Simpanan Bos Berondong

Simpanan Bos Berondong
Kehidupan Baru


Selama setahun terakhir, Dean sudah mencari keberadaan Latina. Namun, sama sekali tidak membuahkan hasil. Sudah cukup baginya. Untuk apa menghabiskan waktu jika wanita itu sendiri tidak ingin ditemukan.


Dean yakin ini bukan soal cinta, tetapi satu keputusan di mana ia tidak terima ditinggalkan begitu saja oleh seorang wanita. Bahkan demi menemukan Latina, ia tidak memblokir kartu hitam yang sempat ia berikan. Berharap satu hari nanti Latina mengunakannya agar ia bisa melacak di mana keberadaan wanita itu.


Namun, Latina sangatlah berhati-hati. Satu celah pun tidak ia berikan untuk siapa saja yang ingin menemukannya.


Waktu terus berlalu dan Dean harus melanjutkan hidupnya. Begitu juga Jason yang mulai bangkit membuat perusahaan baru dari uang pemberian orang tuanya. Syarat dari itu semua adalah ia harus menandatangani surat perpisahan. Ia dan Latina sekarang hanyalah mantan.


Sementara Dean, setelah putus dari Berlin, ia menjalin hubungan dengan beberapa wanita, tetapi bayang-bayang Latina tentu saja belum bisa ia lupakan.


Dering telepon berbunyi. Dengan malas Dean mengangkat dan mendengar suara sang sekretaris. Ada seseorang yang ingin menemuinya di jam kerja seperti ini.


"Suruh masuk saja ke ruanganku." Dean langsung menutup teleponnya. Ia melihat jam dinding, dan ternyata 10 menit lagi waktu istirahat tiba. Pantas saja kekasih barunya ini datang ke kantor.


Tidak lama Dean mendapati suara ketukan pintu. Ia menyuruhnya masuk, dan menyambut seorang wanita cantik yang sudah enam bulan ia pacari.


"Aku bilang tidak perlu repot untuk datang membawa makan siang." Dean mengecup pipi Fiona, lalu menyuruhnya duduk di sofa.


Berbeda dari gadis yang ia pacari atau jadikan simpanan, Fiona ini adalah wanita sederhana yang bekerja sebagai guru di sekolah dasar.


Keduanya bertemu tanpa sengaja. Waktu itu mobil Dean mogok tepat di depan sekolah Fiona. Keduanya berkenalan, lalu Dean merasa nyaman berada di dekat Fiona. Baginya wanita ini mirip seperti Latina.


"Kau bekerja terlalu keras. Aku tahu kau bahkan sering melewatkan makan siang."


"Baiklah. Aku akan menurutimu. Berikan makanan yang kau buat itu."


Dengan senang hati, Fiona menyajikan makanan yang telah ia buat untuk Dean. Ini bagai mimpi dan ia sungguh tidak menyangka bisa menjadi kekasih dari seorang tuan muda.


"Ini enak." Dean mengakui itu.


Fiona tersenyum. Ia cantik dengan bola mata kecoklatan. Rambut hitamnya panjang selalu terurai. Tubuhnya tinggi langsing, dan selalu memakai pakaian yang tidak terlalu menonjolkan bagian tubuhnya. Fiona definisi wanita anggun.


"Malam ini mau keluar? Aku akan menjemputmu," kata Dean.


"Apa aku bisa menolak?"


Dean tertawa. "Kau tidak bisa menolakku."


"Aku akan menunggumu nanti."


"Bersiap saja. Kita makan malam bersama."


Empat tahun berpisah dari Latina, bukankah saat ini Dean harus membuka lembaran baru? Ya, baginya Fiona adalah sosok yang pantas menjadi pendamping. Usia mereka juga sebaya. Sama-sama berusia 32 tahun.


Sementara di belahan dunia lain, Latina tengah berbahagia dengan kehidupannya yang baru. Ia punya putra tampan yang kini berusia hampir empat tahun.


"Mommy, kapan kita akan bertemu Daddy?"


Ya, Latina sudah tahu kalau Rael akan bertanya tentang masalah ini. Terlebih putranya sudah masuk sekolah, dan otomatis pertanyaan tentang sosok ayah akan muncul begitu saja ketika Rael melihat teman sebayanya diantar oleh ayah serta ibu.


"Sayang, Daddy bekerja di tempat yang jauh. Suatu hari nanti, Daddy pasti pulang." Ya, pulang, bahkan Latina sendiri tidak tahu harus memberi alasan apalagi setelah ini.


TBC