
Pertandingan selanjutnya pun dimulai yaitu pertandingan memanah, untuk pertandingan ini semua peserta lomba dibagi menjadi dua kelompok, dan nantinya hanya di ambil lima orang dari setiap kelompok yang nantinya akan mengumpulkan sepuluh orang terbaik untuk mencari pemenangnya.
Maeli Su dan Eli Su tak henti-hentinya memberi semangat kepada Bryn Su, bahkan mereka tak ragu untuk berteriak sangat kencang, hal itu membuat Bryn Su sangat senang dan juga semakin meningkatkan keinginannya untuk memenangkan pertandingan itu.
Tak perlu waktu lama Bryn Su pun berhasil terpilih sebagai salah satu dari sepuluh orang yang berhak lanjut ke babak akhir.
Dengan semangat yang sangat membara Bryn Su membidik sasarannya dan kesepuluh bidikkannya berhasil mengenai target yang ditetapkan, hingga membuat dia berhasil memenangkan pertandingan itu.
Maeli Su dan Eli Su sangat senang akan kemenangan yang di dapatkan oleh saudara laki-laki mereka itu, hingga dengan segera mereka berlari ke arahnya dan segera memeluknya sembari memberikan begitu banyak pujian padanya.
Semua orang yang melihat mereka pun merasa senang dengan kehangatan keluarga yang mereka tunjukkan, bahkan Ray Su, nyonya rumah La Xia dan selir Aria pun begitu bahagia melihat hal itu.
"Dasar anak-anak kampungan, mereka seperti tak memiliki tata kerama saja" ucap selir Zia Le dengan wajah tak sukanya.
Mendengar perkataan itu membuat nyonya rumah tak ingin tinggal diam "Jika iri karena melihat keakraban mereka maka tutuplah saja mata mu itu, agar tak melihatnya dan tentu saja dengan begitu rasa iri itu juga tak akan timbul" ucap nyonya rumah La Xia dengan wajah marah menata ke arah selir Zia Le.
"Aku hanya mengatakan kebenaran saja" jawab selir Zia Le yang tak mau kalah.
"Yang mana yang kau sebut kebenaran apakah rasa iri mu itu? Jika itu yang kau maksud maka apa yang kau katakan barusan itu benar" ucap Nyonya rumah yang mulai geram akan sikap selir Zia Le.
"Untuk apa mengurusi hal yang bukan urusan mu dan juga kau tak perlu mengomentari hal yang tak membutuhkan komentar mu, kau bisa lihat sendiri hanya kau saja yang merasa iri, bahkan yang lainnya merasa senang akan kedekatan mereka" sambung selir Aria dengan penuh penekanan di setiap katanya.
Setiap kata yang diucapkan oleh selir Aria dapat membuat selir Zia Le tak berani lagi berkata, dia sangat kesal akan hal itu hingga membuatnya mengepalkan tangannya sekuat-kuatnya sebagai bentuk pengluapan emosinya.
Perlombaan puisi pun kini telah dimulai, untuk lomba kali ini di bagi ke dalam tiga kelompok dimana disetiap kelompok akan dipilih satu orang yang terbaik untuk menuju babak akhir.
Semua peserta pun telah berada di tempat mereka masing-masing, karena banyaknya peserta yang ada hingga Maeli Su tak menyadari jika Lili pun ikut serta.
Setelah pemilihan tiga orang telah selesai dilakukan barulah Maeli Su menyadari keberadaan Lili yang tengah berdiri di depan matanya sebagai tiga peserta terbaik yang akan memperebutkan posisi pertama.
Dengan segera Maeli Su memanggil nama Lili dan terus menyemangatinya, hal tersebut membuat Lili sangat senang dan membuatnya semakin ingin menampilkan penampilan terbaiknya.
Sedangkan yang lainnya merasa aneh atas apa yang dilakukan Maeli Su untuk salah satu orang yang sedang berada di depan mata mereka, sebab mereka tau jika yang tengah di semangati oleh Maeli Su bukanlah saudaranya atau bahkan bagian sari anggota keluarga Sunya, lantas siapakah dia? Begitulah pertanyaan yang berada di dalam kepala seluruh orang saat itu.
