
◎❅❀❦♦️KALAM ULAMA ♦️|❦❀❅◎
ketika seseorang semakin berhusnudzan (berbaik sangka) kepada Allah, semakin berharap kepada-Nya, semakin benar tawakal kepada-Nya . sungguh, tidak akan memupus harapannya sama sekali .
Allah tidak akan memupus harapan seorang hamba (yang menggantungkan harapan kepada-Nya), tidak pula menyianyiakan orang yang beramal .
__Al-Habib Ali Bin Abdurrahman Al-Habsyi__
•❅❀❦ೋ๑୨◎❅❀❦♦️❦❀❅◎୧๑ೋ❦❀❅•
Frans benar-benar kaget saat melihat Irma yang terjatuh dari kursi makanya, karena sejak tadi pandangannya hanya mengarah ke kedua orang tuanya saja.
"Astaghfirullah, Honey kamu kenapa?!" Sentak Frans yang kemudian ia langsung menghampiri Irma yang sudah tidak sadarkan diri lagi.
"Astaghfirullah, ini pasti gara-gara Mama, yang sejak tadi menekan Nina, " Ujar Bambang yang kemudian ia juga menghampiri Irma.
"Iya iya semua salah Mama!" Balas Nani Wijaya yang terlihat kesal.
"Sudah cukup!, kalau mama dan papa masih ingin bertengkar jangan di rumah Frans!" Seru Frans kesal bercampur cemas karena melihat Irma yang masih memejamkan mataku, kemudian ia langsung menggendong Irma, dan langsung membawanya menuju pintu keluar rumahnya.
"Maafin Papa sama Mama nak." Ucap Bambang merasa bersalah.
"Iya Pah lupakan." Kata Frans yang masih terus melangkah menuju ke mobilnya.
"Mau di Bawa kemana istri kamu nak?" Tanya sang Papa yang ikut terlihat cemas.
"Mau kerumah sakit pah, ya sudah Frans pamit Assalamu'alaikum." Pamit Frans yang langsung melajukan mobilnya tanpa menunggu jawaban dari sang papa.
"Gimana ini Pah, kayaknya Frans marah sama Mama." Keluh Nani Wijaya, terlihat ada kesedihan di matanya karena melihat Frans yang langsung pergi tanpa mengatakan apapun padanya.
"sudahlah Mah, itu hanya perasaan lama saja anak kita lagi panik karena istrinya yang lagi pingsan." Balas Bambang yang membesarkan Hati Istrinya agar tidak sedih lagi.
"Hum, mungkin kali ya Pah." Kata Nani pasrah.
"Iya Mah, ya sudah sebaiknya kita pulang saja ya, Mah."ajak Bambang sambel ia merangkul pundak istrinya.
"Nanti dong pah, kita kan belum tahu bagaimana keadaan Irma."
"Ya sudah ayo kita susul Frans ke rumah sakit Mah." Ajak Bambang
"Ayo Pah." Balas Nani, dan kemudian mereka langsung berjalan menuju ke mobilnya, dan tak berapa lama mobil pun mulai melaju meninggalkan rumah Frans.
______
Sementara Frans yang baru saja sampai di rumah sakit, ia langsung membawa Irma ke ruang UGD untuk memeriksakan keadaan Irma, sementara Irma sedang diperiksa di ruang UGD, Frans di minta menunggu di luar ruangan, dan ia pun duduk di kursi depan ruang UGD, baru berapa menit ia duduk di sana dari kejauhan tampak orang tuanya menghampiri Frans.
"Gimana keadaan Irma Frans?" Tanya Bambang yang terlihat penasaran.
"Masih di periksa Pah, kenapa Papa dan Mama malah nyusul kemari?" Tanya Frans datar.
"Ya wajar dong nak, kamikan mencemaskan keadaan Irma, dan Mama mau minta maaf sama kalian berdua, karena mama tidak secara langsung menekan Irma." Balas Nani dengan raut wajah yang sepertinya menyesal akan perkataannya pada Irma.
