Permaisuri Jadi Rebutan

Permaisuri Jadi Rebutan
Salah Satu


"Apa sih yang dikatakan anak ini, sepertinya dia tadi mengatakan salah satu dari lima orang yang ingin aku angkat menjadi murid pribadi ku? Apa Jangan-jangan yang dimaksud anak ini adalah salah satu dari lima orang yang menggunakan jubah itu" ucap guru besar akademi matahari di dalam hatinya lalu dia pun dengan segera menghentikan pekerjaannya.


"Apakah orang yang kau maksud itu salah satu dari orang yang menggunakan jubah? Bukankah berita yang tersebar jika mereka berlima telah hilang dan sedang dicari-cari oleh orang-orang dari keluarga Su bahkan kaisar Hong yang merupakan kekaisaran yang terdekat dengan kita saja sedang mencari keberadaan mereka" ucap guru besar akademi matahari tersebut sembari mengingat-ingat berita yang menjadi pusat perhatian semua kalangan beberapa waktu ini.


"Apa jangan-jangan dia memisahkan diri dari teman-temannya karena dia ingin masuk ke perguruan ku ini, jika benar itu adalah kabar yang sangat luar biasa untuk akademi matahari ku ini" ucap guru besar tersebut dengan begitu bahagia, mendengar apa yang baru saja dikatakan gurunya itu murid senior itu pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja.


"Guru, aku rasa kau jangan terlalu senang dulu karena biasanya jika kau begitu senang sudah pastikan akan selalu berakhir dengan tidak baik seperti sebelum-sebelumnya" ucap murid senior tersebut dengan sengaja mengucapkan kata-kata tersebut secara tegas.


Mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh muridnya itu guru besar pun merasa sangat kesal "Dasar murid kurang ajar seharusnya kau itu senang karena guru mu ini akan segera mendapatkan murid dan kau juga akan segera memiliki adik seperguruan" ucap guru besar matahari tersebut dengan menatap tajam ke arah muridnya itu.


"Aduh guru kenapa kau menatap ku begitu bisa-bisa bola mata guru keluar dari tempatnya, selain itu bukannya aku tidak senang jika guru memiliki murid baru tapi aku hanya mengatakan kebenarannya saja, bukankah selama ini apa yang terjadi selalu berlawanan dengan apa yang guru harapkan jika guru sudah sangat senang akan sesuatu di awal" ucap murid senior tersebut sembari mengingat-ingat semua hal yang pernah dialami gurunya itu.


Mendengar perkataan itu guru besar pun terdiam beberapa saat "Ah ini benar-benar gawat bagaimana jika apa yang dikatakan oleh murid ku yang durhaka itu benar, ah kenapa aku bisa lupa jika diriku ini juga memiliki kesialan yang membuatku menjadi semakin bertambah kesal saja" ucap guru besar tersebut di dalam hatinya.


"Tidak usah menceramahi guru mu, dasar kau murid durhaka bagaimana bisa dulu aku mengangkat mu sebagai salah satu murid pribadi ku, aku benar-benar sangat menyesal" ucap guru besar tersebut sembari melangkahkan kakinya.


Melihat gurunya mulai berjalan beberapa langkah murid senior itu pun berteriak dengan begitu lantang "Guru kau mau kemana, guru berjalan ke arah yang salah" Guru besar yang mendengar apa yang baru saja dikatakan muridnya itu pun dengan segera menghentikan langkah kakinya "Ah benar juga apa yang dikatakan murid sialan itu, aku kan belum tau dimana orang itu berada" batin guru besar tersebut.


"Kalau begitu kau jangan hanya diam saja disitu, sekarang cepat bawa aku ke tempat dimana dia berada" ucap guru besar matahari tersebut dengan sangat kesal.


Melihat gurunya sangat kesal murid senior itu pun tersenyum senang "Ayo guru ikuti aku dan berjalanlah di belakang ku, jangan coba-coba berjalan di depan ku karena bisa saja guru akan mengambil jalan yang salah" ucap murid senior tersebut dengan wajah jahilnya.


Mendengar perkataan gurunya murid senior itu pun tak sanggup lagi menahan tawanya hingga dia pun tertawa terbahak-bahak di hadapan gurunya "Guru, guru, berhentilah marah bisa-bisa penyakit darah tinggi guru kambuh, jika itu terjadi maka guru akan kehilangan calon murid guru" ucap murid senior tersebut dengan perasaan senang karena dia telah berhasil membuat gurunya sangat kesal dan itu adalah yang sangat sering dia lakukan karena baginya melihat wajah gurunya kesal sangatlah menyenangkan baginya.


"Teng" bunyi dari kepala murid senior yang telah di pukul dengan begitu kuat oleh gurunya hingga membuat kepalanya ditumbuhi benjolan "Aduh guru kenapa kau memukul murid mu sendiri, guru benar-benar orang yang berhati dingin hingga tak segan-segan membuat muridnya sendiri seperti ini" ucap murid senior tersebut sembari meringis kesakitan memegang kepalanya.


Mendengar perkataan muridnya itu guru besar pun memelototinya "Diamlah jika kau tak ingin mulutmu yang busuk itu berakhir seperti kepala mu" ucap guru besar matahari hari tersebut dengan tatapan yang mematikan.


"Geluk" bunyi yang berasal dari murid senior itu karena menelan ludahnya "Ah sepertinya guru sudah benar-benar menjadi sangat marah kalau begitu aku akan diam untuk sementara waktu, jujur saja aku masih ingin nyawaku melekat pada tubuhku karena dengan begitu aku masih memiliki kesempatan lain untuk menjahili guru" batin murid senior tersebut sembari tersenyum licik.


"Berhentilah memikirkan hal-hal bodoh karena saat aku berhasil menjadikannya murid pribadiku maka aku akan segera menendangmu dari gelar murid pribadi guru besar" ucap guru besar tersebut sembari memberikan sebuah pukulan lagi di kepala muridnya itu namun kali ini tidak terlalu kuat.


Mendapatkan pukulan lagi murid senior itu pun meringis kesakitan "Aduh guru, kenapa kau memukul lagi dan juga kenapa kau berkata sekejam itu kepada muridmu sendiri, ah aku benar-benar telah menyesal karena memberitahukan informasi yang sangat bagus pada guru " ucapnya dengan wajah yang terlihat begitu kasihan.


Tak berselang lama mereka berdua pun telah tiba di kediaman tetua agung "Lihatlah guru, bukankah dia merupakan salah satu dari lima orang berjubah itu" ucap murid senior tersebut sembari menunjuk kearah Nana berada.


Guru besar pun menatap ke arah Nana beberapa saat lalu wajahnya pun menjadi sangat senang "Iya kau benar, dia memang salah satu dari mereka dan kau tau apa yang membuat ku menjadi sesenang ini karena dia itu merupakan orang yang ahli dalam racun dan itu sama seperti ku juga tetua agung" ucap guru besar tersebut dengan begitu senang dan mereka pun dengan segera menghampiri Nana yang kini tengah duduk di depan kediaman tetua agung.


"Mohon maaf mengganggu nona, perkenalkan aku adalah murid senior di perguruan matahari dan ini guruku sekaligus guru besar di akademi ini" ucap murid senior tersebut dengan sopan.


Mendengar apa yang dikatakan murid senior itu Nana pun dengan segera menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat kepada guru besar yang merupakan kepala akademi matahari "Kalian sama sekali tak mengganggu ku, perkenalkan nama ku Nana, mohon maaf guru besar apakah kedatangan guru besar kemari karena ingin bertemu dengan tetua agung?" ucap Nana dengan begitu sopan.