
Akhirnya Silver duduk diantara Keenan dan Tessa supaya pengantin baru itu terpisah sementara waktu.
Silver memaklumi karena memang keduanya saling memintal rindu setelah empat tahun lamanya tidak bertemu.
"Kau harus segera mendaftarkan pernikahanmu, Kee," ucap Silver mulai membuka suara.
"Pedro sudah mengurus semua dokumen-dokumen yang diperlukan," sahut Keenan.
"Baguslah, berarti kita tinggal membuat pesta resepsi. Aku dan Flo yang akan mengurus itu jadi tugasmu..." Silver memicingkan matanya pada Keenan. "Jangan membuat Tessa kelelahan atau sakit!"
"Sekarang cara berjalan menantuku sudah seperti kepiting ditambah bekas merah dan gigitan di tubuhnya!"
Silver jadi kembali emosi kemudian dia mencoba menasehati putranya. "Aku tahu kau sangat menyukai Tessa tapi dia bukan objek yang bisa kau pakai sesuka hatimu, jadikan wanitamu sebagai subjek, jangan melakukannya hanya karena nafsu semata!"
"Dan untuk anak, kalian tidak perlu buru-buru karena usia kalian masih muda. Saat kita menjadi orang tua, kita mempunyai tanggung jawab yang besar!"
Kemudian Silver menghela nafasnya sambil menggenggam tangan Tessa.
"Mommy menunggumu besok di mansion, kita akan merancang pesta resepsi bersama," ucap Silver yang nada bicaranya melembut.
"Terima kasih, Mom," sahut Tessa bersyukur sekali bisa mempunyai mertua seperti Silver.
Setelah cukup berkunjung, Silver meninggalkan apartemen Keenan. Dia juga tidak mau mengganggu Keenan dan Tessa lebih lama lagi.
Sementara Keenan dan Tessa masih terdiam di kursi sofa.
"Mommy sepertinya membawa cemilan, apa kau mau?" tanya Tessa mencoba mencairkan suasana.
Sebuah gelengan kepala yang didapatkan Tessa sebagai jawaban. Tessa jadi takut, Keenan akan menghindarinya lagi.
"Aku tidak apa-apa, anggap saja seminggu ini honeymoon kita," ucap Tessa kemudian.
Keenan meraup wajahnya kasar, dunianya dipenuhi oleh Tessa sekarang.
"Benar kata mommy, aku memang selalu memperlakukan wanita hanya sebagai objek, begiku mereka hanya sebuah alat pemuas tapi itu dulu," ucap Keenan merasa bersalah.
"Bagaimana kalau kita menemui Sebastian dan Luke?" usul Tessa.
Keenan kembali tersenyum sambil mengacak rambut istrinya. "Kau selalu bisa membuat moodku membaik, sebenarnya dua teman laknat itu juga berjasa untuk malam pertama kita!"
"Tapi, jangan sampai kau membicarakan malam gelap-gelapan itu, okay."
"Sepertinya hal itu akan aku pendam sampai mati!"
Akhirnya mereka sepakat untuk menemui Sebastian dan Luke di sebuah bar mini.
Tessa berpakaian tertutup untuk menutupi tanda-tanda merah pada tubuhnya, dia juga memakai make up tipis supaya terlihat fresh.
"Tessa!" panggil Sebastian dan Luke bersamaan saat melihat wanita yang sudah empat tahun menghilang itu.
"Apa kabar kalian?" Tessa menautkan pipinya pada Sebastian dan Luke bergantian.
"Tidak ada yang berubah selain menua," jawab Sebastian.
"Aku harap kalian sudah berubah lebih baik," ucap Tessa lagi.
"Apa kau mau menulis surat rekomendasi neraka untuk kami lagi?" tanya Luke terkekeh jika mengingat masa lalu.
"Aku sudah lama mencabutnya," balas Tessa.
Sementara Keenan hanya diam saja, dia ikut duduk dan memanggil pelayan untuk memberikan minuman soda saja.
"Kenapa Dude? Kau sudah berhenti minum?" tanya Sebastian.
"Tidak, aku hanya sedang menjaga kesehatanku, aku kasihan pada Keesa. Kalau hidupku tidak sehat kualitasnya akan menurun," jawab Keenan.
"Keesa?" tanya Luke yang pandangannya mengarah pada Tessa.
Tessa jadi bingung menjawab apa. "Itu nama pabrik bayi kami!"