Simpanan Bos Berondong

Simpanan Bos Berondong
Rumah


Selama tiga bulan persiapan akhirnya, Latina berhasil membawa pulang ibu juga putranya ke Amerika. Ia merelakan pekerjaan bagus di Palma, dan bersedia memulai kehidupan baru di kota kelahirannya.


Ia rindu pada negaranya. Namun, ada ketakutan juga yang melanda. Jason serta Dean. Rasanya belum sanggup untuk bertemu dengan mereka.


"Paman Harry!" Rael berlari menghampiri pemuda yang merupakan sahabat dari sang ibu.


"Dia siapa?" seorang wanita menegur.


"Anak dari sahabatku." Harry meraih Rael dalam gendongannya. "Kau selalu suka membuat ibumu khawatir. Kau lihat ibumu itu." Harry menunjuk ke arah depan.


Yang dikatakan Harry memang benar. Latina tidak sadar Rael terlepas dari tangannya, dan sekarang panik mencari.


"Latina!" seru Harry.


Wanita itu menoleh. "Astaga, Rael!"


"Di mana Rael?" kata Eliza.


"Lihat, Mom. Rael sudah bersama Harry."


Eliza tertawa. "Cucuku itu ... dia memang suka membuat ibu dan neneknya khawatir."


Latina datang dengan memeluk Harry. Sahabat yang selama ini membantunya, dan Latina tidak tahu bagaimana cara untuk membalas semua kebaikan sahabatnya ini.


"Selamat datang kembali."


"Terima kasih." Tangan Latina terangkat untuk mengambil sang buah hati, tetapi Rael enggan untuk bersama ibunya. "Ayo, Rael!"


"Tidak mau." Rael menggeleng.


"Biar saja. Aku juga rindu Rael. Oh, ya, kenalkan wanita di sampingku ini."


"Dia pasti kekasihmu." Latina mengulurkan tangan lebih dulu. "Halo, aku sahabat Harry."


"Manda ...." Wanita itu menyambut uluran tangan Latina. "Ya, benar. Aku kekasihnya Harry."


"Syukurlah. Aku kira sahabatku ini akan terus melajang."


Manda cantik dengan rambut pirangnya. Dilihat sekilas, sepertinya memang cocok untuk Harry. Sebagai sahabat, Latina berharap keduanya bisa menjalani hubungan serius. Ia sedih ketika melihat Harry yang masih belum bangkit dari sang mantan. Ya, Latina pandai memberi harapan pada seseorang. Padahal ia sendiri masih teringat pada Jason serta Dean.


"Ternyata kau bisa malu juga. Lihat, wajahmu memerah." Latina tertawa karena berhasil menggoda Harry.


"Sudah, kalian malah bercanda terus. Sebaiknya kita lekas pulang. Aku merindukan rumah," ucap Eliza.


"Tenang saja, Bibi. Kediaman Anderson siap untuk dipakai. Kalian tinggal menyusun pakaian saja karena aku sudah menyuruh petugas kebersihan untuk membereskan rumah kalian."


"Harry, kau penyelamat. Aku akan buat makan malam untuk membalas budimu," kata Latina.


"Harus yang istimewa." Harry tersenyum saat mengatakannya.


Sesampainya di kediaman Anderson, Latina tidak mau bersantai. Rumah telah dibersihkan dan perlengkapan dapur juga diisi. Harry sungguh sangat pengertian, dan itu sebabnya, Latina sangat menyayangi dirinya.


"Biar aku bantu." Manda masuk ke dapur. Ia juga tidak tega membiarkan Latina bekerja sendirian.


"Terima kasih, kau sangat baik."


"Anakmu sangat lucu. Dia juga tampan."


"Rael?" Latina tersenyum. "Ya, dia memang sangat lucu. Biasanya aku tidak tahan untuk terus mengecup pipinya."


"Dia usia sekolah, kan?"


Latina mengangguk. "Ya. Besok aku akan mulai mencari sekolah untuknya."


"Aku punya rekomendasi. Sekolahnya dekat dengan kantorku dan berhadapan dengan gedung sekolah dasar."


"Boleh juga. Aku akan ke sana besok."


"Hubungi aku saja. Jika dekat dengan kantor, aku bisa menjemput Rael jika kau telat."


"Itu akan merepotkanmu." Latina tertawa.


"Ya, kalau aku bisa. Sungguh! Aku sangat suka Rael. Dia sangat tampan."


Latina tersenyum mendengarnya. Rael memang memiliki rambut hitam legam dengan bola mata cokelat. Bulu mata lentik dan alisnya tebal.


TBC