Permaisuri Jadi Rebutan

Permaisuri Jadi Rebutan
Menciut


"Ibunda aku tidak ingin menjadi selir aku ingin menjadi permaisuri" ucap Lira Su yang sudah beberapa kali mengatakan hal yang sama pada ibundanya selir Zia Le selama beberapa hari ini.


"Ah anak yang satu ini, benar-benar melelahkan" ucap selir Zia Le di dalam hatinya.


"Nak, ibunda juga tak ingin kau menjadi selir tapi apa yang bisa ibunda lakukan? Bahkan dikediaman ini saja ibunda tak punya kekuatan" ucap selir Zia Le dengan lembut sembari menenangkan anaknya.


"Aku tidak peduli ibunda silahkan ibunda pikirkan saja caranya sendiri, apa ibunda tidak mau melihat ku menjadi permaisuri?" tanya Lira Su yang menatap sendu kearah ibundanya.


Mendengar perkataan dari anaknya itu seketika dia pun tersenyum "Tentu saja ibunda mau melihat mu menjadi permaisuri karena itu juga akan membuat ibunda memiliki kekuatan dikediaman ini" jawab selir Zia Le dengan sangat senang.


Setelah keduanya berfikir cukup lama, akhirnya selir Zia Le menemukan cara untuk menyelesaikan masalah putrinya itu.


"Ayo kita pergi ke tempat orang yang dapat membantu masalah mu" ajak selir Zia Le kepada anaknya itu.


Lira Su pun hanya mengikuti langkah ibunya hingga tak lama mereka semua pun telah tiba dikediaman Maeli Su.


"Ibunda untuk apa kita kemari, sampah itu tak akan bisa menyelesaikan masalah ku saat ini" ucap Lira Su dengan sedikit kesal karena ibundanya malah membawanya ke rumah Maeli Su bukan malah menemui ayah handanya atau pun menemui nyonya rumah yang mungkin saja bisa membantunya.


"Tenanglah apa kau lupa jika sampah ini memiliki dekrit pembebasan dari pernikahan oleh kaisar, kita paksa saja dia menyerahkannya kepada mu dan mengganti namanya dengan namamu dengan begitu kau tak perlu menjadi selir pangeran ke empat" jelas selir Zia Le yang membuat Lira Su tersenyum karena ide yang dikatakan ibundanya sangatlah luar biasa.


"Ibunda benar-benar sangat luar biasa kalau begitu ayo kita masuk ibunda jangan sampai kita menyia-nyiakan waktu kita" ucap Lira Su dengan penuh semangat.


Begitu mereka menginjakkan kaki di kediaman Maeli Su mata mereka tak henti-hentinya memandang sekeliling kediaman itu karena terlihat sangat indah dan juga sangat berkelas berbeda sekali dengan terakhir kali mereka datang.


"Ibunda kenapa kediaman si sampah itu menjadi seindah ini? Aku juga ingin membuat kediaman ku lebih indah dari pada kediaman sampah ini" ucap Lira Su yang masih terus memuji keindahan kediaman Maeli Su di dalam hatinya, meskipun di bibirnya masih terus menghina.


"Kau benar nak, ibunda juga akan membuat kediaman ibunda lebih cantik dari kediaman ini" sambung selir Zia Le yang setuju dengan pendapat anaknya.


Sesampainya mereka di depan pintu masuk mereka pun mencoba langsung membuka pintu seperti yang biasa mereka lakukan, namun sayang pintu itu tak terbuka sama sekali bahkan ada dua orang pengawal Maeli Su yang datang menghampiri mereka.


"Mohon maaf jika ingin bertamu silahkan ketuk pintunya terlebih dahulu" ucap Alan dengan sopan.


Mendengar seorang pengawal mengajari mereka, sontak membuat mereka berdua pun mulai marah "Kau tau siapa kami? Berani-beraninya kau mengajari kami" ucap Lira Su sembari menunjuk-nunjuk kearah Alan.


