
β₯.β.β₯ π KALAM ULAMAπ β₯.β.β₯
"Diantara Tanda matinya hati adalah tidak ada perasaan sedih atas ketaatan yg kau lewatkan dan tidak adanya perasaan menyesal atas kesalahan yg kau lakukan."
___Syaikh Ibnu atha-illlah__
β₯.β.β₯ β π ββ₯.π β.π β₯ β π β β₯.β.β₯
Hari-hari telah berlalu..
Azzam yang sudah hampir sebulan menghadapi ngidam Naisha yang selalu Aneh-aneh di tengah malam, membuatnya selalu tertidur di saat jam kerja dan itu ternyata menjadi topik pembicaraan para karyawan sehingga terdengarlah oleh Hendrawan Azram sehingga ia pun ingin datang keruang Azzam.
Hendrawan berjalan menuju keruangannya Azzam setelah sampai ia pun langsung masuk
dan benar saja, yang digosipkan para karyawan Kalau bos mereka menjadi tukang tidur,
Hendrawan mengernyit saat melihat Azzam sedang tertidur pulas di sofa yang berada di ruangannya, lalu ia pun menghampirinya.
"Azzam!!," seru Hendrawan membuat Azzam tersentak dan seketika ia pun langsung duduk
"Papa?!" sentaknya
"Beginikah kerjanya, calon CEO Azram Group hah?! " ujar Hendrawan yang terlihat sekali ia sangat marah dan kecewa ada Azzam.
"Maaf pah, beberapa hari ini, setiap malam, Naisha selalu meminta hal yang aneh-aneh." Keluh Azzam sembari Ia memijat pelipisnya.
"Meminta yang aneh-aneh? apa maksudnya?" tanya Hendrawan penasaran.
"Iya pah, saat ini Naisha lagi hamil." Balas Azzam, yang terlihat wajahnya nampak lelah karena menghadapi keinginan sang istri.
"Alhamdulillah ternyata anak Papa laki-laki normal juga ya?." ujar Hendrawan agak sedikit menggoda Azzam. membuat mata Azzam membulat kaget mendengar perkataan Hendrawan
"Hah?!, Apa maksudnya Papa?, emang selama ini Papa mengira Azam tidak normalkah?! " Tanya Azzam dengan wajah yang terlihat kesal.
"Hahaha, Maaf nak, karena dulu kamu sangat membenci dengan yang namanya wanita, jadi Papa berpikir kamu tidak normal, hahaha tapi ternyata kamu sukses sudah membuat Naisha hamil," Ujar Hendrawan sambil terkekeh karena ia melihat wajah anaknya yang terlihat lucu karena kesal digoda olehnya
Azzam mendengus mendengar perkataan sang papa, dan Bahkan ia tak mau membalas perkataannya dan dia hanya memutar bola mata malasnya
Melihat hal itu, Hendrawan semakin terkekeh melihatnya namun ada kebahagiaan di hatinya karena Iya akan mendapatkan seorang cucu dari Azzam.
"Tapi Papa bangga padamu nak, dan selamat ya Nak, sekarang kamu sudah menjadi calon ayah." Ujar Hendrawan sembari memeluk anaknya penuh rasa kebahagiaan.
"Terima kasih pa, selamat juga buat apa karena sebentar lagi Papa juga akan menjadi seorang kakek." bales Azzam
"Terima kasih Papa sudah tidak sabar menunggu hari itu." kata Hendrawan lagi.
"Iya pa Azam tahu itu" kata Azzam juga sambari ia melepaskan pelukan sang papanya.
"Ya sudah nanti sepulang kerja datanglah ke rumah bersama menantu Papa, kita harus merayakan kebahagiaan ini, dan kita akan makan malam bersama Ok nak? " Ujar Hendrawan.
"Baiklah Pak insya Allah Azzam dan Naisha akan datang." balas Azzam
"Bagus! Kalau begitu kamu lanjutkanlah tidurmu Papa mau kembali bekerja lagi sekarang." Ujar Hendrawan, membuat Azzam terpelongo.
"Haah?, Bukankah Papa tadi marah-marah ya melihat aku tertidur?" tanya Azzam heran
"Itu sebelum Papa tahu, kalau anak mantu papa sedang ngidam dan sekarang Karena papa sudah tahu dan itu juga pernah papa alami jadi Papa memaklumi kamu nak, dan ingat kamu harus bersabar menghadapi istri kamu yang sedang mengalami proses ngidamnya, memang terkadang melelahkan namun bila menjalaninya dengan ikhlas insya Allah akan menjadi sebuah kenangan yang indah nantinya nak, So jangan pernah mengeluh ok." Tutur Hendrawan yang menasehati sang anaknya.
"Aamiin, in syaa Allah Pah, terima kasih ya pah atas nasehatnya." bales Azzam yang terlihat kini menjadi tenang.
"Sama-sama nak, Ya sudah kalau begitu aku pamit ya Assalamualaikum. " Pamit Hendrawan
"Iya Pah wa'alaikumus salam " bales Azzam dan setelah mendapat jawaban dari anaknya Hendrawan pun berjalan kearah pintu keluar ruangan namun saat Iya membuka pintu ia berpapasan dengan Frans, membuat frans kaget melihat Hendrawan
"Wa'alaikumus salam Frans." balas Hendrawan "Adakah kabar gembira juga dari kamu Frans?." tanya Hendrawan lagi, membuat Frans bingung akan pertanyaan Ayah sahabatnya itu.
