
──⊱◈◈◈⊰♦️ Kalam Habaib ♦️⊱◈◈◈⊰──
"Allah akan menguji masa mudamu dengan mengirimkan seseorang yang membuatmu jatuh hati padanya, seolah-olah ia membawa hakikatnya cinta, tapi nyatanya hanya membuatmu untuk bermaksiat kepada-Nya"
[ Al Habib Umar bin Hafidz ]
❤اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ❤
◈◈◈◈◈◈◈◈⊱◈◈◈⊰♦️⊱◈◈◈⊰◈◈◈◈◈◈◈◈
"Devta?!" Sentak Frans, saat ia mengikuti arah pandangan istrinya, yang akhirnya ia tahu kenapa istrinya terlihat ketakutan. " Pantas saja Irm Bukankah Dia sedang dipenjara?."_Batin Frans dengan wajah masih menatap ke arah Devta dengan pandangan yang terlihat marah.
Melihat suaminya tak bergeming saat melihat mantan tunangannya Irma langsung mengeratkan lingkaran tangannya di lengannya Frans.
"Bie, kita pulang aja yuk, Imah nggak ingin makan mie pangsit lagi, Ayo bie." Ajak Irma sembari menarik lengan Frans, membuat Frans tersentak dari lamunannya.
"Honey, kamu tidak ingin makan karena melihat diakan, kamu tidak perlu takut honey ada bibie di sini." Balas Frans sambil menahan tarikan tangan Irma.
"Benaran Bie, Imah benar-benar tidak ingin lagi, ayo bie kita pulang." Kata Irma yang masih berusaha menarik tangan suaminya. dengan wajah yang sudah di penuhi keringat ketakutannya.
Frans yang melihat ketakutan Irma akhirnya mengalah dan ia mengikuti tarikan tangan Irma.
"Ya sudah ayo kita pulang." Balas Frans yang akhirnya ia ikut melangkah mengikuti Irma menuju jalan keluar cafe tersebut, dan di saat mereka sudah berada di depan pintu cafe dan hendak menuju perparkiran, tiba-tiba terdengar suara seseorang menghentikan langkah mereka.
"Hai, mengapa mantan tunangan gue, begitu terburu-buru ingin pergi?, tidakkah kamu merindukan mantan tunanganmu ini?, eh salah bukan mantan karena kita tak pernah mengatakan putus. jadi kamu masih tunangan gue." Ujar seorang pria yang baru saja keluar dari Cafe cinta. Ia terlihat begitu percaya diri hingga ia berani meraih tangan kiri Irma, membuat Irma kaget.
"Akh!, lepaskan!" Pekik Irma karena Devta menggenggam tangannya begitu keras.
"Lepaskan tangan istri gue!." Bentak Frans sembari mendorong tubuh Devta dengan keras hingga pegangannya terlepas dari tangan Irma.
Devta terkejut saat mendengar Frans menyebut kata istri " Apa lo bilang?, dia istri Lo?." Tanya Devta sepertinya dia belum mengetahui akan pernikahan Irma dan Frans.
"Ya!, dia istri gue!, kenapa Apa ada masalah buat Lo?." Ujar Frans ketus.
"Heh! berani sekali lo menikahi calon istri orang yang belum putus sama sekali dari ikatan tunangannya, dan sudah sejak kapan kalian menikah hah?." Tanya Devta yang terlihat ada kemarahan di matanya.
"Cih, tunangan?!, sejak di hari lo ingin merusak dia, gue rasa lo nggak pantas di sebut tunangannya! dan kapan gue nikah dia itu bertepatan di hari lo memberikan obat perangsang yang hampir membuatnya tewas, dan bertepatan juga dengan hari Lo masuk penjarakan?." Ujar Frans yang terlihat sangat santai dan di barengi dengan senyum kemenangan, membuat Devta semakin kesal melihat Frans. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa karena perkataan Frans malah menyudutkannya karena memang kenyataannya dialah, yang paling bersalah. tapi tetap saja ia tak bisa menerima kenyataannya.
"Heh!, Jangan merasa senang dulu Lo!, tunggu aja pembalasan dari gue!, dan gue pastikan kalian berdua tidak akan mengecap kebahagiaan!, camkan itu!" Ancam Devta, yang kemudian ia pun kembali masuk ke dalam cafe cinta tersebut.
Setelah mendengar ancaman dari Devta rasa takut Irma semakin membesar, hingga ia mempercepat lingkaran tangannya di lengan Frans.
"Bie Imah takut,"
"Takut Apa honey, kamu tidak perlu takut karena ada bibie di sini." Balas Frans sembari merangkul pundak Irma.
"Bagaimana kalau perkataannya benar dan kita tidak akan mengecap kebahagiaan." Ujar Irma teringat akan ancaman dari Devta..
"Emang dia Tuhan apa?, bisa menentukan kebahagiaan kita sayang, kamukan harusnya tahu hanya Allah yang menentukan kebahagiaan kita."balas Frans mengingatkan Irma.
"Astagfirullah, Iya kamu benar katakan punya Allah, dan hanya Dialah penentu kebahagiaan kita." Balas Irma sembari tersenyum lega.
