Permaisuri Jadi Rebutan

Permaisuri Jadi Rebutan
Bersikap Berbeda


"Ibunda aku tak mau lagi berurusan dengan wanita gila itu, dia benar-benar dapat membuat ku takut, mungkin selamat dari kematian membuatnya tak takut apa pun lagi dan menjadi segila itu" ucap Lira Su dengan raut wajah pucat, karena dia masih teringat akan kejadian dikediaman kakak pertamanya Maeli Su.


"Ibu rasa kau ada benarnya nak, lebih baik besok kita bertemu ayah handa mu saja untuk membicarakan semua ini" ucap selir Zia Le dengan penuh pertimbangan.


Apa yang baru mereka alami tadi merupakan pengalaman yang sangat mengejutkan untuk jantung mereka yang sehat, bayangkan saja jika mereka memiliki riwayat sakit jantung bukankah itu akan sangat berbahaya sekali.


Tok... Tok... Tok...


Mira Su pun masuk ke dalam ruangan itu dengan wajah yang ditekuk "Ibunda, apasih yang ibunda lakukan bersama kakak hingga membuat kalian lari terbirit-birit" tanya Mira Su dengan kesal.


"Bagaimana kau bisa tau jika aku dan ibunda habis lari terbirit-birit" tanya Lira Su yang terkejut karena adiknya bisa mengetahui kejadian yang sangat memalukan baginya maupun ibundanya.


Mira Su pun semakin kesal, pasalnya pertanyaan yang diberikannya bukannya malah mendapatkan jawaban ini malah kembali mendapatkan pertanyaan.


"Bagaimana mungkin aku tidak tau, jika seluruh orang yang tinggal di kediaman ini semuanya sibuk membicarakan kejadian yang memalukan itu bahkan gara-gara hal itu aku saja sampai tak berani menampakkan wajah ku dihadapan orang lain lagi, kan kakak dan ibunda tau sendiri bagaimana cepatnya gosip tersebar di kekaisaran ini kenapa harus melakukan hal sememalukan itu sih" jelas Mira Su dengan wajah ketusnya.


Sontak mereka berdua pun kaget dengan apa yang barusan mereka dengar "Apa? Bagaimana ini, ini akan sangat memalukan jika semua orang mengetahuinya, ibunda apa yang harus kita lakukan" ucap Lira Su yang mulai merengek kepada ibundanya selir Zia Le karena tak mau reputasinya semakin hancur karena hal itu.


Apa yang mereka lakukan merupakan perbuatan yang sama sekali tidak mencerminkan sikap seorang bangsawan, dan jika hal itu tersebar maka bisa dipastikan banyak para bangsawan lain akan menjauhi mereka, bahkan tak segan-segan akan menatap sinis kearah mereka parahnya lagi mereka juga harus siap menerima setiap cemoohan yang akan terus menerus keluar untuk mereka.


"Ibunda juga tak tau harus melakukan apa, yang pasti itu bukanlah masalah yang harus kita pusingkan untuk sekarang ini, kini kita harus fokus bagaimana caranya membuat status pernikahan mu bisa berubah dari selir menjadi permaisuri atau jika pun tidak bisa berubah cukup pernikahannya saja yang dibatalkan" jawab selir Zia Le dengan yakin.


"Aduh percuma aku berbicara panjang lebar dengan ibunda dan kakak, sama sekali tak menyelesaikan masalah" ucap Mira Su yang semakin sangat kesal akan jalan pemikiran ibunda dan kakaknya itu.


Dia pun memutuskan untuk pergi dari kediaman Lira Su itu, namun sesampainya di pintu dia pun sengaja berbalik "Aku rasa kakak harusnya lebih bersyukur karena pangeran keempat masih mau mengangkat kakak menjadi selirnya, jika orang lain jangankan untuk menjadikan kakak selirnya melamar kakak saja mereka sudah dipastikan tidak akan mau, karena tak akan ada yang sanggup menerima kakak dengan begitu banyaknya keburukan kakak yang tersebar" ucap Mira Su dengan penuh amarah akan kakaknya yang tak pernah sadar akan posisinya sama sekali.


"Ibunda juga jangan hanya terus menerus mengikuti keinginan kakak saja, padahal ibunda sendiri pun tau apa yang diinginkan kakak tak akan pernah mungkin terwujud" sambung lagi Mira Su yang kemudian segera keluar dari ruang itu sembari menutup kuat-kuat pintu itu.


