SANG MUTIARA YANG TERSEMBUNYI

SANG MUTIARA YANG TERSEMBUNYI
MENCARIKAN JODOH UNTUK FRANS.


๐ŸŒŒ๐ŸŒŒ๐ŸŒŸ KALAM AL-QUR'AN๐ŸŒŸ๐ŸŒŒ๐ŸŒŒ


Allah Ta'ala berfirman :


ูˆูŽุนูŽุณูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ุชูŽูƒู’ุฑูŽู‡ููˆุง ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู„ูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽุนูŽุณูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ุชูุญูุจู‘ููˆุง ุดูŽูŠู’ุฆู‹ุง ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุดูŽุฑู‘ูŒ ู„ูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽุงู„ู„ู‡ู ูŠูŽุนู’ู„ูŽู…ู ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุชูู…ู’ ู„ุงูŽ ุชูŽุนู’ู„ูŽู…ููˆู†ูŽ


โ€œBoleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah yang mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.โ€


__(Qs. Al-Baqarah 216)___


VVVVVVVVVVVVVV๐ŸŒŸVVVVVVVVVVVVVVV


Mendengar perkataan Azzam, seketika Frans pun tersedak, hingga membuat ia terbatuk-batuk, di tambah lagi saat ini ia sedang memakan semangkuk bakso yang sangat pedas.


"Nahloh, mampos Lo!, tersedakkan Lo, makan bakso sendiri sih!, nih minum" Ejek Azzam sembari ia menyerahkan segelas air putih pada Frans, yang wajahnya sudah berubah menjadi seperti tomat merah sekali, dan terlihat juga air matanya ikut keluar akibat rasa pedas dan di tambah lagi karena ia tersedak, semakin bertambahlah penderitaannya.


"Sompret Lo!, gue begini juga karena Lo kan!, huk, Uhuk, Uhuk!" Bales Frans dengan suara menahan sakit di lehernya, di tambah lagi batuknya belum juga berhenti.


"Lah, kok jadi nyalahin gue sih!, Lo aja yang makan nggak hati-hati!" protes Azzam, yang sepertinya ia tidak terima karena di salahkan.


"Ah, Diam Lo!, bikin empet aja!, sudahlah gue mau pulang aja, ngantuk!, gue ngambil cuti bro!" kata Frans yang nampak ada kekesalan dari raut wajahnya dan ia langsung berlalu meninggalkan Azzam yang masih terpelongo melihat Kepergiannya.


"Lah, kayaknya ada yang salah deh?, kenapa jadi dia yang marah-marah begitu?, dan seenaknya aja mengambil keputusan, di sini yang bosnya siapa sih? die apa gue sih?" gumam Azzam setelah Frans tak terlihat lagi oleh pandangnya. " Ah, bodo Amatlah, sebaiknya gue kembali saja ke ruangan Rawat Irma" lanjutnya lagi, sambil ia bangkit dari duduknya, dan di saat ia hendak pergi tiba-tiba seorang pria paruh baya datang menghampirinya.


"Maaf pak, Anda tidak bisa pergi sebelum membayar dua mangkuk bakso serta minumannya pak" Ujar pria itu sembari menyerahkan sebuah kertas berwarna putih kecil yang sudah di pastikan itu sebuah


struk pembayaran, yang apa bila mereka telah selesai makan maka mereka akan membayarnya sesuai yang tertera di struk tersebut.


"Hadeuuh.. Muke gile si Frans, dia yang makan, gue yang harus bayar, dasar kadal buluk !" Keluh Azzam, sembari ia mengambil dompet di kantong celananya dan setelah itu ia juga mengambil selembar uang kertas berwarna dan ia langsung menyerahkannya pada Pria yang tadi memberikan sebuah struk padanya.


"Nih, pak ambil saja kembaliannya" kata Azzam lagi dan kemudian ia pun berlalu meninggalkan pria tersebut, dan langsung pergi menuju ke ruangan Irma di rawat.


******


Sementara di sisi lain..


Frans yang tadi pergi meninggalkan Azzam, kini sudah berada di dalam mobilnya, dengan wajah yang masih memerah dengan keringat yang masih mengucur di wajahnya, membuat Firman supirnya sedikit kaget melihatnya.


"Pak, Anda baik-baik sajakah?" tanya Firman yang nampak sedikit khawatir.


"Hm, aku baik-baik saja!, jalan sekarang!, kita kembali ke rumah!" titahnya yang kemudian ia menyenderkan kepalanya di sandaran kursi belakang mobilnya, dan kemudian ia menutupi matanya dengan lengannya.


"Sebenarnya apa yang telah terjadi pada diriku mengapa aku menjadi marah setelah mendengar ia telah dijodohkan oleh orang tuanya?"_ Batin Frans yang nampak bingung akan perubahan dirinya itu.


