
"Terima kasih guru karena telah mengajarkan aku banyak hal mengenai racun bahkan kini aku telah berada di tingkat legend bintang dua dan tak lama lagi akan mencapai legend akhir" ucap Nana kepada tetua agung akademi matahari dengan sangat sopan sembari menundukkan kepalanya sebagai bukti hormatnya pada gurunya itu.
Tetua agung pun tersenyum mendengar apa yang baru saja dikatakan Nana kepadanya "Semua pencapaian mu itu bukan hanya karena pelatihan dariku tetapi juga karena kerja keras mu juga" ucap guru Nana tersebut.
"Muridku bolehkah aku menanyakan sesuatu kepada mu?" tanya tetua agung tersebut dengan wajah yang begitu serius.
Melihat ekspresi gurunya yang begitu serius Nana pun dengan segera menganggukkan kepalanya "Tentu saja boleh guru, guru boleh menanyakan sesuatu kepada murid dan selama murid dapat menjawabnya sudah pasti akan murid jawab guru" ucap Nana dengan begitu yakin.
"Apakah kau memiliki tanda lahir berupa bulan sabit hitam" tanya tetua agung tersebut dengan begitu serius, tetua agung menanyakan hal tersebut kepada Nana bukan tanpa sebab, selama tetua agung melatih Nana tetua agung selalu merasakan aura kultivasi yang gelap sama seperti auranya selain itu aura itu hanya akan dimiliki oleh dirinya dan garis keturunannya saja sebab aura itu muncul dari tanda lahir yang mereka miliki, bisa dibilang aura tersebut merupakan aura bawaan bagi keturunan mereka sehingga mereka dapat dengan mudah mengenali setiap keturunan mereka melalui aura tersebut, selain itu aura hitam merupakan aura yang unggul untuk mempelajari ilmu racun sebab mereka memiliki tubuh bawaan yang sangat kebal terhadap racun.
Nana yang mendengar pertanyaan dari gurunya itu pun sangat kaget "Guru bagaimana kau tau aku memiliki tanda lahir seperti itu bahkan selama ini tak ada yang mengetahui tanda lahir tersebut selain nona juga teman ku Lili" ucap Nana sembari menunjukkan tanda lahirnya yang berada lengan kanannya.
Tetua agung yang melihat tanda lahir itu pun tanpa sadar meneteskan air matanya lalu dengan segera memeluk erat Nana "Akhirnya aku menemukan mu, kau adalah cucuku yang telah hilang belasan tahun lalu, tanda lahir yang merupakan bulan sabit hitam itu hanya dimiliki oleh keturunan ku, aku tak pernah menyangka akan dapat menemukan mu" ucap tetua agung akademi matahari tersebut dengan penuh haru karena telah menemukan cucunya yang hilang.
Sedangkan Nana sendiri tak henti-hentinya meneteskan air matanya karena dia tak pernah menyangka jika dirinya masih memiliki keluarga di dunia ini, dulu dia dibesarkan oleh orang tua angkatnya dan karena ekonomi orang tua angkatnya yang tidak baik membuat orang tua angkatnya itu menjual dirinya sebagai seorang budak dan karena hal itulah dia dapat bertemu dengan orang-orang yang begitu baik seperti nonanya Maeli Su juga teman-temannya yang lain bahkan kini dia tanpa diduga dia dapat bertemu dengan kakek kandungnya.
"Kakek, Aku benar-benar sangat senang dapat bertemu dengan kakek jujur saja aku tak pernah menyangka jika diriku masih memiliki seorang keluarga kek" ucap Nana sembari terus menerus meneteskan air matanya dipelukkan tetua agung akademi matahari yang merupakan kakek kandungnya itu.
Tetua agung akademi matahari pun menghapus air mata cucunya itu lalu dia pun membawa cucunya ke ruang keluarga yang ada dikediamannya, setelah itu dia pun menanyakan kepada Nana bagaimana kah kehidupan yang dilalui cucunya itu selama ini.
Nana pun menceritakan semua yang dialaminya kepada kakeknya itu, mendengar cerita dari Nana kakeknya itu pun sangat sedih dan merasa sangat bersalah kepada Nana karena telah membiarkan cucu satu-satunya itu mengalami kehidupan yang sangat menyedihkan itu.
Nana yang melihat kakeknya dipenuhi dengan rasa bersalah pun berusaha menenangkan kakeknya itu dengan mengatakan jika dibalik kehidupan menyedihkan yang dialaminya itu dia juga merupakan orang yang sangat beruntung karena telah dipertemukan dengan orang-orang yang sangat menyayanginya seperti nonanya Maeli Su juga ketiga teman-temannya.
