
Bagi Latina ini mungkin anugerah, tetapi tidak bagi Jason. Bila perlu ia ingin istrinya dan Nelis mengalami keguguran. Mungkin Jason bisa disebut kejam. Namun, tanpa anak, maka semua akan berjalan lancar. Ia bisa kembali pada Latina dan meninggalkan Nelis tanpa harus bertanggung jawab pada wanita itu. Jason jelas kecewa pada tindakan mantannya, dan tidak mau kembali bersama.
Sampai di rumah, suasana hati Latina sangat baik. Ia memasak demi merayakan penyambutan buah hatinya, dan anehnya ia tidak mengalami mual. Sepertinya sang bayi juga ingin disambut.
Lain hal dengan Jason. Ia tampak tidak senang. Belum masalah perusahaan, sekarang ditambah dengan kehamilan istrinya. Kepalanya mau pecah memikirkan ini.
"Jason, coba kau cicipi daging ayamnya. Ini enak sekali."
Kebetulan Jason duduk di ruang makan. Tubuh pria itu memang ada di sana, seolah memperhatikan Latina memasak. Namun, pikirannya ke mana-mana.
Tidak ada tanggapan dari suaminya, Latina pun kembali memanggil pria itu. "Jason!"
"Iya, ada apa?" Jason kaget.
"Kau melamun, ya? Aku menyuruhmu mencicipi makanan ini."
Jason mengusap wajahnya. "Maaf, Latina. Sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan padamu. Ini mengenai perusahaan."
"Ada apa?"
"Aku mengalami kerugian dalam usaha."
Bukannya prihatin, Latina berucap syukur dalam hati pada musibah yang dialami Jason. Ia hanya berpura-pura menunjukkan wajah sedih saja. Latina yakin jika ini ulah dari Dean yang ingin membantunya.
"Sayang, aku bisa membantumu lagi. Kita pinjam uang saja kepada Tuan Dean."
"Aku tidak mau." Jason menggeleng. "Aku ingin kau bebas. Bukannya, malah terus menjerumuskanmu bersamanya."
"Kau serius?"
Jason mengangguk. "Aku ingin semuanya diulang, Latina. Aku sadar kalau aku telah menyia-yiakan dirimu."
Latina tersenyum. "Terima kasih, Jason. Lupakan soal ini. Masakannya sudah jadi. Kita makan dulu."
Mudah sekali Jason berkata demikian. Latina tidak heran karena suaminya adalah pria paling buruk yang pernah ia kenal. Masih banyak waktu. Latina hanya menunggu saat itu tiba.
Tetap saja Jason butuh suntikan dana dari pemodal. Dua minggu kemudian Dean pulang, dan ia jelas ingin bertemu simpanannya.
"Kau ingin Jason bangkrut bukan?"
"Bukan bangkrut, Sayang. Tapi aku ingin dia menandatangani surat pengalihan properti. Aku ingin menipunya, seperti dia menipuku dulu."
Dean mencolek dagu wanitanya. "Jangan khawatir, aku akan buat itu terjadi."
"Bantulah dia sekali lagi, Sayang." Latina mendekatkan wajah, lalu mengecup bibir pria itu.
"Tergantung kau melayaniku malam ini."
"Kenapa kau tidak pernah puas padaku?" Latina mencubit bagian kecil dari tubuh bidang itu.
Dean terkekeh. Hasratnya naik ketika Latina menyentuh bagian sensitif dari seorang pria. "Oh, ya, aku lupa memberitahu sesuatu."
"Apa?"
"Aku akan dijodohkan dengan Berlin."
"Kau, kan, memang pacaran dengannya. Itu bukan perjodohan, tetapi peresmian hubungan," kata Latina.
Dean terkekeh. Ia memeluk Latina. "Kau tahu, Sayang. Aku ini pria yang tidak suka berkomitmen. Dalam arti, aku tidak mau ada pernikahan. Hidupku ini bebas."
Ini dapat dimengerti karena kebanyakan pria seperti Dean tidak ingin menikah. Bukan hanya pria, wanita pun kadang demikian. Tapi tidak dengan Latina karena ia menganggap satu pernikahan itu sakral.
"Kau bilang tidak ingin berkomitmen, tetapi kau menjadikan Berlin kekasihmu."
"Kau cemburu?" Dean mulai menyentuh leher jenjang itu.
"Sama sekali tidak."
"Kau akan mendapat balasannya karena berkata demikian." Dean langsung menjatuhkan Latina di atas tempat tidur.
TBC