Permaisuri Jadi Rebutan

Permaisuri Jadi Rebutan
Penuh Keangkuhan


"Sudah kuduga sampah ini datang hanya untuk menyusahkan ayahanda saja, dia kira dia siapa hingga dengan beraninya berkata seperti itu pada ayahanda" batin Maeli Su yang semakin kesal dengan sikap pangeran keempat.


Sedangkan Ray Su yang mendengar perkataan pangeran keempat pun menautkan alisnya karena dia merasa apa yang dikatakan pangeran keempat sangatlah berlebihan.


"Maaf pangeran keempat jika saya boleh tau perlombaan apakah yang pangeran keempat ikuti nantinya di turnamen benua tengah yang akan diadakan sebentar lagi" tanya Ray Su dengan sopan meskipun dia sangat tidak suka akan sikap semena-mena pangeran keempat.


Ray Su bersikap sopan seperti itu karena dia masih menghormatinya sebagai seorang pangeran dari kekaisaran itu, jika tidak sudah pasti Ray Su akan memanggil para pengawalnya untuk menyeret pangeran keempat keluar dari kediamannya dan sudah pasti dia tidak akan pernah diizinkan lagi menginjakkan kakinya dikediaman keluarga Su.


Dengan penuh keangkuhan pangeran keempat berkata "Berpuisi, aku rasa ayah mertua tidak akan sulitkan melakukan apa yang aku minta".


Mendengar jawaban dari pangeran keempat Ray Su, Maeli Su bahkan selirnya sendiri pun Lira Su tertawa mengejek di dalam hati mereka masing-masing, karena mereka bertiga berfikir pangeran keempat akan mengikuti perlombaan yang melebihi dari apa yang dikatakan pangeran keempat barusan, ya setidaknya menggunakan kekuatan otot atau bahkan kemampuan kultifasi.


"Benar-benar suami sampah, pantas saja ayahanda kaisar sama sekali tak memasukkan namanya sebagai kandidat calon putra mahkota, ternyata dia sama sekali tidak berguna hanya karena perlombaan berpuisi saja dia mengajak ku menemui ayahanda benar-benar membuat ku malu saja, jika tau begini aku tak akan mau menemaninya bertemu dengan ayahanda" ucap Lira Su di dalam hatinya dengan penuh kekesalan.


Berbeda dengan Lira Su yang tengah kesal akan perkataan suaminya barusan, Ray Su malah tengah berusaha menahan dirinya agar tak mengeluarkan tawa di depan pangeran keempat "Benar-benar memalukan" ucap Ray Su di dalam hatinya.


Sedangkan Maeli Su sendiri semakin memandang rendah pangeran keempat karena menurutnya apa yang baru saja dikatakan pangeran keempat itu hanya semakin menunjukkan betapa sampahnya pangeran keempat hingga dia pun memikirkan sebuah ide yang sangat menarik baginya.


"Bagaimana ayah mertua, ayah tentu dapat melakukannya kan?" tanya pangeran keempat lagi dengan nada yang arogan.


Mendengar perkataan pangeran keempat barusan, tentu saja semakin membuat emosi Ray Su memuncak dengan berusaha santai Ray Su pun berkata "Mohon maaf pangeran keempat, aku tidak dapat melakukan hal tersebut karena kaisar menempatkan diriku dalam penyambutan tamu bukan dalam penanggung jawab perlombaan".


Pangeran keempat pun langsung berdiri setelah mendengar apa yang dikatakan Ray Su barusan "Jika tau begitu aku tak akan sudi datang kemari" ucap pangeran keempat sembari meninggalkan ruangan tersebut.


Lira Su yang melihat sikap buruk suaminya itu menjadi malu, dia pun dengan segera meminta maaf kepada ayahandanya atas apa yang dilakukan suaminya itu barulah kemudian dia meminta izin untuk segera menyusul suaminya karena sedari tadi suaminya telah berteriak-teriak memanggil namanya.


