
"Azka bawa untuk di perkenalkan sama Mama dan Papa, sebagai calon menantu. papa dan mama,"
Mendengar perkataan Azkha dengan begitu santainya membuat, Azzam, Naisha serta orang tua Azzam kaget bukan main.
"APAA?!" ucap mereka secara serentak kaget. Terutama Azzam ia bahkan terlihat marah setelah mendengar perkataan Azkha.
"Apa kamu sudah gila hah?! Apa kamu tidak tahu kalau perempuan ini hampir saja membunuh istriku hah?!" Azzam terlihat amat emosi, hingga tanpa sadar ia menunjuk-nunjuk wajah Hanna ketika menyebut kata perempuan.
"Hanya hampirkan? belum sempat mati bukan?" tanya Azkha enteng. Membuat Azzam semakin geram melihatnya.
"Apa kamu bilang hah? Jadi kamu nunggu Istriku mati dulu hah? baru kamu.." ucapan Azzam yang terlihat penuh emosi langsung terpotong karena jeritan Rainah.
"Cukup hentikan!" teriak Raniah. Seketika Azzam pun menghentikan perkataannya, "Mengapa kalian yang jadi bertengkar karena wanita itu sih? Apa kalian tidak malu sudah sebesar ini bertengkar hah?" tanya Raniah yang kini pipinya sudah dibasahi oleh air mata ia amat sedih karena kedua anaknya berantem di depan dirinya. Membuat tubuhnya seketika bergetar.
Hendrawan yang melihat itu langsung memeluk istrinya, "Tenang Mah, kamu jangan terlalu emosional, ingat kata dokter kemarin, bila darah tinggi kamu naik bisa berakibat fatalkan Mah" katanya mengingatkan istrinya akan penyakit darah tingginya.
"Hiks..gimana Mama tidak emosional Pah, kalau mereka begini di depan Mama hiks..hiks.." keluh Raniah di dalam pelukan sang suami.
"Ya sudah sebaiknya Mama istirahat di kamar ya. Biar Papa yang menyelesaikannya," ujar Hendrawan dengan lembut, "Nai bawa Mama kamu ke kamar ya" lanjutnya lagi pada Naisha.
"Baik Pah" balas Naisha, yang masih menggendong buah hatinya, "Ayo Mah kita ke kamar saja ya" ajak Naisha pada Raniah sambil menggandeng lengannya. Dan Raniah pun mengikuti Naisha menuju ke kamarnya.
"Sekarang kalian berdua duduk!" titah Hendrawan pada Azkha dan Azzam, "Dan kamu sebaiknya keluar dari sini, karena ini urusan keluarga kami!" lanjutnya pada Hanna yang terlihat santai saja saat melihat mereka bertengkar.
"Oke Om kalau begitu saya permisi" pamit Hanna yang kemudian ia langsung pergi keluar.
"Sekarang katakanlah Azhka, apa alasan kamu ingin menikahi wanita yang pernah mencelakai istri Abang kamu hm?" tanya Hendrawan setelah kepergian Hanna.
"Azkha tidak punya alasan apa-apa Pah. Alasannya hanya satu, Azkha mencintai dia Pah" jawab Azkha dengan entengnya.
"Cih! cinta kata kamu? apa mata kamu sudah katarak hah?! bisa ya kamu cinta dengan wanita yang keji seperti itu hah?!" tanya Azzam dengan emosi yang masih meluap-luap, karena ia tak habis pikir, mengapa adiknya bisa terjerat oleh Hanna.
"Azzam tenangkan dirimu, jangan terbawa oleh emosi Nak" tegur Hendrawan. Azzam pun mendengus kesal karena mendapat teguran dari Hendrawan dan ia pun langsung terdiam.
"Oke Azkha, apakah kamu sudah yakin dengan pilihanmu Nak?" tanya Hendrawan terlihat tenang.
"Azkha sudah yakin Pah" jawab Azkha mantap.
"Oke kalau begitu, Papa akan merestui kamu' kata Hendrawan masih terlihat santai.
"Tenang Zam, inikan pilihan hidupnya Azkha, kamu.." kata Hendrawan namun langsung di potong oleh Azzam.
"Cukup Pah, Azam mengerti, silakan bila Papa ingin menyetujuinya, tapi ingat setelah ini jangan pernah berharap Azam akan datang lagi kerumah ini" ancam Azzam pada Hendrawan, "Dan kamu Azkha, setelah kamu menikah dengannya maka hubungan kita sebagai Abang, Adek tidak ada lagi, dan Aku bukan Abang kamu! apa kamu paham hah?!" lanjutnya yang kemudian ia pergi begitu saja meninggalkan Hendrawan dan Azkha.
