
Pedro berjalan di lobby penginapan bosnya dengan membawa obat yang telah dia tebus sebelumnya.
Tapi, atensi lelaki itu teralihkan karena melihat sosok yang sangat dikenalnya sebelum dia menaiki lift.
"Bos?" Pedro menegur Keenan yang duduk di sofa lobby. "Kenapa kau ada di sini, Bos?" tanyanya.
"Aku menunggumu," jawab Keenan yang kemudian berdiri, dia meminta obat yang sudah ditebus oleh Pedro.
"Tidak biasanya," komentar Pedro.
Memang benar jika Keenan tidak pernah menunggu Pedro seperti itu.
"Saya kan bisa mengantarnya di kamar, Bos," tambahnya.
"Tidak perlu, kau berkemas saja dan siapkan penerbangan untuk pulang!" perintah Keenan tak terbantahkan.
"Pulang? Kenapa mendadak, Bos?" tanya Pedro mulai panik. Karena bisa-bisa dia akan kerepotan menangani semuanya.
"Jangan banyak bertanya, Ped. Kerjakan saja perintahku!" Keenan berlalu begitu saja meninggalkan Pedro.
Sementara di dalam kamar, Tessa sudah bangun dan seperti sebelumnya dia merasa kesakitan di sekujur tubuhnya. Hal terakhir yang dia ingat, Keenan mendorongnya begitu kuat sampai dia kelelahan.
"Kee..." panggilnya.
Keenan tidak ada di kamar itu. Tessa memeriksa tubuhnya yang sudah bersih dan memakai piyama. Tapi, di mana Keenan?
Tak lama pintu kamar terbuka, Keenan masuk dan melihat istrinya yang sudah bangun. Dia segera memeriksa suhu tubuh Tessa, walaupun demamnya turun tapi suhu tubuh gadis itu masih hangat.
"Aku panaskan makanan dulu, setelah itu minum obatmu." Keenan berdiri menuju nakas yang di atasnya sudah ada berbagai makanan. Dia cukup memasukkannya ke microwave yang tersedia di kamar itu.
Keenan menyusun makanan yang sudah panas di meja yang ada di balkon kamar. Karena ini malam terakhir mereka, Keenan ingin menghabiskan malam berdua bersama istrinya sambil melihat pemandangan pulau Borgia dari atas sana.
"Aku bisa sendiri, kau memperlakukanku seperti anak kecil," tolak Tessa saat Keenan akan menggendongnya.
"Kau sakit sayang, biarkan aku melayanimu," ucap Keenan yang tidak ingin dibantah.
Keenan menggendong Tessa di balkon kamar dan meminta Tessa makan di sana. Dan Tessa yang kelaparan memakan tanpa banyak kata lagi.
"Aku baru sadar jika badanku demam, ini pasti karena gaya baru itu," gerutu Tessa sambil meminum obatnya.
"Sepertinya kau harus belajar mengimbangiku sayang,"
"Mengimbangi? Ini karena kau tidak mau berhenti, Bos!"
Tidak mau berdebat dengan istrinya, Keenan lebih memilih untuk mengobati memar hasil perbuatannya dengan salep dari dokter.
"Ini mau apa?" Tessa terkejut saat Keenan berusaha membuka kancing piyama yang dia pakai.
"Bertanggung jawab atas perbuatanku," jawab Keenan membuka piyama Tessa sampai istrinya hanya memakai bra saja.
Keenan mengamati semua bekas percintaannya, sebagai orang yang berpengalaman di bidangnya memang kulit Tessa sangat sensitif dari pada teman-teman kencannya dahulu.
"Kulitmu cepat membiru, ya. Kau seperti habis disiksa," komentar Keenan sambil mengoleskan salep dari tangannya.
"Lebih baik jangan membuat bekas di tubuhku," sahut Tessa.
Tessa memilih menyender di dada suaminya selagi Keenan mengobatinya.
"Kita akan pulang besok jadi ini malam terakhir kita," ungkap Keenan.
"Aku pikir masih beberapa hari lagi," sahut Tessa yang merasa acara honeymoon nya masih sebentar.
"Aku mempercepat kepulangan karena khawatir dengan kondisimu, aku takut membuat istriku akhirnya terkapar di ranjang sepanjang hari,"
"Bukankah saat kembali nanti juga akan sama saja? Kau itu kan maniak!"
"Setidaknya, aku punya pekerjaan saat kembali jadi sedikit mengalihkan perhatianku pada tubuh sintalmu sayang,"
"Ish, playboy selalu pintar membuat alasan,"
_
Besok senin, jangan lupa amunisi vote buat Bangkee😘