" Makasih karna mama mencemaskan.." Belum habis Frans berkata-kata dokter yang memeriksa Irma keluar dari ruang UGD, membuat Frans menghentikan perkataannya dan ia langsung menghampiri Dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan Istri saya Dok?" tanya Frans yang terlihat masih merasa cemas pada keadaan Irma.
" Istri bapak tidak apa-apa ia hanya membutuhkan istirahat, karana memang wanita yang hamil di trimester pertama ini mudah sekali lelah pak, jadi saya sarankan jangan biarkan istri bapak berpikir yang terlalu berat ya pak, karena salah satu faktor dia pingsan tadi mungkin terlalu banyaknya tekanan." Jelas sang Dokter.
Mendengar perkataan dokter ada kata Hamilnya, Frans seperti tidak percaya akan pendengarannya tadi. " Apa yang Dokter katakan tadi?, istri saya hamil Dok?" Tanyanya yang ingin memastikan lagi.
"Iya Pak, istri Anda saat ini sedang hamil, " jelas Dokter lagi.
"Alhamdulillah, " Ujar Frans serta orang tuanya secara bersamaan.
"Terima kasih Dok, iya saya akan menjaga istri saya agar tidak tertekan lagi." Ujar Frans yang terlihat begitu senang.
"ya sama-sama Pak kalau begitu saya permisi." Pamit sang Dokter yang kemudian ia berlalu meninggalkan Frans berserta keluarga.
"Selamat ya nak, akhirnya kamu akan menjadi seorang ayah juga." Ucap Bambang yang kemudian memeluk Frans penuh rasa bangga.
"Iya Pah terima kasih, dan selamat juga buat papa karena akan menjadi seorang kakek balas Frans yang menyambut pelukan dari sang papa.
" Yana Papa juga berterima kasih karena kamu telah menaikkan pangkat papa menjadi seorang kakek. " Ujar Bambang haru.
" Mama, kok Mama malah menangis?" tanya Frans saat melihat Mama yang sejak tadi diam ternyata sedang menangis.
"Maaf gara-gara Mama, Irma tertekan dan sekarang Ia pingsan, semuanya gara-gara mama hiks.. hiks.." Ujar Nani yang akhirnya tangisnya pecah.
"Alhamdulillah, Mama senang, tapi Mama malu mau ketemu sama Irma."
"Kenapa harus malu mah?"
"Ya karena mama sudah..."
"Sssth, Frans bilang tadi lupakan Mah, sekarang kita lihat Irma saja ya Mah, mungkin sekarang Irma sudah sadar." Potong Frans, yang kemudian ia merangkul pundak sang Mama dan mengajaknya ke ruangan rawat Irma.
"Tapi nak, Mama takut Irma marah sama Mama." Ujar Nani menahan langkahnya.
"Percaya sama Frans, Irma nggak bakalan marah Mah, ayolah pasti Irma sudah sadar sekarang" Ajak Frans lagi, yang kemudian ia kembali melangkah dan masih merangkul pundak sang Mama,
Sesampainya di ruangan Irma, benar saja nampak Irma terlihat bingung,
"Assalamu'alaikum." Salam Frans berserta kedua orang tuanya secara bersamaan.
"Wa'alaikumus salam, " balas Irma yang kemudian ia langsung duduk." Bie, Imah kok di sini?" Tanyanya bingung.
"Ya karena kamu memang butuh istirahat honey." Jawab Frans Asal.
"Eh kenapa harus di rumah sakit, Imah makan mau pulang akh bie." Pinta Irma yang terlihat tidak nyaman.
" Sabar sayang, kata dokter, kamu memang harus istirahat dulu, kamukkan sekarang sedang hamil, Maafin Mama yang kata-kata Mama tadi membikin kamu tertekan." Ujar sang Mama.
Irma tak mendengar perkataan Nani yang lainnya yang ia dengar hanya kata hamil membuatnya penasaran. " Apa Mah?, Imah hamil?!" Sentak Irma yang masih belum percaya.