"Tenanglah nak tenang, dia itu masih terlalu kecil mana paham dengan apa yang kita rencanakan" ucap selir Zia Le yang berusaha menenangkan putrinya Lira Su, meskipun kini di dalam hati dia yakin jika apa yang dikatakan anaknya Mira Su juga benar adanya dan hal itu pun berhasil membuatnya mulai ragu.


"Sekarang tenangkanlah dirimu, tidak mungkin kita akan bertemu ayah handa dengan kondisi mu yang seperti ini, ibunda juga akan segera kembali ke kediaman ibunda untuk beristirahat sekaligus memikirkan bagaimana cara membujuk ayah mu memenuhi permintaan mu besok" ucap selir Zia Le yang langsung keluar dari ruangan itu.


Mendengar perkataan yang barusan dikeluarkan ibundanya seketika Lira Su pun tersenyum kembali karena dia merasa jika dirinya masih memiliki harapan untuk menjadi seorang permaisuri "Jika wanita secantik dan seanggun aku hanya menjadi selir itu akan sangat menyayangkan kecantikan dan keanggunan ini" ucap Lira Su sembari terus memuji dirinya sendiri.


Mira Su yang telah kalut, akhirnya memutuskan untuk menemui ayah handanya karena dia sangat merasa frustasi ketika bercerita dengan ibunda dan kakak kandungnya sendiri "Mungkinkah dia dan aku benar-benar kakak beradik kandung? Kenapa pemikiran kami hampir selalu tidak sejalan" keluh Mira Su yang tengah berada di depan gerbang kediaman utama karena menanti ayah handanya mengizinkannya masuk.


Tak berselang lama Mira Su pun segera menuju ruangan yang telah di katakan pengawal setelah mendapatkan izin masuk dari ayah handanya.


Tak jauh dari tempat dia berada saat ini dia melihat jika ayah handanya tengah berbincang dengan kakak pertamanya, dan tanpa sadar dia pun memerhatikan mereka, dari raut wajah yang dia tangkap dia tau jika ayah handanya merasa sangat nyaman berbicara dengan kakak pertamanya itu begitu pula sebaliknya.


Dia pun jadi tak enak hati untuk menghentikan pembicaraan mereka, "Nak kemarilah kenapa hanya berdiam diri disana" ucap Ray Su yang merasa heran melihat anak bungsunya hanya diam berdiri dan tak mendekat ke arahnya.


Mira Su pun segera mendekat dan dengan segera Maeli Su menggeser bokongnya dari kursi itu untuk menempati kursi satunya, melihat hal itu membuat Mira Su semakin tak enak hati dengan kakak pertamanya itu, karena selama ini dia telah berbuat kurang baik padanya, meskipun dia hanya ikut menghina saja tanpa ikut melukai atau pun yang lainnya.


"Kakak pertama tidak apa-apa biarkan saja adik yang duduk di kursi yang satunya" ucap Mira Su penuh sopan.


"Sudahlah dik, tidak apa-apa silahkan duduk saja bukankah kita juga bukan orang, lantas kenapa harus sesegan itu" ucap Maeli Su sembari tersenyum.


Mira Su pun sangat senang dengan kebaikan dan kehangatan yang di dapatkannya dari Maeli Su karena selama ini dia lah yang akan selalu mengalah pada kakaknya, bahkan kakaknya tak segan-segan menyuruhnya pindah ketempat lain jika tempat yang sedang dia duduki merupakan tempat yang disukai kakaknya.


Dan ini juga pertama kalinya dia di sambut hangat oleh ayah handanya, biasanya ketika dia menghadap ayah handanya saat bersama ibunya juga kakaknya tidak pernah di sambut sehangat ini, mereka bertiga hanya ditatap dengan datar dan hanya membicarakan hal seperlunya saja.


"Ternyata ayah handa akan bersikap berbeda jika aku hanya menemuinya sendiri saja, lalu kenapa ibunda tak pernah mengizinkan aku bertemu dengan ayah handa seorang diri? Sepertinya ada yang tidak benar" batin Mira Su yang mulai merasa aneh dengan sikap ibundanya yang melarang dia dekat dengan ayah handanya dengan berbagai macam alasan".