Perlombaan kembali dilanjutkan dan tak perlu waktu yang lama pemenang pun telah ditetapkan "Acara perlombaan puisi di menangkan oleh Lili pelayan pribadi nona pertama keluarga Su" ucap kasim yang mengumumkan lomba puisi itu dengan lantang, ucapan kasim tersebut mampu membuat semua orang terkejut akan kebenaran tersebut.
"Aku semakin menyukai nona pertama keluarga Su, bahkan pengawal dan dua pelayannya saja dapat memenangkan perlombaan ini, dan aku juga lihat sendiri bagaimana mana berbakatnya dia di bidang tari, aku rasa berita yang tersebar mengenai dia itu sampah hanyalah ungkapan bohong semata, aku tak masalah jika wajahnya buruk, karena aku pribadi lebih mengutamakan bakat" ucap putri Sia di dalam hatinya sembari melihat ke arah Maeli Su dengan penuh rasa kagum.
Perlombaan selanjutnya ini adalah perlombaan yang paling di tunggu para laki-laki yaitu perlombaan bertarung, pada perlombaan kali ini setiap orang akan melawan satu orang, di bolehkah menggunakan senjata apa pun tetapi tidak dibenarkan membunuh.
Satu persatu peserta pun naik, perlombaan ini lumayan memakan waktu yang lama hingga beberapa jam berlalu barulah menyisakan empat orang untuk melaju di babak akhir.
Sedari tadi Maeli Su sangat lah heboh karena dia selalu menyemangati dan juga memanggil satu nama, yang tentunya membuat semua orang tidak akan terkejut lagi, bahkan beberapa orang berhasil menebak siapa orang yang saat ini namanya terus dipanggil dan disemangati oleh Maeli Su.
Hingga saat ini hanya tersisa dua orang saja untuk merebut gelar juara semua orang pun sangat menantikan hasilnya begitu pula dengan Maeli Su.
Tung....
Perlombaan terakhir pun di mulai.
"Leo... Leo... Leo... Pasti menang" ucap Maeli Su berulang-ulang kali dengan penuh semangat.
Lawan yang Leo hadapi bukanlah lawan biasa dia adalah pangeran ketiga yang merupakan laki-laki muda yang di anggap paling kuat di kekaisaran ini.
Pangeran ketiga berusaha melihat tingkatan Leo namun dia tak berhasil melihatnya, hingga membuat dia menganggap remeh Leo yang saat ini merupakan lawannya.
Tingkatan Leo dan juga bawahan Maeli Su yang lain tidak dapat di ketahui oleh siapapun selain Maeli Su, karena Maeli Su telah memberikan mereka berempat sebuah pil yang dapat menutupi tingkatan pelatihan mereka.
Saat ini pangeran ketiga berada di tingkat grand master bintang satu, dan tingkatan itu merupakan tingkatan yang langka di ke kaisaran ini sehingga dia pun merasa dialah yang akan memenangkan pertandingan ini.
Padahal tanpa sepengetahuan dia Leo berada di tingkat yang jauh lebih tinggi darinya, yaitu grand master bintang tiga, jika mereka bertarung dengan perbedaan dua bintang itu akan sangat jelas siapa pemenangnya meskipun memakai waktu yang agak lama jika perlombaan itu di lakukan dengan serius.
Namun bagaimana jika pangeran ketiga menganggap remeh Leo yang memiliki tingkatan dua bintang di atasnya, bukankah akhir dari pertandingan ini pun sudah dapat di tentukan hanya dalam waktu yang singkat.
Tung...
Perlombaan pun di mulai, pangeran ketiga sangat meremehkan Leo hingga dengan penuh percaya diri sembari diiringi dengan tatapan merendahkan dia berkata "Aku akan memberikan kepada mu kesempatan lebih dahulu menyerang ku sebanyak tiga kali, dan aku pastikan aku tak akan membalas serangan mu itu".