SANG MUTIARA YANG TERSEMBUNYI

SANG MUTIARA YANG TERSEMBUNYI
AZKHA MENJADI ASISTEN AZZAM.


━━•⊰❁🌸 Mutiara Hikmah.🌸❁⊱•━━


"*Baik buruk perilaku manusia tergantung hati dan siapa yang menilainya. Cukup sabarkan hati dan yakin dibalik setiap peristiwa pasti ada pelajaran yang bisa kita petik untuk menjalani kehidupan yang lebih baik lagi.


Jangan sampai menggantungkan hidup pada penilaian orang, sebab hanya diri kita sendiri yang tahu apa niat dan tujuan hidup kita.


So, pastikan semua niat dan tujuan baiknya. Sehingga kita bisa berfokus pada kebaikan yang kita perjuangkan."


__Quotes of the day*__


━━━━━━━━•⊰❁🌸❁⊱•━━━━━━━━


Dua jam sebelumnya, di Azram grup.


Disebuah ruangan yang didepan pintunya bertuliskan CEO's Room. Nampak Azzam sedang terfokuskan pada laptopnya. Dan disaat ia sedang sibuknya, terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangannya.


"Masuk!" serunya dengan tatapan yang masih fokus pada layar laptopnya. Dan tak berapa lama masuklah seorang pria tampan memakai berjas hitamnya.


"Assalamu'alaikum!" ucap pria tersebut sembari ia menghampiri sebuah kursi yang berada tepat didepan meja kerja Pria tersebut.


"Wa'alaikumus salam, wah tumben CEO BDFI berkunjung ke perusahaan gue. Ada apa Frans?" balas Azzam pada pria itu yang ternyata Frans.


"Aah elo! Giliran gue datang pake nanya ada apa lagi? Perasaan tadi ada yang telpon ya, dan ngomong, kalau dia lagi pusing. Makanya gue datang, karena gue berpikir Lo lagi butuh bantuan gue. Secara elokan belum punya asisten pengganti gue!" protes Frans sedikit kesal.


"Sorry, sorry.. gue nggak nyangka aja Lo bakalan datang bro. Sebenarnya tadi gue bercanda sih, ingin menguji CEO BDFI, hehehe" kata Azzam sambil terkekeh.


"Huh! Bercandaan Lo nggak lucu bro!"


"Iya gue tahu, sorry dah bro, soalnya tadi gue juga jenuh kerja sendiri bro." keluh Azzam sembari ia mengambil sebuah minuman di sebuah lemari es mini yang terdapat disudut ruangannya. Lalu ia letakkan minuman tersebut diatas meja tepat didepan Frans.


Mendengar kata jenuh sendiri, tiba-tiba Frans teringat akan janjinya yang ingin mencarikan seorang asisten untuk Azam. "Ah, sorry ya Zam, gue belum dapatin asisten buat Lo, soalnya perusahaan gue juga lagi banyak kerjaan nih" balasnya merasa bersalah.


"Sudah tidak usah kamu pikirin Bro karena gue sudah mendapatkan asisten tersebut kok."


"Eh, benarkah?"


"Yap! Sebentar lagi juga akan nongol orangnya"


Baru saja Azzam menyelesaikan perkataannya tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangannya.


"Masuk!" seru Azzam. Dan tak berapa lama pintu pun terbuka dan masuklah seorang pria muda yang terlihat tampan dengan memakai baju kemeja biasa.


"Azkha?" gumam Frans saat melihat Pria tersebut.


"Assalamu'alaikum Bang," salam pria tersebut yang ternyata Azkha.


"Wa'alaikumus salam," jawab Azzam dan Frans secara serentak.


"Ada apa bang panggil gue?" tanya Azkha sembari ia duduk tepat di kursi yang sejajar dengan Frans


"Tapi kemarin kamu bilang mau kerja dikantor ini, sebagai apapun, benar nggak tuh sih?" tanya Azzam kembali.


"Iya Bang, iya gue mau kerja! Habis papa pelit nggak mau ngasih gue kerjaan, gara-gara gue pernah sama Hanna. Padahal gue cuma bersandiwara jugaan!" keluh Azkha terlihat kesal.


