
Ini sungguh di luar dugaan Dean. Di lantai dansa, ia melihat Latina tengah menyatukan bibir bersama pria lucu. Maxon, lelaki berambut keriting, dan punya warna mata kehijauan.
"Dia serius?" Dean menggeleng seakan semua ini tidak nyata. Tapi, ia malah melihat Latina membuktikan ucapannya.
"Kau kenal kekasihnya?" Fiona pun penasaran karena reaksi Dean yang seolah kaget.
"Ya, tadi siang kami bertemu."
"Benarkah? Jadi, kau jalan bukan hanya bersama putramu, tetapi Latina dan kekasihnya juga?"
"Hanya kebetulan dan dia bukan kekasih Latina. Mereka rekan kerja."
Fiona tersenyum, kemudian kembali memandang Latina dan Maxon yang berdansa. Pria itu merangkul pinggang, dan mereka saling menempelkan kening. Ya, alunan musik tiba-tiba berubah menjadi sangat romantis.
"Mungkin tadi tidak, tetapi sekarang iya. Mereka serasi."
Mendengar ucapan Fiona, sungguh membuat Dean tidak nyaman mendengarnya. Ia ingin berteriak pada kekasihnya ini, mengatakan kalau Maxon itu bukan pacar Latina, dan hubungan itu tidak akan pernah terjadi.
Irama musik yang tadinya pelan berubah lagi dengan tempo cepat. Lagu yang mengisyaratkan pengunjung untuk menggerakan tubuh mereka dengan lincah.
"Tarianmu keren," ucap Maxon.
"Ya, ampun. Kau tahu, Maxon. Harusnya aku memikirkan ini. Berkencan dengan banyak pria dan melupakan semuanya."
"Astaga. Sepertinya kau punya masalah dalam hidupmu."
"Tahun-tahun yang buruk. Aku selalu menolak kemari bila diajak teman-temanku. Aku ingin menjadi istri yang baik, tetapi suamiku malah mengkhianatiku."
"Kau bisa menceritakan itu nanti padaku. Saat ini, kita nikmati dulu hiburannya." Maxon memutar Latina, lalu memeluknya dari belakang. Detik itu juga, ia merasakan tubuh Latina berjengkit kaget. "Ada apa?"
"Itu Dean Cornor?"
Dunia ini memang sempit ternyata. Bisa-bisanya malah bertemu dengan Dean dan Fiona.
Maxon melepas pelukannya. "Ya, itu mantanmu, kan? Bagaimana kalau kita mengajaknya bergabung?"
"Apa?"
Sebelum Latina menolak, Maxon sudah lebih dulu meraih tangannya. Membawanya ke hadapan Dean, dan tidak tahu mengapa ada rasa bersalah seolah Latina tengah berselingkuh saat ini.
Dean mengangguk. "Tidak sangka dapat ketemu lagi. Juga kaget mendapati kalian bersama. Sedari tadi, kami memperhatikan loh."
"Nona Latina, dia kekasih Anda?" tanya Fiona.
"Begitu, ya. Kami tidak melihat kalian." Maxon jadi salah tingkah, sedangkan Latina tidak ingin menjawab pertanyaan Fiona.
"Kalian sama-sama sibuk." Dean tertawa kecil.
"Kalian berdua juga senang-senang, kan?" Latina melihat Dean dan Fiona secara bergantian. Ia menampilkan senyum dipaksakan. "Kalau begitu, nikmati saja. Kami kembali ke meja dulu. Ayo, Maxon. Jangan menganggu mereka."
"Kalian tidak ingin minum bersama kami dulu?" Dean menawarkan.
"Maaf, Tuan Dean. Sepertinya kami harus pulang." Sekali lagi Latina mengajak Maxon pergi dan pria itu menyetujuinya.
"Kami permisi dulu kalau begitu." Maxon melambaikan tangan sebagai perpisahan.
Lebih baik menghindar. Latina sungguh tidak nyaman bila harus duduk bersama pasangan kekasih itu.
"Yakin ingin pulang sekarang?" Maxon bertanya setelah mereka keluar dari Dizzy Club.
Latina tersenyum. "Terima kasih sudah mengajakku kemari. Sepertinya aku memang harus pulang."
"Tidak ingin menikmati roti panggang. Aku tahu tempat yang menyajikan makanan enak itu."
Latina tertawa, lalu mengangguk. "Boleh juga. Setelah ini, kita pulang."
Ternyata berkencan dengan teman kerja sendiri juga sangat menyenangkan. Maxon nyaman diajak bicara, dan Latina suka keramahannya itu. Setelah menikmati roti panggang, Maxon mengantar Latina pulang lebih dulu.
"Sampai ketemu nanti. Biar aku yang bayar taksinya."
"Aku jadi tidak enak. Lain kali aku yang traktir." Latina melambaikan tangan, dan mobil angkutan warna kuning itu kembali jalan.
Taksi pergi digantikan dengan mobil sedan hitam. Dari brand-nya saja, Latina tahu kalau pemiliknya adalah orang kaya. Benar saja, Dean muncul tepat di depannya. Pria itu keluar dari mobil dengan tampang tidak mengenakan.
"Kencan yang menarik."
TBC