
Pagi ini Maeli Su dan bawahannya tengah bersiap-siap untuk pergi ke pasar untuk membeli beberapa keperluan di kediamannya.
Sepanjang perjalanan mereka berbicara layaknya seorang teman hingga membuat banyak pelayan atau pun pengawal merasa iri akan hal itu.
"Aku sangat iri dengan mereka, bahkan mereka bisa berbicara se santai itu dengan nona pertama, jika kita melakukan itu pada nona kita bukankah kita akan di hukum" ucap seorang pelayan.
"Iya kau benar mereka semua sangatlah beruntung" sambung pelayan lainnya.
Sesampainya di pasar semua matapun mengarah kepada mereka karena ini kali pertama Maeli Su keluar dari kediamannya tanpa menggunakan kain penutup wajah.
"Aku benar-benar heran bagaimana mungkin ada orang yang berani menyebarkan kebohongan tentang nona pertama keluarga Su, aku rasa banyak yang iri dengannya" ucap seseorang yang sedang melihat kearah Maeli Su dengan penuh kekaguman.
"Kau benar bahkan terakhir kali gosip pun bertambah jika putri pertama keluarga Su telah menderita penyakit menular, setelah kulihat-lihat sepertinya aku tak apa-apa dekat dengannya siapa tau akan tertular sedikit saja kecantikannya" ucap yang lainnya.
Kegaduhan di pasar pun terjadi karena mereka semua sibuk membicarakan nona pertama keluarga Su yang kini telah menjadi idola bahkan beberapa dari mereka berkhayal untuk dapat menikahinya yang kini mereka sebut dengan dewi mawar.
Maeli Su dapat mendengar semua yang mereka bicarakan dan dia juga tau siapa saja dalang di balik semua gosip yang beredar tentangnya, tentu dia tak akan hanya tinggal diam akan hal itu, dia pasti akan membalas mereka dengan cara yang jauh lebih menyakitkan.
Saat ini mereka tengah berhenti disebuah rumah makan, saat Maeli Su tengah melihat sekeliling tempat itu dia melihat ada sosok yang tak asing baginya dia pun dengan segera menuju ke arah sosok tersebut dan sebelumnya dia berpamitan terlebih dahulu kepada para bawahannya karena dia tak ingin membuat mereka khawatir.
"Permisi tuan dapat kah saya duduk bersama anda?" tanya Maeli Su dengan sangat sopan.
Yang ditanyaipun hanya menganggukkan kepala sebagai tanda dia telah setuju akan pertanyaan Maeli Su.
Maeli Su mulai kesal dengan sikap orang yang ada dihadapannya namun dia masih berutang ucapan terima kasih sehingga mau tidak mau dia harus dapat menahan amarahnya.
"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada tuan karena telah memberikan saya sepasang anting yang sangat cantik, saya benar-benar menyukainya" ucap Maeli Su dengan senyum merekahnya.
Mendengar hal itu laki-laki itu pun dengan segera merasa senang sebab pemberiannya disukai oleh wanita yang dipilihnya.
"Aku ingin menunjukkan sesuatu kepada mu" ucap laki-laki itu sembari membuka topi lebar yang terdapat kain untuk menutupi wajahnya.
Maeli Su sangat terpesona melihat pemandangan indah yang ada didepannya hingga tanpa sadar dia pun tertegun untuk sesaat.
"Ingatlah wajah ini, karena wajah inilah yang nantinya akan mendampingi mu" ucap laki-laki itu yang kemudian membuat Maeli Su tersadar dari lamunannya.
"Kalau setampan ini siapa sih yang tidak mau, bahkan aku akan rela jika dia membawa ku kawin lari" batin Maeli Su namun dia harus menunjukkan keengganannya dihadapan laki-laki itu agar tak dianggap murahan.
"Kalau mengenai itu kita lihat saja kedepannya" ucap Maeli Su yang kemudian berlalu meninggalkan laki-laki itu.
