuh dariku. Kau pergi di hari pesta pertunangan kita. Kau pikir aku bisa terima? Kau akan terima akibatnya, Dean!"


"Kita bisa bicarakan ini. Dia sudah pergi dari kehidupanku." Dean tidak akan membiarkan ini. Pernikahannya bersama Berlin, bukan hanya sekadar cinta belaka. Tapi, untuk menguatkan posisi keluarga mereka.


"Aku tidak mau tahu!" teriak Berlin. Ia berjalan mundur sampai tubuhnya membentur dinding kamar. Berlin terisak. Ia mencintai Dean, tetapi pemuda itu mengkhianati cinta tulusnya.


"Maafkan aku," ucap Dean.


Kata maaf saja jelas tidak cukup. Beribu kali Dean mengucapkannya, tetap tidak bisa mengubah apa pun.


Ia juga tidak bisa memaksa Berlin karena sebenarnya, Dean juga tertekan menjalin hubungan bersama kekasihnya. Jika Berlin ingin mengakhiri tali asmara ini, maka Dean akan mengabulkannya, meski ia tahu akibat dari ini semua.


TBC