
Tessa pikir Keenan hanya bercanda tapi ternyata benar, Keenan tidak menyentuhnya sama sekali. Acara baby moon mereka dihabiskan untuk quality time tanpa hubungan intim seperti yang direncakan Keenan.
Tidak masalah awalnya tapi Keenan benar-benar tidak menyentuh Tessa sampai usia kandungan memasuki trimester ketiga.
Keenan justru semakin sibuk dengan urusan kantor tapi tidak mengurangi perhatiannya pada kehamilan istrinya.
Justru Keenan mempekerjakan baby sitter untuk membantu Tessa.
"Apa aku sudah tidak menarik lagi?" gumam Tessa saat melihat tubuhnya di depan cermin. Perut Tessa semakin membesar ditambah berat badannya yang naik drastis.
"Pasti karena aku jadi segendut ini," tambahnya.
Bayi-bayi di perut Tessa seketika bergerak tidak karuan, Tessa mengusap perutnya supaya anak-anaknya tenang.
"Apa kalian merindukan daddy?" tanya Tessa kemudian.
Sementara Keenan sendiri tengah melakukan rapat di kantornya, dia harus menyelesaikan pekerjaan penting sebelum Tessa melahirkan.
"Setelah ini ada undangan jamuan, Bos," ucap Pedro setelah rapat selesai.
"Baiklah, aku akan pergi sendirian saja, kau bisa makan siang bersama istrimu," balas Keenan.
"Terima kasih, Bos!" Pedro kesenangan.
Bukan tanpa alasan Keenan melakukan itu, Pedro dan Mishel sangat profesional di kantor karena mereka terikat kontrak kerja, mereka menjadi partner kerja saat di kantor dan jadi suami istri saat jam kantor selesai. Bahkan mereka menunda memiliki anak selama masa kontrak kerja belum berakhir.
"Aku keren," batin Keenan saat melihat bayangan dirinya di dalam lift. Dia tidak menyangka sebentar lagi akan menggendong dua bayi.
Setelah acara jamuan selesai, Keenan pergi ke toko bunga sebelum pulang ke rumah. Dia membeli 3 buket bunga, satu untuk Grandma Kate, satu untuk Silver dan satu lagi untuk istri tercinta.
"Saya tambah satu lagi," ucap Keenan saat mengingat jika keluarga kecil Flo datang hari ini.
"Tolong kirimkan ke alamat yang sudah saya tulis," pinta Keenan.
Setelah selesai, Keenan bergegas pulang ke rumah, dia sudah merindukan Tessa seharian ini.
"Kami tidak berani membangunkan nyonya, Tuan," ucap salah satu pelayan.
Keenan pelan-pelan duduk di samping istrinya yang tertidur, rupanya Tessa baru saja membacakan dongeng untuk bayi-bayi mereka.
Karena tidak sanggup menggendong Tessa lagi, Keenan hanya bisa menunggu Tessa terbangun.
"Kee?" panggil Tessa saat terbangun setelah beberapa menit berlalu.
"Apa tidurmu nyenyak?" tanya Keenan.
Keenan memberikan bunga yang sudah dia beli sebelumnya. "Bunganya sedikit layu!"
"Tapi, masih cantik," komentar Tessa seraya mencium bunga itu.
"Bersiap-siaplah sayang, kita akan ke mansion daddy, kak Flo datang," ucap Keenan.
"Ah, Raphael datang..." Tessa bersemangat sekali. Dia bergegas ke kamar untuk membersihkan diri.
Merasa ada kesempatan, Tessa ingin sedikit menggoda Keenan sebelum mandi.
"Kee, aku kesulitan mandi sekarang," ucap Tessa mengandung sejuta modus.
"Pasti karena perutmu semakin besar," sahut Keenan seraya membantu Tessa membuka baju. "Karena aku hari ini pulang cepat, aku akan membantumu mandi sayang!"
"YES!!" Tessa bersorak dalam hatinya. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Keenan mengisi bath up dengan air hangat kemudian menyuruh Tessa untuk masuk.
"Aku akan mencuci rambutmu dulu sayang," ucap Keenan perlahan-lahan membasuh rambut istrinya kemudian memberinya shampoo.
Setiap sentuhan yang Keenan lakukan terlihat normal, tangan lelaki itu tidak nakal seperti yang sudah-sudah.
"Kee, apa aku memang tidak menarik lagi di matamu?" tanya Tessa. Pada akhirnya Tessa tidak tahan dan ingin bertanya langsung pada suaminya.