
══ ✥.❖.✥🧡Kalam Habaib 🧡 ✥.❖.✥ ══
Saat kau berbuat sesuatu buatlah karena cinta, karena dimensi cinta itu dapat menghapuskan kesan terpaksa dan memaksa di dalam hatimu.
[ Al Habib Umar bin Hafidz ]
❤اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدْ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ❤
🔸✥.❖.✥✥.❖.✥✥.🧡.✥✥.❖.✥✥.❖.✥🔸
Mendengar jeritan Reyhan, spontan Aziah terduduk. Ia pun terlihat begitu panik, dan dengan cepat ia langsung menekan tombol darurat, untuk memanggil dokter.
"Maafkan Ziah Bang.. Ziah lupa," katanya dengan mata yang sudah terlihat berkaca-kaca.
Karena rasa sakit yang teramat sangat yang ia rasakan. Membuat Reyhan tak merespon perkataan Aziah. Ia hanya memejamkan matanya sambil memegang perutnya.
"Bang... hiks.. sakit banget ya Bang? Hiks.. maafkan Ziah ya Bang...hiks.." Tangis Aziah akhirnya pecah, saat melihat wajah Reyhan, yang terlihat kesakitan hingga ia mengeluarkan keringat jagungnya.
Perkataan Aziah lagi-lagi tidak di respon oleh Reyhan, membuat Aziah semakin ketakutan. Untung saja saat bersamaan Dokter Haris datang bersama seorang perawat.
"Permisi Nyonya Reyhan, bisakah Anda tunggu di luar sebentar?" ujar Haris, dan Aziah pun membalasnya dengan anggukan, wajahnya sudah di penuhi dengan air mata.
Reyhan menatap kepergian istrinya yang terlihat sangat sedih. Sebenarnya ia ingin mengatakan sesuatu padanya. Namun mulutnya seakan terkunci, karena giginya yang terkunci menahan rasa sakit yang amat sangat. Makanya ia hanya bisa memandang kepergian Aziah saja.
Setelah Aziah berada di luar ruangan, dengan tangan yang gemetaran ia langsung mengambil benda pipihnya di dalam tasnya. Sepertinya ia akan melakukan panggilan pada seseorang. Dan tak berapa lama panggilan tersambung.
"Assalamu'alaikum, ada apa dek?" tanya seorang pria dari sebrang.
"Wa'alaikumus salam..hiks.. Bang Azam...hiks...hiks..." balas Aziah yang ternyata ia sedang melakukan panggilan pada Abang tertuanya Azzam.
"Kamu kenapa dek? Kenapa kamu menangis? Apakah kamu di sakiti Reyhan? Iya Dek?" tanya Azzam dari sebrang. Terdengar dari pertanyaannya antara cemas dan marah.
"Hiks.. Enggak bukan bang Reyhan.. hiks tapi Ziah yang nyakitin Bang Reyhan... hiks.."
"Hah? Emang kamu ngapain dek?"
"Ziah nggak sengaja memukul luka Bang Reyhan...hiks...hiks...hiks..."
"Ya sudah Abang kesana sekarang, Abang tutup ya telponnya Assalamu'alaikum"
"Iya Bang, Wa'alaikumus salam" balas Aziah dan panggilan pun berakhir. Dan Aziah pun kembali menyimpan headphone kedalam tas. Lalu ia kembali menangis di kursi tunggu di depan ruang rawat Reyhan.
******
Sementara di dalam ruangan, Reyhan yang sedang ditangani oleh Haris. Terlihat sudah lebih tenang, karena Haris juga sudah memberikan suntikan pereda sakit, pada Reyhan.
"Gimana Dok? Apakah sudah lebih mendingan, sekarang rasa sakitny?" tanya Haris setelah ia kembali menutup luka Reyhan dengan perban kembali.
"Alhamdulillah sudah mendingan Dok," balas Reyhan walaupun wajahnya masih terlihat sangat pucat.
"Ini lukanya sudah saya tutup kembali Dok, tapi setelah ini hati-hati ya Dok, karena takutnya luka akan lama mengeringnya." ujar Haris dengan wajah yang sedikit tersenyum menggoda. Sambil menyuruh pergi suster yang membantunya tadi.
Setelah Suster sudah tak terlihat lagi, Reyhan pun langsung buka suara, dengan cara bicara yang tidak formal lagi. "Kenapa Lo senyum-senyum gitu ma gue? Apa ada yang salah hah?" tanyanya sambil mengerutkan dahinya.
"Hahaha...habis elo, ada-ada aja, baru juga ijab beberapa jam yang lalu. Eh..luka lo langsung terbuka. Ganas juga Lo ya jadi orang? Hahaha.." sindir Haris sambil terkekeh, membayangkan sesuatu yang terjadi antara Reyhan dan Aziah, yang menyenangkan luka Reyhan terbuka.
"Sompret Lo! Pikiran Lo kotor woy! Sono di cuci tuh otak lo di kali Ciliwung biar bersih! Jadi nggak ngeres tuh otak!" hardik Reyhan terlihat kesal pada rekan kerjanya itu.
"Eh lalu kenapa luka Lo bisa berdarah lagi coba?" tanya Haris terlihat penasaran.
"Bukan urusan Lo, udah sono Lo pergi! Dan suruh bini gue masuk cepat! Sssh.." bentak Reyhan kesal, sembari berdesis.
