
Sekali lagi Latina bisa membujuk Dean dengan menunjukkan obat-obatan dari dokter. Pemuda itu hanya melihat bagian luar pil itu saja, dan saat Latina mengatakan jika barang ini yang bisa membuatnya membaik, Dean mengurungkan niatnya untuk memanggil dokter.
Lagi pula ia memang tidak sakit. Ini gejala yang biasa dihadapi ibu hamil. Latina perlu meminum vitamin agar ia dan bayinya selalu sehat.
Setelah mengantar kepergian Dean, Latina pun keluar dari apartemen. Ada banyak urusan yang harus dikerjakan karena sebulan lagi, perjanjian bersama Dean akan berakhir. Hari ini ia akan menemui seseorang dan dia lah yang Latina harapkan untuk membantu.
Pukul 10 pagi, Latina tiba di bangunan rumah bergaya klasik. Kedatangannya ini sudah ditunggu, dan langsung saja Latina mengikuti pelayan yang membawanya ke ruang kerja. Di sana seorang pria seumuran dengannya telah menunggu.
"Latina ...." Pemuda itu merentangkan tangan.
Yang dipanggil namanya tersenyum, lalu berjalan mendekat, dan menyambut pelukan itu.
"Terima kasih karena mau bertemu denganku. Kau pria yang sibuk, Harry."
Harry tertawa mendengarnya. "Bukannya terbalik. Kau sibuk dengan kehidupanmu."
Latina menarik diri. Ia menatap Harry. Pemuda ini adalah temannya, dan seorang pengusaha makanan. Punya empat gerai es krim dan restoran. Harry juga memiliki butik khusus pria karena hobinya yang sangat suka mengoleksi sepatu dan jas mahal.
"Aku bawa suratnya. Kau mau beli berapa?"
"Baru datang kau malah menjual perusahaanmu. Andai aku tahu saat itu, kau pasti tidak akan berakhir seperti ini. Kau adalah sahabatku, Latina. Kenapa kau tidak minta bantuanku?"
Latina menggeleng. "Aku tidak mau merepotkanmu dan saat itu kau berada di luar negeri untuk menghibur dirimu sendiri. Aku tidak mau menganggu."
"Aku akan pulang jika kau memberitahuku."
"Ini sudah terjadi, Harry. Sudahlah, lupakan saja. Aku hanya minta kau mengambil alih perusahaan Jason."
"Aku tidak dapat melakukannya. Uangku tidak cukup banyak. Tapi, ayahku bisa." Harry tertawa.
"Bantulah aku." Latina memasang wajah memelas.
"Kau tidak cocok dengan tampang jelek seperti itu. Ayo, kita temui ayahku. Beliau juga sudah tahu kau akan datang."
"Ini akan lebih mudah." Latina tersenyum dan ia bersyukur masih ada orang baik yang membantunya.
Ia akan melakukannya. Menghancurkan Jason sampai pria itu tidak memiliki apa-apa lagi. Rasa sakit ini juga harus dirasakan. Sudah cukup Latina berdiam dan kini saatnya ia menyerang.
"Ongkos taksinya. Terima kasih." Latina segera turun setelah membayar biaya transportasi, dan kedatangannya ini mengalihkan perhatian Nelis serta Jason.
"Sayang ...."
Latina tersenyum pada Jason. Ia menyambut uluran tangan suaminya, lalu memberi kecupan bibir. Di hadapan Nelis, seolah Latina membalas perbuatan wanita itu di masa lalu.
"Nelis, kau mau apa datang kemari?" Latina menyilangkan tangan di perut.
"Aku datang untuk meminta pertanggungjawaban." Nelis mengusap perutnya yang sudah membesar.
"Kau ingin menikah dengan Jason? Kau tahu kalau aku istrinya, dan aku tidak akan mengizinkan itu."
"Di mana hatimu, Latina?"
Latina tertawa. "Pertanyaan ini harusnya untukmu. Di mana perasaanmu waktu itu, Nelis? Sekarang pergilah. Jason memberimu uang setiap bulan karena anak di perutmu. Dia akan tanggung jawab, tetapi tidak untuk menikah denganmu."
"Sayang, biar aku yang mengurusnya." Jason tidak ingin Latina membuang waktu bersama Nelis.
Tiba-tiba saja Latina punya satu ide. Ya, mungkin ini sedikit keterlaluan. Tapi, ia ingin membalas Nelis.
"Jason, aku tidak mau melihat dia. Aku alergi. Bisakah kau mengusirnya?"
Tanpa disuruh, sedari tadi Jason juga ingin mengusir Nelis. Ini dinamakan habis manis sepah dibuang, dan Nelis merasakan itu. Ia diusir oleh pria yang dicintainya.
"Pergi dari sini, Nelis. Aku tidak ingin berbuat kasar padamu."
"Jason, kau tidak lihat kondisiku?"
"Pergi!" bentak Jason.
Nelis terisak. Sudah tidak ada harapan baginya untuk kembali ke sisi Jason. Sang kekasih sudah tergila-gila pada istrinya sendiri.
TBC