"Tenang saja tidak akan ada yang berani merebut mu dari ku, karena mereka tak akan mampu bersaing dengan ku" ucap laki-laki itu sembari keluar dari rumah makan itu sembari meninggalkan topi besarnya.
Maeli Su pun kini kembali duduk di meja yang tadi di pesannya, makanan pun telah terhidang begitu banyak, dia pun menyuruh para bawahannya untuk ikut makan bersamanya.
Awalnya mereka menolak namun setelah di desak terus menerus akhirnya mau tidak mau mereka pun ikut makan bersama dengan nonanya.
Di kediaman keluarga Su, kini telah tiba seorang kasim, dua orang pengawal kekaisaran dan juga pangeran keempat.
Semua anggota keluarga Su pun diminta berkumpul di kediaman utama, setelah semua berkumpul tampak pangeran keempat mencari-cari keberadaan nona pertama keluarga Su namun dia sama sekali tidak menemukannya itu berarti yang dicarinya sedang tidak ada di kediaman itu.
Melihat kedatangan utusan kaisar dan pangeran keempat membuat Lira Su sangat senang karena dia sangat yakin kedatangan mereka untuk membacakan dekrit pernikahan antara dirinya dengan pangeran keempat.
"Dengarkan baik-baik, aku membawa dekrit pernikahan dari kaisar dimana pangeran keempat Daren Lu akan menjadikan nona kedua keluarga Su Lira Su sebagai selirnya, dekrit ini tidak dapat diubah kedepannya." ucap kasim dengan suara yang lantang.
Seketika wajah Lira Su berubah menjadi masam "Apa? Menjadi selir, tidak tidak tidak aku tidak mau aku hanya ingin menjadi permaisuri" ucap Lira Su di dalam hatinya.
Perbincangan mengenai pesta pernikahan pun dilakukan di sepanjang perbincangan Lira Su lebih banyak diam dan hal itu membuat pangeran keempat menatap sinis kearahnya.
"Apakah kau pikir posisi permaisuri pantas untukmu? Masih syukur aku mau menampung mu sebagai selir di kediaman ku, dengan reputasi buruk mu aku yakin tak akan ada orang yang berani menikahimu" batin pangeran keempat.
Perbincangan pun kini telah selesai dilakukan, pangeran keempat beserta rombongannya te lah pergi dari kediaman keluarga Su, melihat kepergian pangeran keempat dengan seketika Lira Su pun pergi dari ruangan itu tanpa meminta izin terlebih dahulu.
"Selir Zia Le apakah kau tak mengajari anak kesayangan mu itu tata kerama, sehingga dengan sesuka hatinya meninggalkan ruangan ini?" tanya nyonya rumah dengan nada mencemooh.
Selir Zia Le merasa sangat malu atas teguran yang diberikan nyonya rumah didepan banyak orang "Maafkan putri saya nyonya rumah sepertinya dia hanya merasa terlalu senang dengan berita ini sehingga dia ingin segera meluapkan kegembiraannya" ucap selir Zia Le.
"Tuan besar dan juga nyonya rumah, aku mohon undur diri untuk melihat putri ku" ucap selir Zia Le lagi dan segera meninggalkan ruangan itu bersama anaknya Mira Su sebelum mendapatkan persetujuan dari tuan besar ataupun nyonya rumah.
"Benar-benar buah tidak jatuh terlalu jauh dari pohonnya" ucap nyonya rumah.
Setelah berbincang-bincang sebentar mereka pun satu persatu izin undur diri untuk meninggalkan ruangan itu.
Di tempat lain Maeli Su tengah bersiap-siap untuk kembali ke kediamannya, karena semua barang yang di perlukannya telah didapatkannya bahkan dengan harga yang murah.
"Memang enak sekali menjadi cantik, bahkan belanja pun hanya bayar setengahnya saja" batin Maeli Su dengan wajah gembiranya.