
Dean tidak rela harus mengantar Latina pulang ke rumah Eliza, sedangkan ia sudah menawarkan untuk tinggal serumah. Sedetik pun ia tidak ingin berpisah. Memangnya apalagi sekarang? Orang tuanya sudah setuju, dan menemui Eliza tinggal mencari waktu yang tepat. Sabtu depan. Ya, Dean menjanjikan itu.
"Tidak bisa." Latina menyilangkan tangan ke depan. "Aku akan berdiam di tempatmu ketika kita sudah menikah."
"Aku tidak akan sering minta jatah." Dean yakin Latina enggan karena ia terus minta dilayani. Tapi, ini baru sehari mereka bersama, dan bisa dihitung ... ah, tiga kali.
"Sudah terhitung?" Latina menyilangkan tangan. Keduanya bicara di beranda depan setelah mengantar Rael pergi tidur.
"Itu karena aku terlalu lama menyendiri. Jadinya, aku bersemangat." Dean menyengir. Niatnya terlalu mudah dibaca.
"Ah, aku baru ingat ingin bicara padamu."
"Tentang ibuku terhadap Rael?" Dean mengerti karena Latina menginginkan Rael terbiasa sederhana. "Tidak apa-apa, Sayang. Jika kau tidak ingin membuat Rael jadi cucu tersayang, kita bisa memberi ibuku cucu lagi."
Latina terkesiap mendengar ucapan kekasihnya. Umurnya sudah termasuk sangat beresiko jika hamil kembali.
"Dean, umurku ...."
"Kita bisa pakai ibu pengganti. Banyak cara menuju roma." Dean memotong ucapan Latina soal masalah umur. Ia meraih tangan wanitanya, lalu mengecup lembut. "Jangan dipikirkan. Mungkin sekarang kau tengah mengandung."
"Jangan mengada-ngada." Latina mengibaskan tangan. Tapi sesungguhnya, ia pun ingin hamil kembali. "Aku perlu konsultasi bila ingin mengandung lagi."
"Aku ikut. Jangan sampai ketinggalan lagi." Cukup sekali saja, ia dibohongi Latina tentang kehamilan. Bila kekasihnya ini mengandung lagi, Dean ingin menjadi pria siaga. Bukan! Tapi suami siaga. Menikah, lalu Latina mengandung. Ia tidak sabar untuk itu.
"Nanti kalau tiba saatnya. Sekarang, pulanglah. Ini sudah larut malam."
"Serius?" Dean mengerjap beberapa kali. "Kau ingin aku pulang? Kau tidak mau kutemani?"
Latina bergeser maju, lalu mengecup pipi pemuda itu. "Selamat malam."
"Kau tidak bisa lari begitu saja." Dean sigap melingkarkan tangan di pinggang ramping sang kekasih. "Pipi saja tidak cukup." Kepalanya miring. Dean mengangkat dagu Latina, kemudian mendaratkan kecupan di bibir. Dekat, hangat, dan menimbulkan hasrat.
Dean menurunkan tangan Latina, ia menempelkannya di pipi untuk merasakan kehangatan dari wanita itu. "Kita bisa melakukannya di mobil." Dean menaikturunkan alisnya.
"Aku tidak akan bermain di depan rumah. Pulanglah." Latina sampai mendorong Dean.
"Sekali lagi." Dean memajukan bibir.
"Hanya sekali." Latina menuruti keinginan Dean dengan menyatukan bibirnya ke bibir pria itu. Lidah keduanya saling membelit. Mencecap satu sama lain sampai pada permainan ini harus diakhiri.
Sentuhan terakhir diberikan di kening Latina. Menandakan kalau Dean benar-benar menyayangi dan mencintai wanitanya.
"Selamat malam."
Latina tersenyum. "Langsung pulang, Sayang."
Setelah Dean masuk mobil, dan berlalu dari hadapannya, barulah Latina kembali ke dalam rumah. Ia tersenyum. Rasanya ini tidak benar. Dean dan dirinya, bersatu.
"Jadi, kau menerimanya? Eliza menegur.
"Mom!" Latina berlari memeluk wanita tua ini. "Bagaimana menurut, Mom?"
"Kita harus bersiap untuk Sabtu depan. Mom rasa kita mesti belanja. Mengganti piring untuk jamuan makan malam, dan membeli lilin. Bagaimana menurutmu?"
"Ide bagus. Setelah aku pulang kerja." Latina kembali memeluk ibunya.
"Selamat, Sayang. Lihat, Tuhan tidak pernah tidur. Dia membalas semua, setelah apa yang kau lalui."
"Mom benar. Kuharap semua akan berjalan lancar."
TBC