Simpanan Bos Berondong

Simpanan Bos Berondong
Surat Medis


Latina kembali menarik tangannya. Jelas itu membuat Dean marah karena apa yang diinginkannya tidak dipenuhi. Namun, sebelum itu terjadi, Latina mengalungkan kedua lengannya di leher pemuda itu, lalu mendaratkan kecupan di bibir.


"Sayang, sebenarnya aku mau bicara sesuatu padamu."


"Aku sudah membuka kancing kemejaku, Latina. Aku sedang berhasrat. Kau malah mengajakku bicara lagi."


"Aku sakit, Dean." Latina melepas pelukannya.


"Kau sakit apa?" Dean memeriksa tubuh wanitanya, lalu menempelkan punggung tangan ke kening Latina. "Kau baik-baik saja."


"Masalahnya perutku."


"Kau sakit perut?"


"Bukan begitu. Setiap kali kita berhubungan, aku merasakan sakit. Aku sudah periksa, tetapi aku belum mengatakannya padamu. Dokter bilang, aku tidak boleh melakukan hubungan suami istri selama dua bulan."


"Dua bulan?" Dean kaget mendengarnya. Ini jarak yang cukup lumayan lama. "Kau bohong padaku, kan?"


"Buat apa aku bohong? Aku bisa menunjukkan surat medisnya. Kau tunggu di sini, biar aku tunjukkan."


"Tidak perlu. Kita langsung ke rumah sakit saja kalau begitu."


Tidak disangka Latina kalau Dean ini begitu pintar. Dia tidak mudah untuk ditipu.


"Ini masih pagi. Ayo, kita ke rumah sakit."


"Masalahnya, kau melakukannya sangat kasar padaku, dan dokter bilang itu baik. Kenapa kau tidak percaya padaku?" Latina memelas.


"Tunjukkan suratnya."


"Kita masuk ke dalam. Kau belum sarapan, kan? Aku siapkan makan untukmu."


Dean mengangguk. Tidak tahu kenapa ia selalu saja menuruti ucapan Latina. Apa karena umur mereka? Sebab itu ada rasa ingin menghormati dari Dean sendiri.


"Kau sarapan dulu." Latina menyiapkan kembali makanan untuk Dean. Untungnya masih ada sisa dari menu masakan yang ia buat.


"Kau tidak menemaniku?"


Latina tertawa kecil. "Jangan manja. Tunggu di sini sebentar. Aku bawakan surat hasil pemeriksaanku dulu."


Dean mengangguk. Membiarkan Latina melangkah ke kamar tidurnya. Apa benar wanita simpanannya ini sakit? Dean sama sekali tidak percaya. Ya, Latina ini sangat sulit untuk ditebak. Bisa jadi wanita itu mengelabuinya.


"Sayang!"


Untung Dean tidak tersedak sosis panggang. Tengah dalam kenikmatan menyantap makanan, Latina malah memanggilnya.


"Ini suratnya." Latina menunjukkan amplop putih.


Dean meneguk jus jeruk yang Latina siapkan lebih dulu, barulah ia mengambil surat itu. "Sebenarnya kau sakit apa, sih? Aku jadi khawatir."


"Baca saja."


Kening Dean berkerut mendapati hasilnya. Latina memang disuruh menjaga diri untuk tidak terlalu sering melakukan hubungan suami istri. Jika pun ingin, harus ada cara dan dilakukan dengan pelan.


"Ini, kita masih boleh berhubungan," kata Dean.


"Memang. Tapi, tidak boleh terlalu sering."


Dean memperhatikan postur tubuh simpanannya ini. "Kau hamil?"


Latina tersentak. "Hamil bagaimana? Aku tidak mau hamil anakmu."


"Baguslah. Jaga dirimu dan jangan sampai hamil. Kau tahu, kan, statusmu?"


"Tidak perlu kau jelaskan. Aku tidak mau mengandung anak dari seorang pria yang membeliku."


Dean bangkit dari duduknya. Ia menelusupkan tangan ke tengkuk wanita itu. Dean mendekat, dan Latina pasrah saja. Keduanya saling menyatukan bibir.


"Tiga kali dalam seminggu," ucap Dean, setelah ia menarik bibirnya.


"Satu kali dalam seminggu."


"Aku akan sering pergi, Sayang. Ayolah, jadi simpananku dan bercerai saja dari Jason."


Latina tersenyum. "Jika kau membantuku, maka aku akan menjadi milikmu."


"Kau serius, kan?"


"Aku sangat serius."


TBC