"Maksudnya Om apa ya?." Tanya Frans bingung.
"Om, dapat kabar gembira dari Azzam yang istrinya sekarang sedang mengandung, lalu apakah istri kamu juga sudah hamil." Tanya Hendrawan lagi.
"Eh, baru juga menabur benih Om, masa mau langsung berbuah sih, nanti Apa kata dunia Om, kalau baru menanam sudah panen." Bales Frans Asal, membuat Hendrawan terkekeh.
"Hahaha, bener juga kamu Frans, Ya sudah kalau gitu masih banyak pekerjaan Om tinggal sekarang ya Assalamu'alaikum." Ujar Hendrawan sembari ia berjalan meninggalkan yang masih berdiri di depan pintu ruangan Azzam
"Iya Om, Wa'alaikumus salam " Bales Frans, yang ia langsung masuk setelah Hendrawan menjauh.
"Ada apa?!," tanya Azzam ketus, setelah melihat masuk ke ruangannya.
"Haiis, ketus amat bro,?"
"Bodo!, sekarang cepat katakan ada apa?! " tanya Azzam yang masih ketus
"Aiis, iya iya, ini gue cuma mau melapor sepertinya perusahaan milik keluarga Devta, sedang ingin bermain dengan perusahaan kita deh, dengan cara mensabotase klien-klien kita yang akan bekerjasama dengan kita." Ujar Frans yang kini wajahnya sudah terlihat serius.
"Hmm, Ok, kita akan mengikuti permainan mereka, sampai di mana kemampuan mereka, yang ingin bermain dengan perusahaan kita." bales Azzam yang terlihat begitu santai dan tenang, dan kemudian Ia menaik-turunkan alisnya seperti memberi isyarat pada Frans "Apakah lo paham apa yang sedang gue pikirkan sekarang?" Tanyanya lagi.
"Yap, gue paham bro.. lo tenang aja gue akan atur semuanya." bales Frans dengan senyum miringnya.
" Very good!, lalu apa ada yang lain lagi?" tanya Azzam lagi.
"Ada bro, ini masalah gue." jawab Frans yang terlihat sekali dari raut wajahnya Kalau ia sedang kebingungan
Azzam mengerenyit saat melihat kebingungan Frans, "Masalah apa? katakan saja Frans " tanyanya, penasaran.
"Zam, saat gue ingin mengajak bini gue ke rumah gue sendiri, keluarga gue tidak mengizinkan, tapi gue bersikeras ingin mandiri, hingga akhirnya bokap gue memberi syarat, kalau gue mau pergi dari rumahnya, maka gue harus meneruskan perusahaannya, jadi gue benar-benar bingung sekarang Zam, gue harus bagaimana." Tutur Frans, yang terlihat jelas ada kesedihan dari raut wajahnya, karena sepertinya Ia sangat berat meninggalkan sahabatnya itu yang telah banyak berjasa adanya.
"Hanya itu saja? Lalu kenapa wajah lo kayak orang mau beranak begitu? " ledek Azzam,yang sebenarnya iya paham akan perasaan Frans saat ini.
"Ah Lo! gue lagi sedih tau!" Bentak Frans, yang wajahnya berubah menjadi kesal karena ledekan Azzam.
"Oh, sedih? Gue pikir lo mau beranak hahaha." Balas Azzam yang dibarengi tawanya.
"Ah, dasar sompret Lo!"
"Sorry, sorry sorry bro, jangan marah nantilah cepet tua lokan baru kawin, nanti apa kata Irma kalau melihat lo berubah menjadi tua." Ujar Azzam sedikit menggoda Frans
"Au akh! emang gue pikirin!" balas Frans ketus.
"Hahaha, sudah sudah sudah, Jangan Marah Lagi gue cuma bercanda kok, dan tentang masalah Lo turutilah, lagian keinginan Bokap lo Nggak salah kok karena siapa lagi coba, yang akan meneruskan perusahaan dia kalau bukan lo, ditambah lagi lo anak tunggalnya jadi gue saranin sebaiknya Lo ikuti keinginan beliau bro." Ujar Azzam memberi saran kepada sahabatnya itu.
"lalu bagaimana dengan lo?" tanya Frans yang masih tampak bingung.
"Ada apa dengan gue?,"
" Ya maksud gue, kalau gue meneruskan perusahaan bokab gue, Lo sama siapa?"
"Kenapa Lo mikirin itu?, emang di dunia ini cuma ada Lo seorang yang bisa membantu gue hah?!"
"Ya enggak sih, Ya sudah deh sebelum waktunya tiba gue akan mencari pengganti gue untuk lo " kata Frans, yang pada akhirnya, ia sendiri yang memberi ide.
"Nah, gitu, baru pas Bro, Ya sudah karena masalah sudah terselesaikan sekarang ayo kita jemput bini-bini kita di Rumah tahfidz!" Ajak Azzam yang kemudian ia bangkit dari duduknya dan kemudian ia berjalan menuju kepintu keluar, dengan diikuti oleh Frans dari belakang.
**********
Jangan lupa tinggalkan jejak nya ya guys Syukron ππ