" iya Sayang kamu hamil Irma, selamat ya, akhirnya kamu akan menjadi seorang ibu." Kata Nani yang kemudian ia langsung memeluk Irma dengan penuh kasih sayang.
"Eh, terima kasih Mah, " Ucap Irma yang masih terlihat belum percaya, hingga di dalam pelukan Nani, tatapan Irma mengarah ke Frans, seperti mencari kebenaran di sana. dan Frans yang mendapatkan tatapan dari Irma seperti paham dan ia pun menganggukkan kepalanya, tanda perkataan sang Mama, benar adanya.
" Alhamdulillah, hiks.. hiks.." Irma langsung mengeratkan pelukannya pada Nani, dan ia pun mengeluarkan air mata kebahagiaan di sana.
Nani kaget saat Irma mempererat pelukannya di tambah lagi ia menangis, membuat Nani menjadi cemas. " Sayang kok nangis?, apakah ada yang sakit, atau apakah kamu ada yang di inginkan?" Tanya Nani cemas.
" Tidak Mah, ini hanya tangisan kebahagiaan kok m
Mah, hiks..." Balas Irma yang masih terdengar isaknya.
" Syukurlah Kalau begitu, Mama pikir kamu kenapa, ya sudah kalau begitu kamu istirahatlah, Mama dan papa pulang dulu ya, biar kamu bisa Istirahat." Ujar Nani sembari ia melepaskan pelukannya terhadap Irma, dan kemudian iya juga menghapus air mata yang tersisa di pelupuk mata Irma.
"Iya Mah, " Balas Irma singkat.
"Ya sudah Mama dan Papa pulang ya Frans, kamu jaga Irma baik-baik." ujar Bambang sambil menepuk pundak Frans.
"Iya Pah, Mama dan Papa juga hati-hati di jalan." Balas Frans.
"Iya Nak, ya sudah kami pamit, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu." Balas Frans dan Irma secara bersamaan, setelah mendapatkan jawaban salam dari anak dan menantunya Bambang dan Nani pun melangkah keluar meninggalkan ruang rawat Irma.
"Bie?". Irma memanggil Frans setelah kepergian kedua mertuanya.
"Iya Honey." Jawab Frans yang kemudian ia menghampiri Irma, karena saat orang tuanya pergi Frans mengantar mereka hanya sampai pintu ruangan saja
"Peluuuk.." kata Irma dengan manja, sembari ia merentangkan kedua tangannya.
"Ay, kenapa jadi manja ya?" tanya Frans kaget saat Irma meminta pelukan, karena memang Irma orangnya sedikit cuek.
"Iikh, emang nggak boleh ya?" kata Irma dengan wajah yang terlihat cemberut dan mata yang sudah berkaca-kaca seperti ingin menangis.
"Boleh dong sayang, tapi bibie heran aja, calon momy kok cengeng dan manja ya?" goda Frans, dengan tangan ia lipatkan ke dada lalu matanya keatas, seperti orang yang sedang berpikir.
"Huh!, bukannya kasih pelukan, malah protes!, udah nggak jadi!" Rajuk Irma yang kemudian ia langsung membaringkan tubuhnya dan menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.
"Ay, jadi merajuk, I'm sorry honey, bibie hanya bercanda." Ujar Frans sambil ia naik ke ranjang rawat Irma dan kemudian ia memeluk istrinya dari belakang, Irma yang mendapatkan pelukan dari Frans ia langsung memutarkan tubuhnya agar ia bisa memeluk Frans dari depan.
"Ay, sudah selesai merajuknya?" Goda Frans sambil tersenyum lucu melihat tingkah Irma yang sedikit Aneh.
"Hum, Imah ngantuk." katanya sambil ia menggesek-gesekkan wajahnya di antara dada dan ketiak Frans, seperti mencari kenyamanan di sana.
"Tidurlah sayang, " Balas Frans sambil mengecup kening Irma, dan tak berapa lama Irma pun tertidur dalam pelukan Frans.
*******