"Oke! Gue terima kamu kerja di sini. Tapi sebagai asisten gue gimana kamu bersedia hm?" balas Azzam dengan suara datarnya.


Azzam mengerenyit mendengar kekompakan Frans dan Azkha. "Kenapa kalian berdua kaget begitu?" tanyanya terlihat penasaran.


"Ya gue heran aja, masa Lo mau jadikan adik Lo sebagai asisten sih? seharusnya sebagai wakil lu gitu kek," balas Frans terlihat heran.


"Tau nih Bang Azam! Apa kata orang nanti kalau adik bos kok jadi asisten!" timpal Azkha terlihat senang dapat pembelaan dari Frans.


"Kenapa, kamu malu hm? Ya itu terserah kamu sih, tapi untuk saat ini, Abang katakan terus terang kalau lowongan kerja di perusahaan ini hanya jabatan Asisten yang sedang kosong. Kalau jabatan lain sudah penuh, dan kalau kamu tidak mau, ya nggak papa, soal banyak kok yang sedang membutuhkan pekerjaan itu" ujar Azzam terlihat santai.


" Eh, ya sudah gue mau dah Bang! Daripada nggak kerja sama sekali," ucap Azkha terlihat pasrah.


"Bagus! Pilihan yang tepat! Ya sudah ayo sekarang supirin gue kerumah thafidz bini Abang!" titah Azzam sembari ia bangkit dari kursi kebesarannya.


"Apa! Gue merangkap supir juga Bang?!" tanya Azkha terlihat kaget, setelah mendengar titahnya Azzam.


"Kenapa kamu kaget gitu hm? Kamu pernah lihat Bang Franskan waktu dia jadi Asisten gue?" tanya Azzam yang kini ia sudah dikekat pintu ruangannya.


"Ya tahu sih! Tapi masa iya sama.."


"Mau orang lain mau adik sendiri, yang namanya Asisten, harus mendampingi Bosnya kemana aja kamu paham hah?" potong Azzam dengan tegas. "Tapi tetap gue nggak mau maksa kamu kok, kalau kamu tidak mau, ya terpaksa gue..." ujar Azzam tegas untuk memastikan kesediaan Azkha menjadi Asisten Azzam.


"Iya iya gue mau!" potong Azkha juga terlihat pasrah.


"A good choice! Alright let's go!" Azzam pun langsung berjalan keluar dari ruangannya dan diikuti oleh Azkha dari belakang.


"Lah gue kok tinggal? Woy tunggu gue dong!" teriak Frans. Yang akhirnya ia juga mengikuti Azzam dan Azkha. Dan akhirnya mereka pergi kerumah thafidz dengan dua mobil. Azzam bersama Azkha satu mobil, dan Frans bersama supirnya. dan mobil mereka berjalan saling beriringan. Dan setibanya mereka di depan rumah thafidz.


"Eh siapa mereka?" tanya Azzam saat melihat tiga orang laki-laki berdiri


"Mana gue tahu! Kenapa Abang tanya gue?"


"Aah.. Sudahlah ayo kita turun sekarang!" ajak Azzam yang akhirnya mereka pun turun.


"Ada apa ini? Mengapa kalian menghalangi jalan mobil ku?" tanya Azzam dengan tatapan dinginnya kepada ketiga pria itu.


"Gue nggak akan pergi dari sini! Sebelum kedua perempuan itu tidak menyerahkan Putri gue!" seru ayah Zahra yang tatapannya tidak kalah tajamnya dengan tatapannya Azzam.


Mendengar perkataan pria tersebut, pandangan Azzam langsung beralih pada Naisha. "Sayang kenapa kamu menahan putri Bapak ini sih? Cepat kamu serahkan Anak gadisnya biar dia pergi dari sini!" ujarnya pada Naisha.


"Tidak Mas! Icha tidak akan menyerahkan Putrinya Kalau Bapak itu masih bersikeras menjual putrinya, Mas," balas Naisha walaupun ada kekesalan namun masih terdengar lembut.


"Apa! Menjual?!"


_________


JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA..🙏🥰


Jangan pelit juga dong untuk Bonusin dengan VOTE dan HADIAH bila menyukai karya Author😉.


Dan LIKE Bila ingin memberikan semangat.


"KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..Jadi jangan lupa ya guys 🙏😉 Syukron 😊.