"Huh! Rasain tuh, makanya jangan berbicara bernada kuat dulu, karena itu berpengaruh sama luka Lo, paham ente? Ya sudah gue pergi, sekalian mau panggil bini Lo, Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumus salam" Setelah mendapatkan jawaban dari Reyhan. Haris pun langsung melangkah pergi meninggalkan Reyhan yang masih terbaring di tempat tidurnya.
Sesampainya di luar, Haris langsung di sambut oleh Azzam yang ternyata sudah sampai disana. Dengan Aziah yang berdiri berada di belakangnya.
"Bagaimana keadaan Dokter Reyhan Dok?" tanya Azzam terlihat cemas.
"Alhamdulillah, Dokter Reyhan sudah lebih tenang, dan lukanya juga sudah di jahit kembali. Cuma kalau bisa lebih di jaga lagi ya Pak, karena bisa bahaya kalau luka terbuka, maka penyembuhan akan menjadi lama" ujar Haris. Aziah yang mendengarnya langsung tertunduk. Ada perasaan sedih dan rasa bersalah di dalam dirinya.
"Silahkan Pak, kalau begitu saya permisi dulu" balas Haris dan di anggukkan oleh Azzam. Setelah itu Haris pun pergi meninggalkan Aziah dan Azzam.
"Ya sudah Ayo kita masuk Dek" ajak Azzam setelah Haris pergi.
"Abang aja ya.. Ziah tunggu di sini aja," kata Aziah masih terlihat takut.
"Eh, kok gitu sih Dek? Emang kamu nggak mau lihat keadaan suami kamu? Ingat loh sekarang Reyhan adalah suami kamu Dek" ujar Azzam mengingatkan Aziah.
"Tapi Bang, Ziah takut, melukai bang Reyhan lagi. Jadi Abang aja ya yang masuk, biarkan Ziah tunggu disini ya Bang"
"Dek tadikan kamu nggak sengaja, ayolah jangan buat suami kamu sedih Dek" ajak Azzam lagi sambil menggandeng tangan Aziah, yang akhirnya ia pun pasrah dan mengikuti Azzam masuk kedalam ruangan Reyhan.
"Assalamu'alaikum" salam Azzam setelah mereka berada di dalam.
"Wa'alaikumus salam, eh Lo Zam? Kapan Lo nyampenya?" tanya Reyhan heran.
"Belum lama sih, Karena kebetulan gue belum sampai rumah waktu Ziah telpon." jelas Azzam.
"Eh, Ziah telpon?"
"Iyaa, Lo bilang nggak akan bikin Dia nangis! Baru beberapa menit belum hitungan Jam Lo sudah buat adik gue nangis hah?"
Mendekati perkataan Azzam, Reyhan langsung tersentak kaget karena ia tak merasa membuat Aziah menangis, namun tak berapa lama ia pun teringat saat ia kesakitan tadi. Dan ia melihat Aziah menangis.
"Sorry Zam, gue nggak bermaksud bikin Adek Lo nangis, tadi cuma kecelakaan kecil saja" bela Reyhan, terlihat merasa bersalah.
"Iya gue tahu kok, lagian emang Adek gue aja yang agak cengeng" ledek Azzam, membuat Aziah yang mendengarnya langsung memukul punggung sang Abang karena ia berdiri di belakang Azzam.
"Awuu..kok malah mukul Abang sih Dek? Sudahlah kalau begitu Abang pergi saja!" kata Azzam yang sepertinya ia sengaja agar ia bisa meninggalkan Aziah dan Reyhan berdua kembali.
"Eh, Bang Azam..." panggil Aziah namun tak di hiraukan oleh Azzam ia langsung menghilang di balik pintu. Aziah bermaksud mengejarnya, namun Reyhan segera memanggilnya.
"Ziah, bisakah ambilkan Abang minum? Abang haus sekali." pinta Reyhan, agar Aziah mau mendekatinya lagi.
"Iya bisa Bang bentar Ziah ambil ya" kata Aziah yang kemudian ia langsung menghampiri nakas yang tak berapa jauh dari pembaringan Reyhan.
Setelah ia mengisi gelas dengan air putih ia pun menghampiri Reyhan. "Ini Bang minumnya" kata Aziah yang kemudian ia membantu Reyhan dengan cara mengangkat sedikit kepalanya Reyhan.
"Ziah sudah tidak sedih lagikan?"
_____________
JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR TERUS YA..🙏🥰
Bonusin dengan VOTE bila menyukai karya Author.
Dan LIKE Bila inggin memberikan semangat.
"KOMENTAR para Readers akan menjadi pemicu inspirasi Author..Jadi jangan lupa ya guys 🙏😉 Syukron 😊.
__________
Oh iya sambil menunggu author update kunjungi Novel terbaru Author ya yang berjudul.
*Cinta Si Gadis Tomboi* In syaa Allah Nggak kalah serunya kok dengan novel Author lainnya 😉
cus kepoin ya guys dan berikan dukungan juga oke ini novel terbaru Author.👇👇
Oh iya ada lagi Novel teman author yang paling baik yaitu Author Phopo Nira. pasti kalian tahu dong siapa dia 😉 Jadi Ayo cus kepoin juga Novelnya yang keren-keren nih👇👇👇
Jangan lupa kasih dukungan juga ya sama dia. In syaa Allah kebaikan kalian semua akan di balas dengan kebahagiaan 🥰 Terima kasih 🙏🥰