Perjalanan Rhaiza

Perjalanan Rhaiza
Part 07


Di dalam ruang VIP vino sudah mulai menjalankan aksinya. Ia membuka minuman dan menuangnya ke gelas dan tak lupa pula sambil menuangkan obat yang sudah di rencanakan nya.


"kenapa si tin kamu nga mau sama Vanessa ???. Tanya Vino sambil menyodorkan minuman yang sudah di beri obat.


" aku nga suka saja sama sifat dan perilaku dia.." jawab Martin.


Mereka pun meminum minumannya. Tetapi mata Vino terus memperhatikan Martin yang meminum minumannya dalam sekali teguk.


" walaupun kamu nga suka sama Vanessa. Tapi malam ini kamu akan jadi milik Vanessa.Vino membatin sambil tersenyum kemenangan.


"ya kamu maklumi aja lah sifatnya si Vanessa. Ia kan di manja banget sama orang tuanya."kata Vino.


"sikap manja nya itu it's oke, Tapi sifat sombong dan pemarahnya itu aku nga bisa vin" jawab Martin sambil menuang minuman ke gelasnya lagi.


Selang kurang 15 menit Martin sudah mulai merasakan pusing di kepalanya. Badannya pun sudah merasa gerah.


"kamu kenapa tin ???" Vino berpura-pura bingung melihat Martin yang merasakan pening di kepalanya.


" nga apa-apa. Aku cuma pening saja. "jawab Martin


" sebaiknya kamu balik ke kamar mu saja deh. Dari pada makin parah" Vino berpura-pura cemas.


"ok... Aku balik ke kamar duluan yah. Kamu nga apa-apa kan aku tinggal sendiri???" tanya Martin.


"kamu pikir aku anak kecil ??? Ya nga papah lah" jawab Martin meyakinkan.


Martin pun berjalan keluar dari ruangan VIP tersebut. Karena merasa sangat pening akhirnya Martin berjalan sempoyongan. Rhaiza yang sudah melihat Martin seperti itu berpura-pura menabrak Martin dan mencoba bertanya kepada Martin apa ia memerlukan bantuan.


"Gudubrak....!!!." suara jatuh


Suara Rhaiza dan Martin jatuh ke lantai dengan posisi yang bisa di bilang sangat ambigu. Bagaimana tidak Martin jatuh pas menindih tubuh Rhaiza.


"maaf apa tuan bisa menyingkir dari tubuh ku.??? Kau berat sekali." tanya Rhaiza dengan muka kesalnya.


"maafkan aku. Aku tidak sengaja" jawab Martin sambil menyingkir dari atas tubuh Rhaiza


"sepertinya tuan sakit. Apakah tuan membutuhkan bantuan.???? Tanya Rhaiza


" apakah kau bisa menolong ku.??? Bisakah kau mengantar ku ke kamar hotel ku yang di atas.??? Martin meminta tolong sambil menahan rasa tidak nyaman di tubuhnya.


Rhaiza membawa Martin ke kamarnya. Karena kebetulan klub tempat kerja Rhaiza sebenarnya adalah sebuah hotel berbintang yang fasilitas nya sangat lengkap termaksud klub malam.


Rhaiza sudah sampai di depan kamar hotel, Tetapi belum bisa masuk karena kartu VIP kamarnya belum ada.


"di mana kartu kamar mu.??? tanya Rhaiza.


" ada di saku dalam jas ku."jawab Martin.


Rhaiza mengambil kartu kamar tersebut dan langsung membuka kamar hotel VIP tersebut dengan tergesa-gesa karena Martin sudah mulai susah mengendalikan dirinya.


Rhaiza masuk dan membaringkan Martin di kamarnya tapi karena Martin sudah kehilangan kendali dirinya. Martin pun memeluk Rhaiza dengan erat dan berbisik.


"tolong aku. Aku tidak bisa mengendalikan diri ku." Martin pun memeluk dan mulai ******* bibir Rhaiza dengan rakusnya.


"oh ****..." Rhaiza mendorong Martin dengan menggunakan sedikit tenaga dalamnya.


Rhaiza langsung menotok Martin agar tidak dapat bergerak lagi.


"benar-benar sial. Kau mengambil ciuman pertama ku brengsek. Tapi aku akan memaafkan mu karena muka tampan mu itu. Jadi anggap saja kau beruntung malam ini karena aku tidak langsung membunuh mu" Rhaiza berbicara dengan Martin yang sudah kehilangan setengah kesadarannya.


Karena Martin di totok sehingga tak bisa bergerak dan kesadarannya pun sudah hilang. Rhaiza kemudian mengambil posisi dan mengeluarkan tenaga dalamnya untuk mengeluarkan obat yang tadi Martin minum.


Sedangkan di ruang VIP Vino sudah menelpon Vanessa untuk datang menemuinya karena tugasnya sudah selesai.


"tugas gue udah selesai. Tinggal bagian mu saja van" vino bicara melalui telepon.


"Thanks vin. Kamu memang yang terbaik. Aku otw ke kamar Martin.


Sedangkan di kamar hotel Martin. Rhaiza sudah mengeluarkan/menetralkan obat tersebut sehingga efeknya sudah menghilang.


" akhirnya selesai juga." Sambil berdiri dan melepaskan totokannya kepada Martin.


"aku harus buru-buru keluar dari kamar ini. Karena ia akan sadar semenit lagi."Rhaiza keluar kamar Martin secepat mungkin. Di saat Rhaiza sudah keluar kamar. Martin pun sadar.


" Arrgggg ......!!!, kepala ku sakit sekali " Martin memegang kepalanya yang masih terasa sakit.