
Baru tiba di kediaman mertuanya, Charlie meminta Latina untuk meninggalkan Dean. Bukan hanya ayah mertuanya, tetapi semua keluarga. Tidak peduli jika perusahaan yang selama ini Charlie dan Anderson bangun mengalami kebangkrutan. Asal Latina tidak terjerat lagi pada pemuda itu. Bila perlu, Charlie akan berlutut di depan keluarga Cornor.
Latina menggeleng. "Aku sudah menandatangani kontraknya. Aku tidak bisa."
"Kau harus berpisah dari Jason." Meghan mengatakan itu. Ia memang menyayangkan bila pernikahan ini sampai putus, tetapi Jason dan Latina memang harus dipisahkan.
"Aku tidak bisa berpisah dari Jason."
"Jangan khawatirkan kami, Nak. Kami masih bisa membiayai hidup kami sendiri." Anderson menyela.
"Kau masih mencintai suamimu itu?" Giliran Eliza yang bersuara.
"Biarkan ini menjadi urusanku bersama Jason. Aku sangat senang kalian perhatian. Terima kasih dariku untuk kalian."
"Kau tidak perlu khawatir, Latina. Dad akan tinggal bersamaku. Aku akan membiayai masa tuanya jika perusahaan akan diambil oleh Dean Cornor. Kau berhak bahagia." Meghan mencoba membujuk, tetapi Latina tetap pada pendiriannya. Ia tidak ingin berpisah dari Jason maupun Dean.
"Terserah kau saja kalau begitu. Kami sudah berusaha untuk menbantumu. Tapi ... kau sendiri yang tidak mau mendengar."
Latina memeluk Charlie. Ayah mertuanya begitu baik, bahkan sikap ini tidak berubah sama sekali. Ketika ia belum menikah bersama Jason, keluarga mertuanya ini memang baik.
"Aku akan bahagia. Aku janji padamu."
Deringan telepon terdengar. Semua terdiam mendapati Latina yang mengangkat telepon, lalu bicara dengan hati-hati.
"Jason sudah di rumah. Aku harus pulang."
"Anak itu tidak mau kemari!" Charlie tidak tahu sampai kapan kemarahan ini akan berakhir.
"Semuanya, aku permisi dulu."
"Nak ...." Eliza menegur.
Latina menampilkan senyumnya, lalu melangkah pergi. Ia berjalan sampai keluar perumahan. Menghentikan taksi, dan meminta sopir mengantar sampai ke apartemen. Bukan Jason yang menelepon, tetapi Dean.
Angka-angka di pintu ia tekan. Pintu otomatis itu terbuka, dan dengan menyembunyikan kekesalannya, Latina melangkah masuk. Ia menampilkan senyum palsunya, tetapi mendapat tawa dari Dean.
"Sayangku, aku tahu kau marah. Ini sudah malam, dan tugasmu adalah melayaniku. Aku sudah memberimu waktu siang tadi," ucap Dean sembari meneguk minuman beralkoholnya. "Oh, ya, aku turut berduka."
"Kau tidak pernah makan malam bersama keluargamu? Ini juga hari libur, apa kau tidak bersama kekasihmu?"
"Pertama, ketika bersamaku, kau jangan pernah menyebut nama keluarga. Kalau untuk Berlin, aku sengaja menyuruhmu kemari karena dua minggu kemudian, kita tidak bertemu."
"Oh, ya?" Latina senang mendengarnya. Dua minggu tidak bertemu Dean, ini jackpot.
"Kau sungguh tidak menyukaiku rupanya. Kau tampak senang sekali." Giliran Dean yang kesal karena perubahan dari wajah Latina.
"Itu hanya perasaanmu. Kau mau ke mana selama dua minggu?"
"Satu minggu liburan bersama Berlin dan satu minggu-nya lagi, aku harus bekerja di luar kota."
Latina langsung duduk di pangkuan Dean dan membuat pemuda itu kaget. Tiba-tiba saja Latina bertindak manja begini. Tapi, Dean suka ini. Ia melingkarkan kedua tangan di pinggang wanitanya.
"Kau tidak lupa janjimu padaku, kan?"
"Janji yang mana?" Dean mencoba menggodanya.
Latina berbisik, "Kau tahu apa yang kumaksud."
"Untuk ini aku harus pergi. Kau akan mendapatkan semua yang kau inginkan. Tapi ... layani dulu diriku."
"Aku tidak sabar melihat kehancuran Jason."
TBC