Permaisuri Jadi Rebutan

Permaisuri Jadi Rebutan
Syok


"Ayah handa jika begitu aku undur diri terlebih dahulu, selamat istirahat ayah handa" ucap pangeran kedua pada kaisar setelah mereka berbicara cukup lama.


Pangeran kedua pun kembali ke kediamannya, sepanjang perjalanan dia memikirkan bagaimana cara untuk menarik hati nona pertama keluarga Su.


Di tempat lain di kediaman Maeli Su, Maeli Su kini telah duduk di kursi tamu bersama dengan para bawahannya.


"Kalian tau aku sangat bangga dengan kalian, aku tak pernah menyangka jika kalian akan ikut serta perlombaan itu dan kalian juga mampu memenangkannya" ucap Maeli Su yang menatap mereka secara bergantian di penuhi dengan binar mata kekaguman.


Mereka berempat pun merasa malu karena mendapatkan pujian dari nonanya hingga tanpa sadar pipi mereka pun memerah seperti kepiting yang di rebus.


"Ah nona itu bukan apa-apa" ucap mereka serentak sembari menatap ke arah lain, karena mereka tak mungkin menatap ke arah nonanya dalam ke adaan malu-malu.


"Aduh mereka benar-benar menggemaskan" batin Maeli Su yang masih menatap ke arah para bawahannya yang menurutnya semakin bersifat konyol.


Sedangkan di kediaman Lira Su kini dia tengah meluapkan kemarahannya dengan cara melempar barang-barang yang ada di kamarnya bahkan dia juga memukul dan menarik rambut pelayannya.


"Ahhhhhh...., dasar kurang ajar kenapa dia bisa menjadi secantik itu, aku benar-benar semakin membencinya, akan ku pastikan wajah mu kembali rusak seperti dulu" teriak Lira Su.


Keesokkan paginya Maeli Su bersama para bawahannya pergi ke kediaman utama untuk bertemu Ayah handanya Ray Su.


"Ayah handa apa yang sedang ayah handa lakukan?" tanya Maeli Su yang heran melihat ayah handanya tengah menggoyang-goyangkan botol.


Ray Su pun segera menghentikan kegiatannya itu dan menatap ke arah anaknya dengan senyuman lembut "Ayah handa hanya iseng saja" jawab Ray Su.


"Ayah handa ingin memberikan sesuatu pada mu, kemarilah mendekat pada ayah handa" ucap Ray Su lagi.


Maeli Su pun segera menuruti perkataan ayah handanya dan ayah handanya kini memberikan botol yang sedari tadi di pegang ayah handanya kepadanya, Maeli Su pun mengambil botol itu.


"Ayah handa apakah yang ada di dalam botol ini" tanya Maeli Su yang kini kembali ke tempat duduknya yang semula.


"Isi botol itu adalah satu tetes air surgawi, ayah yakin air itu dapat membantu kultifasi mu" jawab Ray Su dengan penuh keyakinan.


"Satu tetes? Lalu bagaimana ekspresi ayah handa jika tau aku memiliki banyak air surgawi, aku rasa ayah handa bisa terkena serangan jantung" ucap Maeli Su di dalam hatinya dan tanpa sadar dia pun tersenyum lucu.


Melihat putri kesayangannya itu tersenyum Ray Su pun merasa heran "Nak apakah ada yang lucu? Kenapa kau tersenyum seperti itu" tanya Ray Su.


"Tidak ada ayah aku hanya teringat sesuatu saja" jawab Maeli Su kikuk karena seperti ketahuan telah melakukan kesalahan.


Dengan menghela nafas yang sangat kuat Ray Su pun berkata "Ayah handa masih berada di tingkat master bintang akhir, ayah handa juga tidak mengerti mengapa sangat sulit untuk menaikkan tingkat" jawab Ray Su.


"Kalau begitu ayah handa gunakan saja air surgawi ini untuk menaikkan tingkat" ucap Maeli Su yang langsung meletakkan botol di atas meja.


