
Drama apalagi ini. Latina sama sekali tidak menyukainya. Salah paham bagaimana maksud dari pemuda ini? Dean sungguh tidak dapat dimengerti.
"Coba kau jelaskan." Latina ingin mendengar pembelaan itu.
"Kau bertanya apa aku ingin anak, kan? Kau bertanya begitu ketika kita baru kenal. Saat itu aku sudah memiliki Berlin. Lalu, jawaban apa yang harus kuberikan?"
Dean ingat tentang pertanyaan itu dan ia menjawab dengan apa adanya. Seorang anak yang lahir dari wanita simpanan tidak akan diterima oleh keluarga Cornor. Itu sebabnya, ia mewanti-wanti Latina untuk mengonsumsi pil kontrasepsi.
Terlebih status Latina juga merupakan istri dari Jason, dan waktu itu Dean hanya berpikir kalau ia akan melepas Latina setelah perjanjiannya selesai.
Siapa yang sangka seiring waktu berjalan, Dean merasa nyaman dengan kehadiran Latina. Mereka pun jarang bertengkar, kecuali kecemburuan Dean saat melihat Jason menyentuh istrinya sendiri.
Tidak pernah terpikirkan kalau Latina hamil. Jika waktu itu ia peka, mungkin keadaan ini bisa berubah. Selama ini, Dean sudah mencari keberadaan wanita yang ia sukai. Namun, usahanya belum keras dan tidak membuahkan hasil. Ia pun menjalin cinta bersama Fiona yang menurutnya mirip seperti sang wanita simpanan.
"Sekarang apa maumu? Ingin menjadikanku simpanan lagi?" tanya Latina dengan tatapan tajamnya.
Dean menggeleng. "Hanya ingin berhubungan baik bersamamu."
Tidak sesuai dengan apa yang Latina pikirkan. Bukankah tadi Dean mengatakan jika masih ada semalam lagi untuk mereka bersama? Sekarang Dean tidak menyinggung masalah ini.
Bagi Dean, ia pun tidak bisa meminta Latina untuk bersama. Dari awal, ia hanya menyimpan perasaan suka, bahkan tidak berani menyebut itu cinta. Sementara waktu itu, Latina patuh padanya karena perjanjian saja.
"Aku tahu kau menganggapku pria berengsek karena telah menjadikanmu simpanan." Dean menatap Latina lekat. Ia kehabisan kata. Bagaimana menjelaskannya? Sejak pertama bertemu, Latina sudah mencuri perhatian. Dean menginginkan, dan Jason menawarkan. "Demi anak itu. Kumohon. Dia anakku juga, kan?"
Latina pun ingin sekali mempertemukan Rael dengan Dean, dan memperkenalkan mereka berdua. Haruskah, ia menjalin hubungan pertemanan demi anak mereka? Latina dilanda kebingungan sekarang.
"Maksudmu?" tanya Dean.
"Rael hanya akan memakai nama belakangku. Kau juga tidak boleh mengambilnya, dan setiap ingin menemui putraku, kau harus izin dulu tentunya."
Dean mengerti apa yang Latina maksud. "Oke! Aku akan siapkan pengacara."
Latina mengangguk. "Kau pergilah. Maksudku, tunggu sampai kita sepakat dulu, baru kau boleh menemui Rael."
Saat ini, Dean tidak bisa protes, meski ia ingin sekalipun. Latina sudah melunak dan mau mengizinkannya bertemu Rael. Yang diperlukan hanya sabar sampai waktu itu tiba.
Dean mengangguk. "Baiklah, aku pergi. Tapi, kau harus memperkenalkan diriku pada Rael."
"Butuh waktu. Aku akan pelan-pelan memperkenalkan kalian."
Meski kecewa, tetapi Dean tetap menerima. Semua butuh proses dan waktu. Tidak bisa langsung. Mereka juga harus bicara, memberi alasan kepada Rael akan kondisi orang tuanya.
"Aku pulang." Dean mundur beberapa langkah dengan pandangan tidak lepas dari Latina. Berharap ada panggilan mencegah. Namun sayang, itu hanya angan saja. Karena Latina langsung masuk dengan menutup pintu rapat.
"Latina, siapa yang datang?" tanya Eliza.
Latina mengembuskan napas, lalu memandang Rael yang bermain bersama Verhaag. "Ayah Rael."
TBC