"Iya sayang, ya sudah ayo sekarang kita pulangkan?, apa kamu masih ingin makan mie pangsit gorengnya?, Tapi kita cari di tempat yang lain ya?." Tanya Frans sembari mereka menghampiri mobil mereka.
"Nggak ah Bie, imah mau pulang aja, sudah hilang kok rasa ingin makan mie pangsitnya, jadi kita pulang aja ya Bie." ujar Irma sembari ia memasuki mobil yang sudah dibuka pintunya oleh Frans.
"Baiklah honey, sesuai keinginanmu sekarang kita pulang oke," balas Frans yang kini ia sudah duduk di belakang kemudinya dan bersiap handak melajukan mobilnya.
di sepanjang jalan Irma hanya diam saja karena ia pikiran akan ancaman Devta, karena dia sangat tahu kalau ancaman Devta tidak bisa di anggap remeh. Irma masih terhanyut dalam pikirannya, hingga ia tak menyadari kalau mobil mereka sudah berada si depan rumah mereka.
"Honey, mau sampai kapan kamu duduk di situ hm?," Tanya Frans, yang ternyata ia telah membuka pintu mobilnya di sisi Irma.
"Eh, kita sudah sampai Bie?." Tanya Irma sambil melihat ke sekelilingnya.
"Menurut kamu gimana?" Tanya Frans kembali sembari mengernyitkan dahinya.
" Hehehe, Maaf bie, " Kata Irma sambil cengengesan.
"Ya sudah cepat turun, sampai kapan kamu di situ." Kata Frans lagi.
"Iya iya, Imah turun." Balas Irma yang kemudian ia pun turun dari mobilnya, dan berjalan terlebih dahulu memasuki rumah mereka, tanpa menunggu Frans yang sedang menutup pintu mobilnya tadi.
Sesampainya di dalam ia pun langsung menuju ke kamar mereka, membuat Frans yang berjalan di belakangnya heran melihat kediaman istrinya itu.
"Ada apa dengan Irma, apa dia masih teringat dengan ancaman Devta?,"_ Batin Frans. yang akhirnya ia juga ingat akan ancaman itu, dan kemudian ia pun memanggil seseorang lewat via hpnya, dan setelah itu ia pergi menuju ke ruang kerjanya, belum sempat ia duduk di kursi kebesarannya di ruang kerja, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan tersebut.
Tok.. Tok..Tok..
"Masuk!" Seru Frans sembari ia menduduki dirinya di kursi kebesarannya. Dan tak berapa lama masuklah seorang pria muda nan tampan berjas hitam.
"Permisi Pak, apakah ada yang bisa saya bantu?." Ujar pria muda itu sembari mendekati meja kerjanya Frans.
"Duduklah Firman!." Titah Frans kepada pria muda itu, ternyata dia adalah asistennya sendiri yang bernama Firman.
"Baik Pak." bales Firman yang kemudian Ia pun duduk dihadapan Frans sesuai perintah dari bosnya.
"Fir, Lo masih ingat Devta?"
"Iya Bos saya ingat, dan saya juga sudah tahu kalau dia sudah keluar dari penjara kata salah satu teman saya bos." Bales Firman
"Nah, itu dia, tadi kami bertemu dengannya dan bahkan dia telah mengancam kami, membuat bini gue jadi ketakutan, jadi gue minta sama Lo untuk meningkatkan keamanan serta minta dari beberapa teman Lo untuk terus mengawasi pergerakan Devta, apakah lo paham Fir?." Jelas Frans dengan wajah seriusnya.
"Paham bos, Anda tenang saja, karena teman-teman saya orang yang profesional jadi bagi mereka itu hanya pekerjaan gampang." Kata firman yang terlihat menyakinkan, membuat Frans merasa lega.
"Baiklah gue percaya, ya sudah kamu boleh pergi sekarang."
"Baik bos! " setelah balas perkataan bosnya Firman melangkah keluar dari ruang kerjanya Frans, sedangkan Frans juga ikut bangkit dari duduknya dan kemudian ia ikut berjalan keluar dari ruangannya menuju ke kamarnya.
Sesampainya di kamar ternyata ia melihat istrinya sudah tertidur pulas dengan hijab yang masih di pakainya, takut tidur istrinya tidak nyaman, Frans pun menghampirinya dan kemudian ia duduk di sisi pembaringannya Lalu ia membuka hijab istrinya.
Irma yang tadi sempat ketakutan dan kemudian ia tertidur dalam keadaan ketakutan, maka saat di saat Frans membuka hijabnya di dalamnya ia hendak di perkosa oleh Devta Alhasil ia berteriak-teriak saat tangan Frans membuka hijabnya.
"Aakh pergi!, jangan sentuh aku!.'' Igaunya dengan mata yang masih terpejam, membuat Frans kaget bukan main karena tangan Irma sempat memukul wajahnya.
"Sayang bangun, ini bibie, bangunlah sayang." Seru Frans sembari mengguncang tubuh Irma hingga ia pun langsung membuka matanya.
"Bibie!" Irma langsung memeluk erat tubuh Frans sambil menangis hingga tersegukan
"Sssth, sudah tidak apa-apa itu hanya mimpi buruk." Kata Frans sembari mengelus kepala serta punggung Irma penuh kasih sayang.
____________
Jangan lupa untuk tinggalkan jejaknya ya guys 🙏