"Kami tau siapa kalian , namun jika kalian tak bisa mengikuti aturan baru dikediaman ini, jangan salahkan kami menyeret kalian semua agar keluar dari kediaman ini" ucap Leo Su dengan sangat tegas karena dia tak suka melihat sikap sombong mereka bahkan nona mereka saja sangat menghargai mereka.


Lira Su semakin marah dan masih tetap menunjukkan tangannya yang kini berpindah ke arah Leo belum sempat dia berkata dia sudah lebih dahulu menarik tangannya setelah melihat siapa yang ada di hadapannya kali ini dia juga tau seberapa kuatnya Leo dan bisa gawat jika orang ini yang menyeret mereka begitulah pikir Lira Su.


"Masih ada yang ingin dikatakan? " tanya Leo lantang.


Alan dan Leo pun berlalu dari tempat itu dengan perasaan lucu karena telah menghadapi kedua orang itu, bagaimana tidak lucu awalnya berkoar-koar begitu di ancaman sedikit langsung menciut benar-benar hanya orang-orang yang bermulut besar.


"Tok... Tok... Tok..."


Suara pintu di ketuk, dengan segera datanglah Nana yang membukakan pintu tersebut.


"Maaf Selir dan nona kedua, apakah ada keperluan dengan nona jika ada biar saya sampaikan terlebih dahulu" ucap Nana dengan penuh sopan.


Mereka berdua pun semakin geram untuk bertemu dengan seorang sampah saja sangat lah sulit namun mereka tetap harus berusaha menahan emosi mereka jika tidak semua rencana mereka akan sia-sia.


"Katakan pada nonamu jika kami ingin bertemu dengannya sekarang, dan jangan membuat kami menunggu terlalu lama" ucap Selir Zia Le dengan penuh kekesalan.


Nana pun mempersilahkan mereka duduk di kursi yang telah disediakan dan dia pun berlalu menuju ke tempat Maeli Su berada.


"Wah dekorasi ruangan ini benar-benar sangat luar biasa" kata selir Zia Le.


"Ibunda benar dan aku baru pertama kali melihatnya" sambung Lira Su.


Mereka pun tak henti-hentinya menatap sekeliling ruangan itu.


"Nona, Selir Zia Le dan nona kedua ingin bertemu dengan anda bahkan mereka mengatakan agar nona secepatnya menemui mereka dan jangan sampai membuat mereka menunggu" jelas Nana.


"Dasar arogan biarkan saja mereka menungguku selama satu jam disitu, dan juga ajak Lili untuk menyiapkan minuman beserta makanan ringan untuk mereka, ya hitung-hitung agar mereka tidak bosan" ucap Maeli Su sembari melanjutkan kembali pekerjaannya yang tengah meracik pil tingkat tinggi.


Nana pun segera mencari Lili untuk mengajaknya menyiapkan hidangan sesuai dengan apa yang dikatakan nonanya, tak perlu waktu lama mereka pun keluar membawa minuman dan juga beberapa makanan.


"Mana sampah itu, kenapa tidak segera keluar?" tanya Lira Su dengan nada sombongnya.


Hal tersebut membuat Nana dan Lili pun geram karena ada orang yang telah terang-terangan berani menghina nona mereka, namun mereka masih tetap berusaha untuk tidak menunjukkan amarahnya.


"Nona tengah menyelesaikan pekerjaannya jika telah selesai, nona akan segera menemui selir dan juga nona kedua" ucap Nana tanpa ekspresi.


Melihat perubahan ekspresi pada kedua pelayan itu seketika membuat selir Zia Le atau pun Lira Su tak ingin banyak bertanya lagi, sebab mereka takut jika salah satu dari pelayan itu akan memanggil pengawal yang berada diluar untuk mengusir mereka.


Padahal tanpa bantuan kedua pengawal itu pun Nana dan Lili dapat dengan mudah membuat mereka keluar dari kediaman itu namun mereka sama sekali tak mengetahuinya, yang mereka tau jika mereka berdua hanyalah ahli di bidang tari dan puisi.