Ray Su pun segera menolaknya "Tidak nak tidak, kamu jauh lebih membutuhkannya dari pada ayah handa, ayah handa juga pernah mendengar air surgawi dapat membantu seseorang membuka titik meridian, dan ini akan sangat membantu mu hingga kau juga dapat berkultifasi" ucap Maeli Su.


"Ayah handa memang sangat baik berbeda sekali dengan dady, bagaimana jika ayah handa tau jika seluruh titik meridian ku telah terbuka atau bagaimana jika ayah handa tau jika sekarang aku berada di tingkat mytic bintang dua aku rasa ayah handa pasti akan pingsan mendadak" batin Maeli Su sembari tersenyum sangat tipis hingga Ray Su tak menyadarinya.


"Ayah handa tidak perlu mengkhawatirkan aku, aku pasti bisa menyelesaikan masalah ku sendiri" ucap Maeli Su dengan penuh keyakinan.


Ray Su pun masih terus memaksa Maeli Su untuk menerima botol itu, akhirnya Maeli Su mendapatkan ide untuk mengatasi pemaksaan ayah handanya itu.


Seketika Maeli Su mengeluarkan sepuluh botol kecil di hadapan Ray Su hal tersebut sempat membuat Ray Su terlihat sangat syok karena sangat jarang orang di kekaisaran utara yang memiliki benda dimensi.


"Wah gawat jika ayah handa jantungan, aku jadi merasa bersalah melakukannya tapi mau bagaimana lagi ayah handa sangat keras kepala" batin Maeli Su.


Dengan seketika Maeli Su berjalan ke arah ayah handanya dan memukul pelan pundak ayah handanya itu untuk menghilangkan kesyokkan yang tengah melanda ayah handanya.


"Ayah handa, ayah handa, apakah ayah handa baik-baik saja" tanya Maeli Su dengan raut wajah khawatirnya.


Ray Su pun seketika tersadar dari kesyokkan yang dialaminya "Ayah tidak apa-apa nak" jawab Ray Su yang merasa malu karena terlihat begitu terkejut di depan anak kesayangannya.


"Ayah sepuluh botol ini berisi air surgawi dan di tiap-tiap botolnya berisi satu tetes air surgawi, aku juga masih memilikinya dan ini semua kudapatkan dari guruku" jelas Maeli Su yang paham dengan pertanyaan yang ada di kepala ayah handanya itu.


"Apa? Sepuluh tetes" ucap Ray Su dengan mulut menganga pasalnya seorang kaisar saja hanya bisa mengumpulkan tiga tetes tapi anaknya bisa memiliki banyak tetes secara cuma-cuma.


"Aduh Ayah handa kau memang sangat lucu dan juga aneh, ops aneh tidak tidak tidak ayah handa tidak aneh dia hanya lucu saja" batin Maeli Su.


"Ayah handa gunakanlah air surgawi ini untuk meningkatkan kultifasi mu, apalagi ayah handa merupakan kepala keluarga sekaligus pemimpin bagi kediaman Su ini" ucap Maeli Su.


Cukup lama Ray Su berfikir hingga akhirnya dia pun menyetujui usul dari anak kesayangannya itu "Baiklah ayah akan menerimanya ayah juga akan berjanji padamu untuk segera meningkatkan kultifasi ayah" ucap Ray Su dengan penuh tekad.


Cukup lama mereka berdua berbincang-bincang hingga tak terasa hari mulai siang, Maeli Su pun meminta izin kepada ayahnya untuk kembali ke kediamannya, Ray Su sempat menawarkannya untuk ikut makan siang bersamanya namun Maeli Su menolaknya karena ada hal penting yang harus di lakukannya.


Maeli Su telah pergi dari kediaman utama, Ray Su merasa sangat bangga sekaligus sangat bersyukur memiliki putri yang sangat cantik dan juga sangat berbakti seperti Maeli Su "Sayang, andai kau masih ada aku yakin kau juga pasti akan sangat bangga pada putri kita" ucap Ray Su yang mengingat mendiang istrinya.