"Ayahanda fikir adik kedua mu itu akan bersikap sama seperti pangeran keempat, benar-benar diluar dugaan ternyata dia masih tau bagaimana cara bersikap terhadap ayahandanya" ucap Ray Su yang merasa senang akan sikap putri keduanya itu.


Melihat ayahandanya senang Maeli Su pun ikut tersenyum sembari berkata "Benar ayahanda aku pun sangat senang melihat adik kedua masih terus menghormati ayahanda walaupun kini dia telah masuk ke dalam anggota kekaisaran".


Sedangkan pangeran keempat terus menerus mencaci maki tuan besar keluarga Su di sepanjang perjalanan dan hal itu membuat Lira Su semakin merasa bertambah kesal karena walau bagaimana pun dia sangatlah menghormati ayahandanya itu meskipun dia tau jika dirinya bukanlah putri kandung Ray Su namun Ray Su telah memberikan dia kehidupan selayaknya seorang ayah kepada anak kandungnya.


"Benar-benar sampah, kenapa aku dulu mau menikah dengannya ya lebih baik aku segera memikirkan bagaimana caranya lepas dari pangeran sampah ini, karena sepertinya tidak akan ada hal baik yang akan terjadi jika aku terus bersamanya selain itu aku juga belum pernah tidur bersamanya, aku harus membuat dia secepatnya menceraikan aku dari pada aku memiliki anak dari pria sampah sepertinya itu akan jauh lebih memalukan" batin Lira Su.


Di awal pernikahan Lira Su sempat merasa sedih karena pangeran keempat tidak pernah menyentuhnya sama sekali namun seiring berjalannya waktu dia semakin merasa bersyukur akan hal itu sebab perpisahan tanpa adanya seorang anak akan lebih mudah untuk keduanya begitulah yang ada dipikiran Lira Su saat ini karena dia sama sekali tak menginginkan kehidupan yang sulit untuk anaknya seperti yang pernah dia rasakan dulu sebelum dia menjadi putri kedua keluarga Su.


Di tempat lain di kekaisaran barat kini kaisar Hong beserta rombongannya telah bersiap-siap untuk berangkat kekaisaran utara untuk mengikuti turnamen benua tengah, dia merasa senang karena dia akan dapat segera bertemu dengan Maeli Su namun tak ada yang menyadari hal itu selain adiknya Caca Hong.


"Mengapa kakak terlihat begitu bahagia, apakah menghadiri turnamen benua tengah akan begitu menyenangkan hingga membuat kakak begitu bahagia atau jangan-jangan ada hal lain yang membuat kakak begitu bahagia, aku berharap ada wanita yang mampu membuat kakak ku yang dingin ini mencair agar secepatnya aku memiliki keponakan" batin Caca Hong sembari tersenyum sendiri.


"Apalagi jika keponakan ku itu perempuan, wah aku pasti akan sangat bahagia sekali karena aku dapat memasangkan berbagai jenis baju dan juga perhiasan padanya dan bukan hanya itu aku pun dapat menata rambutnya sesuka hati, membayangkannya saja membuat aku begitu senang" sambung Caca Hong kembali di dalam hatinya sembari tersenyum.


Kaisar Hong yang tak sengaja melihat adiknya senyum-senyum sendiri tiba-tiba berkata "Apa yang membuat mu begitu bahagia, hingga wajah mu terus menerus tersenyum seperti layaknya orang bodoh saja".


"Enak saja siapa juga yang bodoh, kakak benar-benar menyebalkan pantas saja di usia kakak yang sudah tua ini masih belum mendapatkan pasangan, mana ada wanita yang mau dengan laki-laki yang super menyebalkan seperti kakak ini" ucap Caca Hong dengan wajah cemberutnya.


Kaisar Hong pun memikirkan apa yang baru saja dikatakan adiknya itu "Apakah nona pertama keluarga Su berpikiran sama seperti adikku yang bodoh ini, aduh bisa gawat jika benar, aku harus memikirkan dengan cepat bagaimana cara untuk mendapatkannya" ucap kaisar Hong di dalam hatinya sembari diiringi dengan perasaan yang cemas.