SANG MUTIARA YANG TERSEMBUNYI

SANG MUTIARA YANG TERSEMBUNYI
SURPRISE UNTUK ZUMIRAN.


┈••✾•◆❀🤍 Mutiara Hikmah🤍❀◆•✾••┈


"Skenario Allah bukan untuk dibaca dan diterka-terka, tapi hanya untuk dimainkan oleh kita sebagai pemeran utamanya."


Jalankan, Nikmati dan Syukuri. Maka suatu hari nanti, kamu pun akan menyadari bahwa rencana Allah-lah yang Terbaik untuk kita."


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•┈┈┈┈┈┈•✾•◆❀🤍❀◆•✾•┈┈┈┈┈┈•


Keesokan harinya, di rumah thafidz.


Sesuai yang telah direncanakan oleh Azzam, kalau hari ini, adalah hari pernikahan Azkha dan Zahra. Dan karena permintaan Zahra, ingin menikah di rumah thafidz, Azzam pun mengambulkannya. Makanya hari ini rumah thafidz sudah diramai dengan para tamu undangan yang hadir untuk menyaksikan acara sakralnya Azkha dan Zahra.


Nampak para orang tua dan sanak saudara juga sudah pada berkumpul, termasuk Ayahnya Zahra. Yang terlihat sangat begitu senang, bukan karena anaknya akan menikah, nyamun karena ia akan secepat menerima kompensasi dari Azzam. Sebagai pertukaran Anaknya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu," ucap Ustadz Ibnu, yang kebetulan dia juga yang menikahkan Reyhan Dan Aziah. Nah kali dalam pernikahan Adik laki-lakinya, Azzam yang sengaja memilihnya kembali sebagai penasehat sekaligus yang akan menikahi Azkha maupun Zahra juga.


"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu" jawab para keluarga dan para undangan yang ikut hadir dengan secara bersamaan. Setelah salam sang ustadz jawab oleh para tamu undangan. Ustadz Ibnu pun melanjutkannya dengan kata sambutan sebelum akad dimulai.


"Alhamdulilahi robbil alamin wassolatu wassalamu 'ala asyrofil anbiya'i wal mursalin sayyidina wa Maulana Muhammadin wa’alaalhi wasohbihi ajma’in amma ba’du.


Yang pertama puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta nikmatnya kepada kita sehingga kita dapat bersua bersama dalam acara Akad nikah dan akan berlanjut dengan acara walimatul ursy/pernikahan, Ananda Azkha dengan Zahra. Semoga kedua mempelai dijadikan jodoh dunia akhirat yang dikaruniai nikmat mawaddah warohmah, cinta abadi dunia sampai akhirat aamiin-aamiin ya robbal alamin.


Kedua kalinya sholawat beserta salam kita curahkan kepada baginda agung Nabi Muhammad SAW. dimana belau telah menjadi suri tauladan yang baik, yang menginspirasi kita dengan ilmu agama islam dan takwa kepada Allah SWT. sehingga kita dapat membedakan perkara hak dan perkara batil.


Dan yang ketiga kalinya, saya sedikit akan menyampaikan sabda nabi “annikahu sunnati, wasunnatul ambiyai minqobli faman roghiba an sunnati falaisa minni”


Artinya :" Pernikahan adalah merupakan sunnahku (kata Nabi ) dan merupakan sunnah bagi nabi-nabi sebelum Aku, barang siapa yang ingkar atas sunnahku maka dia bukan golonganku."


Jadi Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian, pernikahan adalah sunnah hukumnya, jika dilaksanakan mendapat pahala dan jika tidak dilakukan tidak mendapat dosa, dan pernikahan ini merupakan ibadah sunnah yang menyenangkan dan siapapun pasti ingin cepat-cepat melaksanakannya.


Sungguh pun demikian, di dalam ibadah sunnah ini mengandung kewajiban, yaitu bagi sang suami berkewajiban untuk memberikan nafkah kepada sang istri baik nafkah lahir ataupun batin. Begitu pula sang istri berkewajiban berbakti dan taat serta menjaga kehormatan dirinya dan harta suaminya.


Oleh karena itu walaupun pernikahan adalah merupakan sunnah, setelah masuk ke jenjang pernikahan maka kita mau tidak mau, suka ataupun tidak suka harus melaksanakan apa yang menjadi kewajiban bagi suami atau istri. Ingatlah wahai anandaku berdua, bahwa pernikahan merupakan ladang pahala bagi yang melaksanakannya dengan benar dan..."