"Hah!, tau akh, emang gue pikirin!, mau dia di jodohkan kek!, mau dia kawin kek!, apa urusannya sama gue!" gumam Frans sedikit kesal,


Mendengar bosnya yang tiba-tiba bergumam namun sangat terdengar jelas olehnya, Firman pun melirik kaca spionnya, dan terlihatlah Frans yang matanya masih tertutup oleh lengannya itu, membuat Firman mengerenyit.


"Tapi kalau di lihat wajahnya yang memerah itu, apa sebenarnya bos sedang sakit ya?, sebaiknya aku tanya deh,"_ Batinnya lagi.


"Bos Anda yakin, Anda baik-baik saja?, apakah tidak sebaiknya kita kerumah sakit lagi bos, untuk memastikan apakah Anda sakit atau tidak?" Ujar Firman yang akhirnya buka suara, karena terlihat jelas sekali kalau ia sedang mengkhawatirkan bosnya itu.


"Gue baik-baik saja Fir, sebaiknya Lo jangan bertanya lagi deh, Lo cukup fokus saja dalam menyetir, paham!" tegas Frans masih posisi yang sama, yang dengan kepala yang menyandar dan lengan yang menutupi matanya.


"Baiklah Bos!" Bales Firman yang kemudian Ia pun kembali fokus dalam menyetirnya, tidak membutuhkan waktu yang lama akhirnya mereka sampai di rumah Frans, Firman pun langsung memarkirkan mobilnya tepat di halaman rumah Frans.


"Bos kita sudah sampai di rumah sekarang" Ujar Firman, saat ia sudah memarkirkan mobilnya dengan sempurna.


Frans pun tersentak kaget, karena ternyata ia sempat tertidur dengan posisi yang tadi, tanpa berkata apa-apa ia pun langsung turun dari mobilnya, dan setelah itu ia pun memasuki rumahnya dan saat ia memasuki ruang keluarga ternyata disana Sudah ada seorang wanita paruh baya sedang duduk bersama seorang pria paruh baya juga.


"Loh nak, kamu kok sudah pulang, Apa tidak kerja hari ini?" Tanya wanita paruh baya tersebut.


"Tidak mah Frans lagi tidak enak badan" Bales Frans pada wanita itu yang ternyata ibu dari Frans.


"Gimana anak kamu tidak sakit!, orang dia keluyuran sampai enggak pulang gitu!" ujar pria yang duduk di samping mamanya Frans.


"Ya papa tanya saja sana pada firman, kemana aja Frans tadi malam," Bales Frans yang nampak tidak terima karena di tuduh keluyuran pada pria itu yang ternyata papanya Frans.


"Udah akh, Frans pusing!, mau tidur dulu" Ujarnya dan ia pun langsung berlalu meninggalkan orang tuanya yang sedang duduk di sofa.


"Nah, gitu tuh, anak manja Mama, yang gampang banget tersulut emosi" protes sang papa.


"Eh, emang Frans bukan anak papa ya,?, dari namanya saja orang bisa tebak kalau dia anak papa, Franstio Irawan putra dari Bambang Dirza Irawan, adakah nama mama yang tercantum hm?" protes Mama Frans juga, pada Sang papa yang ternyata bernama Bambang Dirza Irawan.


"Hmm, memang ya, kalau ngomong sama Nani Wijaya ini nggak bakalan deh bisa menang" Ujar Bambang, sembari menoel pucuk hidungnya Istrinya itu, yang bernama Nani Wijaya.


"Siapa suruh papa selalu nyalahin mama kalau anak papa berulah hayo?"


"Iya iya, papa minta maaf deh mah, habis papa terkandang kesal mah, kenapa anak kita lebih suka menjadi Asisten orang lain, ketimbang menjadi seorang CEO di perusahaan sendiri coba" keluh Bambang teringat Frans menolak keinginannya untuk menjadikan dia seorang CEO di perusahaannya.


"Sabar pah, pasti ada masanya ia akan meneruskan perusahaan kita, secarakan ia pewaris tunggal pa" bales Nani, menghibur dan suami.


"Iya sih tapi kapan mah?, apa menunggu papa meninggal dulu gitu?" kata Bambang yang terlihat putus asa.


"Astaghfirullah, papa ngomong apa sih!, nggak gitu juga pah, mungkin saja dia begitu karena belum memiliki tanggung jawab pah, Mama yakin nanti setelah ia memiliki istri, mau tak mau dia pasti mau meneruskan perusahaan kita, secara dia sudah berkeluarga, " ujar Nani memberikan pengertian pada suaminya itu.


"Hmm iya juga ya, sepertinya kita harus mencarikan jodoh untuk Frans mah!"


********


Maaf ya Author jarang Update untuk Novel yang ini, itu karena pekerjaan author di dunia nyata sangat banyak jadi susah deh membagi waktunya, tapi jangan khawatir, Author pasti akan usahakan terus kok agar selalu update, Asalkan para Readers selalu mendukung Author.๐Ÿ˜‰ so jangan lupa ya selalu dukung Author, dan jangan lupa tinggalkan jejaknya Ok ๐Ÿ˜‰๐Ÿ™