
"Silahkan, Nona," ucap resepsionis memberi kunci kamar pada Tessa.
Tessa menyewa sebuah kamar di salah satu penginapan sambil menunggu pengumuman kupon undian.
"Terima kasih," sahut Tessa menerima kunci kamarnya.
Memang benar kata suster, setelah ini Tessa harus menetap di suatu tempat. Apalagi saham-saham yang dia beli juga selalu menguntungkan jadi tabungan Tessa lebih dari cukup untuk membeli tempat tinggal.
Tessa membanting dirinya di atas ranjang kamarnya. Rasanya begitu melelahkan setelah melakukan perjalanan panjang.
"Sebaiknya aku menghabiskan waktu dengan perawatan selama di pulau Borgia, aku harus terlihat cantik dan segar saat bertemu Kim Jong Doo, kalau pun aku tidak menang, aku kan bisa minta tanda tangannya," gumam Tessa sambil senyum-senyum.
Kalau dipikir-pikir, Tessa tidak pernah melakukan kencan karena terus berpindah-pindah tempat.
"Apa ini pertanda jodoh dari Tuhan?" tambah Tessa yang berkhayal tingkat tinggi mempunyai suami artis.
"Bagaimana wajah anak kami nanti, campuran wajah barat dan Asia,"
Tessa mengguling-gulingkan badannya sampai khayalan itu pudar saat guling yang dia peluk berubah menjadi Keenan.
"Seharusnya kau membayangkan wajah anak kita, Tessa!" pekiknya.
"Aaaa...." Tessa berteriak karena bayangan Keenan itu begitu nyata. "Apa aku menderita gejala malarindu?"
_
_
_
_
Store parfum Flo terus dibanjiri pengunjung yang membuat stok parfum dan kupon habis dalam waktu singkat.
"Tim produksi sampai kewalahan, sebaiknya event harus segera ditutup karena stok bahan baku masih dalam perjalanan," ucap Flo saat melakukan rapat.
"Apa jadwal Kim Jong Doo ke Pulau Borgia dipercepat, Nona?"
"Kita harus melakukan undian pemenang dulu, kita serahkan itu semua pada tim yang ada di sana,"
"Semisal pemenang utama laki-laki atau manula, kita tidak mungkin membiarkan pemenang itu melakukan kencan,"
Setelah berbagai pertimbangan akhirnya terjadi keputusan yang disetujui oleh semuanya di rapat itu.
"Setelah pemenang sudah ditentukan, laporkan pada Pedro karena setelah ini Keenan yang akan menghandle semua, aku akan cuti dan datang ke Pulau Borgia bersama Raphael beserta suamiku. Ah, lebih tepatnya semua keluargaku!" jelas Flo sebelum rapat benar-benar selesai.
"Selamat berlibur, Nona!"
"Tenang saja, kalian juga akan mendapat bonus!"
Karena bersemangat para tim dari perusahaan Flo mempercepat undian kupon dan memberikan data para pemenang pada Pedro.
Pedro yang mendapat laporan segera mengecek data para pemenang kemudian melapor pada Keenan.
"Pemenang utama ternyata ibu-ibu hamil yang usia kandungannya berusia sembilan bulan jadi dilempar ke pemenang kedua tapi..." Pedro mulai menjelaskan pada Keenan. "Ternyata pemenang kedua adalah nenek-nenek!"
Keenan menghela nafasnya. "Tetap beri mereka hadiah dan lempar pemenang ketiga!"
"Nah ini, Bos. Pemenang ketiga namanya sangat familiar!" Pedro jadi antusias sekali.
"Siapa?" tanya Keenan.
"Namanya Rose!" jawab Pedro yang selama ini tahu mengenai identitas lain dari Tessa.
Keenan yang belum ngeh hanya diam saja tapi sedetik kemudian matanya membulat. "Rose?"
"Ya, Rose, Bos!"
"Rose?" Keenan memegangi dadanya, dia sudah lama tidak merasakan perasaan ini. "Penyakitku kambuh lagi!"
"Bos..." Pedro tampak panik. "Ayo kita cepat ke rumah sakit!"
"Tidak, aku tidak mau! Aku hanya butuh bernafas," tolak Keenan.
"Apa Bos membutuhkan Seksi?" tanya Pedro.
"Iya cepat gunakan Seksi supaya aku yakin ini bukan mimpi!"