Karena pertemuan Azkha dan Zahra begitu singkat. Azzam memang meminta sang Ustadz untuk memberikan nasehatnya untuk kedua mempelai. Namun disaat ustadz Ibnu masih memberikan wejangan pada Azkha dan Zahra, tiba-tiba Ayah Zahra memotong perkataan sang ustadz.


"Maaf Ustadz! Lama banget sih! Bisa nggak langsung sajalah ke acara akad! Karena saya kesini bukan mau mendengarkan ocehan ustadz yang panjang itu! Jadi cepatlah atau saya akan pergi dari sini dan membawa Anak saya!" potong Zumiran dengan wajah yang tidak tahu malu sama sekali, bahkan Semua mata melihatnya kaget, sambil menggelengkan kepala mereka sembari beristighfar. Dan ruangan menjadi riuh oleh omongan para undangan yang menyaksikan itu.


"Astaghfirullah.. berani sekali dia memotong perkataan Pak Ustadz."


"Astaghfirullah.. kok ada ya orang yang tak punya rasa hormat sedikitpun pada seorang Ustadz?"


Begitulah satu persatu, para undangan membicarakan Zumiran. Perkataan mereka terdengar juga oleh Zumiran.


"Sudah puas, mengatakan orang hah? Sekarang bisa diam nggak!" seru Zumiran terlihat kesal. "Bagaimana Pak ustadz! Ini acara mau dilanjutkan atau tidak! Kalau tidak saya akan pulang! Ayo Zahra kita pulang saja!" lanjut Zumiran, yang kemudian ia hendak meraih tangan Zahra. Namun langsung di tepis oleh Azzam.


"Anda ingin membawanya? Maka kembalikan dulu uang seratus juta saya!" tegas Azzam, menahan tangan Zumiran, Agar tidak menyentuh Zahra.


"Cih! Itu bukan urusan saya! Bukankah tadi saya sudah memberikan Anda kesempatan? Tapi kenapa Anda membuang-buang waktu hah?!" seru Zumiran sembari ia tersenyum licik.


"Oouh, Anda ingin bermain-main dengan saya nampaknya ya? Oke kalau begitu, saya akan jambanin, ingat saya sudah cukup diam kemarin, tapi sepertinya Anda sendiri yang mengharapkan saya untuk bertindak! Jadi untuk itu jangan salahkan saya kalau setelah ini Anda memiliki tempat yang khusus Anda!" balas Azzam yang menatap dingin pada Zumiran. Setelah itu ia memberikan kode pada Frans.


"Oke, gue tidak ingin berbasa-basi lagi, inilah surprise untuk Anda pak Zumiran!" kata Azzam sembari merentangkan tangan kanannya kearah pintu.


"Apa maksud Lo?!" tanya Zumiran, belum sempat Azzam membalas, tiba-tiba masuk lima orang pria berseragam polisi. Membuat Zumiran kaget.


"Selamat Siang Pak! Kamu datang kesini untuk menangkap Pak Zumiran, atas tuduhan telah menjual anaknya sendiri! Untuk itu silakan Pak Zumiran untuk ikut kami ke kantor polisi!" ujar salah seorang pria berseragam polisi itu.


"Tidak, tidak tidak! Itu fitnah mana mungkin saya, menjual anak saya Pak! Buktinya hari ini saya akan menikahkan anak saya!" sangkal Zumiran yang terlihat ia mulai ketakutan.


"Oh Anda ingin menikahkan Anak Anda?" tanya polisi itu lagi.


"Iya Pak!" balas Zumiran suaranya sudah mulai bergetar.


"Oh.. Baiklah, silakan dilanjutkan," kata polisi tersebut. Yang sepertinya Zumiran berpikir kalau masalahnya sudah selesai.


"Baik Pak!" balas Zumiran pada polisi tersebut. "Silahkan Ustadz, dilanjutkan acara akadnya" kata Zumiran, sambil ia kembali duduk didepan sebuah meja yang didepannya sudah ada Azkha, yang menanti acara dimulai.


┈┈••✾•◆❀◆•✾••┈┈


JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA..🙏🥰


Bonusin dengan VOTE bila menyukai karya Author.


dan LIKE Bila inggin memberikan semangat.


"KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..Jadi jangan lupa ya guys 🙏😉 Syukron 😊🙏