My Naughty Boss

My Naughty Boss
Bonchap 6 - Masih Kecil


Tessa menggosok tubuh Keenan menggunakan body lotion. Mereka hanya diam, membuat kamar yang mereka tempati terasa hening.


"Aku tidak tahu ini berfungsi atau tidak, yang jelas aku tidak mau tubuh suamiku merah-merah begini," ucap Tessa membuka suara.


Saat ini posisi Keenan membelakangi Tessa dan sedetik kemudian lelaki itu merasakan wajah Tessa menempel di punggungnya.


"Besok kita ke psikiater, ya?" bujuk Tessa.


"Aku tidak gila sayang," tolak Keenan seraya membalik badannya.


"Ke psikiater itu belum tentu kita gila, kita hanya berkonsultasi, jika kau mengalami trauma dan berpengaruh ke psikis, sebaiknya kita datang ke ahlinya!" Tessa terus berusaha membujuk.


Keenan meraup wajahnya kasar. "Kalau sampai ada yang tahu aku datang ke psikiater, pasti aku dianggap mempunyai penyakit jiwa dan posisiku kembali dipertanyakan!"


"Nah, pikiran seperti itu, kau harus membuang pikiran yang belum tentu terjadi, Kee!" seru Tessa.


Tessa menyatukan keningnya dengan Keenan. "Aku dan anak-anak kita membutuhkanmu, aku tidak mau kau kenapa-kenapa, setidaknya lakukan demi bibit Keesa!"


Keenan membuang nafas kasar, sepertinya Tessa berhasil membujuknya.


"Baiklah," balas Keenan kemudian.


_


Keesokan harinya, Keenan bekerja hanya setengah hari saja karena Tessa sudah membuat jadwal dengan seorang psikiater.


"Tolong rahasiakan semuanya, Ped. Termasuk pada daddy," ucap Keenan sebelum meninggalkan kantor.


Pedro mengangguk. "Baik. Dan besok sudah weekend beristirahatlah dengan cukup, Bos!"


"Saya suka melihat Bos yang kelewat percaya diri dari pada seperti sebelumnya!"


Mendengar itu, Keenan jadi tergelak, rasanya memang sudah lama dia tidak berbicara dengan cermin.


"Aku harap ketampananku tidak memudar," ucap Keenan.


"Kau sangat tampan sekali, Bos!" seru Pedro supaya Keenan kembali seperti semula.


"Padahal yang membuat saya jadi perjaka tua itu adalah kau, Bos," batin Pedro menjerit.


Tidak mau membuang waktu lagi, Keenan keluar dari gedung kantornya. Dia kali ini meminta supir yang menyetir mobil.


Tessa sudah menunggu di salah satu rumah sakit, perempuan itu juga mendaftarkan diri ke dokter kandungan. Dia ingin Keenan melihat calon bayi-bayi mereka, supaya lelaki itu percaya bahwa bibit Keesa baik-baik saja.


"Sayang?" panggil Keenan saat sampai.


Tessa berdiri dari tempat duduknya untuk menyambut suaminya yang datang.


"Apa kau sudah siap?" tanya Tessa.


Keenan menganggukkan kepala kemudian mereka masuk ke ruangan dokter ahli kejiwaan tersebut. Berbagai pertanyaan Keenan jawab di sana, dia tidak mau menutup-nutupi apapun.


Sampai dokter memberikan beberapa obat yang harus Keenan konsumsi setiap harinya. Keenan juga harus sering berkonsultasi secara berkala.


"Terima kasih, Dok," ucap Tessa saat sesi pemeriksaan selesai.


Tessa dan Keenan keluar dari ruangan psikiater bersama, belum ada percakapan diantara mereka sampai Tessa mengajak suaminya ke ruangan dokter kandungan.


"Selamat datang, Nyonya," sapa sang dokter kandungan. "Apa ada masalah?"


Dokter kandungan itu langsung to the point karena jadwal periksa Tessa seharusnya minggu depan.


"Saya baik-baik saja, Dok. Suami saya ingin melihat keadaan perkembangan janin yang saya kandung," jawab Tessa.


Akhirnya Tessa berbaring untuk melakukan USG sementara Keenan terus menatap layar monitor untuk melihat calon bayi-bayinya.


Saat Keenan melihat gumpalan daging yang mempunyai dua kantung itu terlihat, Keenan langsung tersenyum.


"Astaga, mereka sangat kecil," batin Keenan tersentuh.


"Tunggu sampai rumah, ya. Nanti daddy siram lagi supaya kalian cepat besar!"