"Kek, maafkan aku karena harus meninggalkan kakek sebab besok aku harus segera kembali ke tempat perjanjian kami, aku yakin nona dan juga teman-teman ku pasti sedang menunggu kedatangan ku" ucap Nana dengan penuh rasa bersalah karena dia baru saja bertemu dengan kakek kandungnya namun kini dia harus segera pergi memenuhi janjinya.
Melihat wajah kakeknya muram Nana pun menjadi semakin tak enak hati "Tenanglah kek, aku berjanji kepada kakek jika aku akan datang kembali ketempat ini bersama dengan nona juga teman-teman ku, aku sangat yakin jika kakek pasti akan menyukai mereka semua, selain itu mungkin saja kakek akan segera mendapatkan calon cucu menantu" ucap Nana dengan malu-malu.
"Hahahaha" tawa tetua agung dengan sangat keras dan hal itu membuat wajah Nana semakin memerah "Baiklah cucuku aku akan sangat menantikan kedatangan mu selanjutnya" ucap tetua agung akademi matahari dengan wajah tersenyum namun di dalam hatinya dia pun telah memikirkan berbagai macam cara untuk menguji orang yang nantinya akan menjadi cucu menantunya itu.
Setelah beberapa saat berbicara Nana pun akhirnya menunda keberangkatannya seminggu lagi hal itu dikarenakan kakeknya yang terus menerus memaksa untuk ikut dengannya jika Nana tak mau tinggal bersama dengannya selama seminggu kedepan.
Seminggu pun telah berlalu kini Alan telah sampai di dalam gua di mana mereka akan bertemu "Ah, sepertinya aku orang yang pertama tiba di tempat ini, kalau begitu aku akan melihat sekeliling ku dahulu siapa tau ada yang telah berubah selama setahun kepergianku" ucap Alan sembari berjalan keluar dari gua dan mengubah penampilannya dengan menggunakan sihirnya hal itu sengaja dia lakukan agar tak ada yang mengenalinya selain itu dia juga memerlukan banyak informasi untuk mengambil langkah kedepannya disaat nonanya juga teman-temannya tiba.
Di tempat lain tepatnya di akademi matahari kini Nana tengah berpamitan dengan kakeknya "Kakek tolong jaga kesehatan mu, selain itu kakek juga harus selalu mengabari keadaan kakek kepada ku jika kakek tak melakukan apa yang aku katakan maka aku tak akan datang kemari lagi bahkan aku juga tak ingin bertemu dengan kakek lagi" ancam Nana pada kakeknya setelah mengetahui bagaimana kehidupan yang dilalui kakeknya selama ini.
"Iya iya kakek pasti akan mendengarkan apa yang kau katakan selain itu kau juga harus menjaga dirimu sendiri" ucap tetua agung akademi matahari tersebut sembari mengusap lembut kepala Nana.
Nana pun tersenyum lebar mendengar apa yang baru saja dikatakan kakeknya itu "Baiklah kek jika begitu aku akan segera melanjutkan perjalanan ku, kakek jangan pernah melupakan semua yang aku katakan tadi" ucap Nana sembari menaiki kuda yang disiapkan oleh kakeknya itu.
Semua orang yang berada di akademi matahari pun ikut melepas kepergian Nana dengan haru, karena mereka tak pernah menyangka dapat bertemu dengan nona muda mereka yang merupakan cucu dari tetua agung selain itu juga mereka sangat kagum dengan kemampuan nona muda mereka itu.
Sedangkan ditempat lain "Dug gedug gedug" suara pintu batu yang terbuka "Akhirnya pintu ini terbuka juga, selain itu aku akan segera mencari keberadaan nona, aku yakin dengan kemampuan ku saat ini aku dapat menemukan nona meskipun memerlukan banyak waktu" ucap Leo di dalam hatinya dengan penuh keyakinan karena kini tingkat kultivasinya telah mencapai tingkat agung selain itu hewan kontranya yang merupakan seekor singa telah mencapai tingkat dewa sehingga warna bulunya pun berubah dari warna emas menjadi warna merah seperti api yang sedang menyala.
Leo yang telah keluar dari gua pun berusaha mencari keberadaan nonanya Maeli Su dengan bantuan hewan kontraknya dengan cara merasakan aura Momo pada pedang miliknya.