"Zam tunggu! dengar dulu perkataan Papa Nak" panggil Hendrawan namun tidak di respon oleh Azzam dan ia langsung memasuki kamar Raniah.
Sesampainya di dalam kamar sang Mama Azzam langsung menghampiri Raniah dan Naisha yang terlihat lagi bermain dengan anaknya.
"Nai ayo kita pulang sekarang" kata Azzam yang langsung menggendong bayi yang sedang berada di ranjang Raniah. Membuat Raniah kaget karena Azzam langsung mengambil anaknya tanpa basa-basi dulu pada Raniah.
"Loh Nak, bukankah kalian bilang tadi akan menginap di sinikan? kenapa sekarang malah pulang sih Nak?" tanya Raniah yang terlihat bingung.
"Papa sudah merestui Azkha dengan wanita itu Mah, jadi Maaf Mah, mungkin setelah ini Azam tidak akan kesini lagi, dan semoga Mama bisa menerima istri Azkha sebagai menantu Mama yang baru" ujar Azzam dengan tangan kanan yang sudah menggendong anaknya, sedangkan tangan kirinya menggandeng tangan Naisha, lalu ia langsung membawa Naisha keluar dari kamar Sang Mama.
Raniah begitu terkejut mendengar perkataan Azzam yang mengatakan kalau suaminya sudah memberi restu untuk Azkha, dan ia juga terkejut saat Azzam mengatakan tidak akan pernah datang lagi membuat hatinya semakin kacau dan ia pun langsung mengejar Azzam yang berjalan dengan cepat,
"Tidak Zam, Mama tidak mau Zam!" ucap Raniah sambil memeluk Azzam dari belakang, "Dengar Nak. Bila wanita itu yang menjadi istri Azkha maka Mama tidak akan pernah mengakui dia sebagai menantu Mama, dan menantu hanya Naisha, jadi Mama mohon jangan jauhkan Mama dengan Naisha hiks ataupun cucu Mama ya Nak hiks." ucapnya lagi.
Dan Perkataan Raniah itu langsung di dengar oleh Azkha dan Hendrawan, karena saat Raniah memohon, posisi Azzam sudah mendekati pintu keluar rumah mereka.
"Maafin Azam Mah, tapi ini adalah pilihan yang terbaik, Karana Azam tidak ingin dikatakan sebagai penghalang kebahagiaan seseorang, jadi biarkan Azam yang pergi Mah dan tolong lepaskan Azam" ujar Azzam dengan tatapan kedepan tanpa menoleh sedikitpun.
"Baiklah Nak.. kalau begitu biarkan Mama ikut kalian saja ya hiks.. karena Mama juga tidak ingin tinggal disini lagi," ujar Raniah dengan mata yang menatap kearah Hendrawan dengan tatapan yang terlihat marah padanya.
Hendrawan yang mendapatkan tatapan itu, ia langsung mengerti kalau istrinya pasti sedang salah paham padanya.
"Mah kamu jangan salah paham dulu Mah, Papa belum menyelesaikan perkataan Papa pada Azkha, maka dengarkanlah keputusan Papa ini Mah Zam," ujar Hendrawan kemudian ia langsung beralih pada Azkha.
"Baiklah Azkha Papa memberikan restu padamu, tapi setelah kamu menikah kamu tidak bisa tinggal disini, dan kamu tidak akan mendapatkan apapun dari Papa, karna nama kamu akan tercoret dari kartu keluarga, dan itu artinya nama kamu juga tercoret dari hak waris juga, dan itu artinya kamu bukan lagi anak Papa dan Mama!" tegas Hendrawan. Mendengar keputusan Hendrawan Azkha sangat terkejut.
"Apa Pah?!"
___________
Hai guys, bila kalian ingin Novel ini berlanjut, Author minta dukungan kalian untuk memVote novel ini agar Novel ini bisa naik kembali, karena hanya dukungan dari para Readers sajalah yang bisa menyelamatkan novel ini. Jadi author mohon dengan sangat ya guys 🙏
Namun bila memang kalian tidak menginginkannya lagi maka Abaikan saja oke dan Author juga akan mengabaikannya juga😁 Tapi bagi yang mendukung Author ucapkan ribuan terima kasih 🙏😘.