Simpanan Bos Berondong

Simpanan Bos Berondong
Memberitahu Rael


Latina kira Dean akan menjadi keras kepala saat ia menelepon, meminta pria itu membawa pulang Rael.


Ayah dari putranya ini patuh, dan Latina rasa karena adanya kesepakatan itu. Atau mungkin Dean memang telah berubah menjadi lebih baik karena seingat Latina, pemuda ini sangat tidak ingin miliknya diambil.


"Terima kasih sudah mengantar." Latina tersenyum seraya meraih Rael ke sisinya.


Dean memaksakan senyum terbit di bibirnya, padahal dalam hati, ia menggerutu akan sikap mantan wanitanya. Karena Latina sudah berkata demikian artinya, ia dilarang untuk masuk rumah.


"Aku pulang kalau begitu." Meski begitu, Dean masih berharap agar bisa bicara lagi bersama Latina.


"Sampai jumpa lagi, Paman Dean." Rael melambaikan tangan.


"Minggu ini Paman akan menjemputmu."


"Rael harus istirahat, terima kasih sudah menjaganya." Latina mengakhiri pertemuan ini, dan Dean yang tidak dianggap lagi keberadaannya, memutuskan pergi.


Buah kesabaran Latina terbayar. Meski tidak dapat bekerja sebagai pegawai bank lagi, ia diterima sebagai jurnalis majalah keuangan.


Menurut Latina, ini sama saja. Pekerjaannya nanti adalah menulis artikel tentang keuangan. Apa salahnya dicoba? Latina rasa ini merupakan satu tantangan.


"Kenapa Mom terus tersenyum?" Rael menegur.


"Mom dapat berita baik. Mulai besok, Mom akan bekerja di kantor baru." Latina bersorak saking senangnya.


"Wow! Mommy hebat." Rael mengecup pipi sang ibu sebagai ucapan selamat.


"Rael sayang, apa kau menyukai Paman Dean?"


"Ya, Rael suka. Tadi siang Paman Dean mengajak Rael ke taman. Kita juga makan es krim." Rael lekas menutup mulutnya karena ia telah berbohong. Janjinya hanya makan makanan manis di hari Weekend.


"Mom akan memakluminya untuk hari ini."


"Janji! Rael tidak akan mengulanginya."


Latina tidak tahu bagaimana cara mengatakannya. Ia ingin menjelaskan sesuatu kepada sang anak. Satu pengakuan yang selama ini tidak sanggup ia ungkapkan. "Sayang, Mom dan Paman Dean, dulunya pasangan."


Mata Rael berkedip. Ia terlihat bingung. Latina sudah duga jika anaknya tidak akan mengerti dengan situasi ini.


Menyerah sudah. Rael tidak akan mengerti jika tidak dikatakan secara langsung. Latina menghela napas panjang, lalu mengembuskannya secara perlahan.


Seraya menatap Rael, ia pun berkata, "Paman Dean adalah Daddy Rael."


"Daddy?" Rael membuka mulut. "Mom dan Paman Dean pacaran? Seperti Paman Harry dan Bibi Manda? Dia akan jadi Daddy Rael?"


Latina menggeleng. "Dulu, Mom dan Paman Dean pacaran. Lalu, kami memilikimu. Mom marah padanya, kemudian pergi dengan membawamu."


"Jadi, Rael punya Daddy dan itu Paman Dean?"


"Iya, Sayang. Paman Dean adalah ayahmu."


Rael malah melompat kegirangan. "Rael punya Daddy!"


Betapa polosnya Rael. Entah ia mengerti dengan keadaan ini atau tidak, tetapi anak itu bahagia telah memiliki seorang ayah.


"Kenapa Dad tidak tinggal di sini?"


Sudah Latina duga jika ini tidak semudah kelihatannya. "Sayang, Mom dan Dad bertengkar. Kami memutuskan berpisah."


"Kenapa tidak baikan saja?"


"Kami menjadi teman. Suatu saat nanti, kau akan tahu semuanya." Latina melihat jam beker yang terletak di meja lampu tidur. "Sudah waktunya tidur."


"Apa tidak menelepon Daddy dulu?"


"Buat apa?" tanya Latina.


"Kita ucapkan selamat tidur. Ayo, Mom. Teman-teman Rael bilang kalau mereka mendapat ucapan selamat tidur dari ayah dan ibu."


"Ini sudah larut, Sayang. Mom rasa Daddy-mu sedang beristirahat."


Rael tampak kecewa. Melihat itu, Latina luluh. Ia meraih telepon di meja, lalu men-dial nomor Dean. Tidak lama, panggilan itu terjawab. Namun, yang terdengar bukan suara Dean, tetapi perempuan.


TBC