Simpanan Bos Berondong

Simpanan Bos Berondong
Ketahuan


Berlin tidak tahu apa yang terjadi pada Dean. Sejak semalam pergi sampai pagi ini, tuan muda Cornor belum juga kembali. Berlin sudah menelepon dan mengirim pesan, tetapi sama sekali tidak dibalas. Pikirannya berkata dengan sangat jelas. Sebuah perselingkuhan mungkin terjadi.


Bukan Berlin tidak mengetahui jika Dean mempunyai beberapa wanita penghibur. Tapi, semenjak bersamanya, Dean sudah bukan pria seperti itu lagi. Dia adalah lelaki setia.


Ketukan pintu terdengar, Berlin segera beranjak dari duduknya, kemudian berjalan membuka kunci. Ah, pria yang ia suruh mencari keberadaan Dean muncul.


"Kau tahu di mana dia?" Berlin tidak ingin basa-basi lagi terhadap sosok lelaki muda di hadapannya ini.


"Kau menyuruhku mencari Dean, tetapi memberiku hadiah saja tidak mau."


Berlin berdecak. "Gajimu akan aku naikkan dua kali lipat."


"Bukan itu yang kumau."


"Sadar akan posisimu. Kau itu hanya sopir, Luis."


Seorang pemuda dengan mata biru, rambut ikal warna pirang. Dia hanya lelaki sederhana yang bekerja sebagai sopir pribadi Berlin. Nasib mujur menghampiri karena Luis adalah anak dari kepala pelayan di rumah Berlin.


"Dia ada di apartemen. Aku melihat Billy keluar dari sana." Luis menunduk ketika mengatakan posisi Dean. Semalaman ia mencari keberadaan tunangan Berlin ini. Rupanya Luis tidak sengaja menjumpai Billy yang keluar dari gedung apartemen. Billy dan Dean adalah sahabat dekat. Jadi, Luis berkesimpulan kalau Dean ada bersama Billy.


"Apartemen biasa?" tebak Berlin.


"Ya, apartemen itu."


"Kenapa Dean ke apartemen itu? Bukannya dia sudah tidak lagi tinggal di sana?" Berlin tampak berpikir. "Aku akan ke sana. Kau antar aku."


Memangnya Luis bisa menolak? Ia adalah sopir, juga pria yang menaruh hati pada majikannya. Mau apa pun perintah Berlin, ia tetap menurutinya.


Tanpa membuang waktu, Berlin dan Luis segera menuju apartemen. Entah kenapa selama di perjalanan, suasana hati Berlin tidak tenang. Ia takut akan pikiran negatifnya sendiri.


"Cepat sedikit, Luis." Berlin memerintahkan sang sopir untuk mengendarai kendaraan roda empatnya dengan cepat.


"Kau juga tidak bisa masuk ke sana. Kau perlu izin, kan?"


"Siapa bilang? Aku sudah sering ke sana. Penjaga pasti mengenaliku. Kalaupun tidak bisa, ada banyak cara untuk mencapai tujuanku."


Luis pasrah saja. Ia tetap mengantar Berlin ke apartemen Dean. Tiba di sana, benar saja kalau Berlin tidak diperbolehkan masuk awalnya. Berlin menyakinkan penjaga dan penerima tamu, kemudian memberinya sedikit hadiah.


"Kau tetap di sini," kata Berlin, lalu berjalan masuk dalam lift menuju lantai teratas.


Ketika tiba di lantai kamar sang tunangan, Berlin langsung menuju bilik yang ia yakini adalah hunian pria itu.


"Nomor sandinya berapa?" Berlin terdiam beberapa saat, ia mencoba menekan angka yang diingat. Namun sayang, sandi itu gagal. "Aku coba kirim pesan pada Billy."


Beberapa saat pesan yang dikirim Berlin berbalas. Dengan alasan kesehatan Dean, ia mendapatkan nomor sandi itu. Ternyata keliru dua angka dari nomor yang ditekan. Berlin kembali memasukkan kode ke pintu.


"Akhirnya!" Berlin bersorak ketika pintu berhasil ia buka.


Saat ia masuk, Berlin merasa aneh. Ruangan ini, seperti sering dikunjungi. Bahkan ada dua gelas minuman kosong di meja, majalah fashion yang belum tertata, lalu ... mata Berlin melotot saat ia mendapati sebuah gaun di sofa.


"Dia selingkuh dariku."


TBC