My Naughty Boss

My Naughty Boss
MNB BAB 82 - Terapi Sentuhan


Keenan dan Tessa memutuskan untuk mencari udara segar di pantai. Keduanya berjalan di pinggir pantai dengan bergandengan tangan.


Kedua kaki mereka tanpa alas kaki, air dari ombak pantai menyapu kaki keduanya di sore hari itu.


Sebelumnya, hampir seharian pengantin baru itu menghabiskan waktu di kamar. Bukan untuk bercinta seperti rencana Keenan karena keadaan mereka begitu canggung


Bukannya apa, Keenan takut mendekati Tessa dalam keadaan terang sementara Tessa sendiri tidak berinisiatif seperti malam pertama karena dia tidak terpengaruh obat lagi.


"Jadi, mommy dan daddy pulang hari ini?" tanya Tessa yang baru tahu kabar mengenai Silver dan Grey.


"Hm." Keenan menjawab dengan datar. Sedari tadi lelaki itu hanya diam menahan kesal, tubuhnya selalu berkhianat. Mungkin ini balasan karena dirinya yang suka berganti-ganti pasangan tidur dahulu kala.


Tessa sebenarnya juga kasihan tapi dia tidak bisa berbuat banyak karena tubuh Keenan memang aneh. Padahal dia tidak melakukan apa-apa.


"Bagaimana kalau kita makan es krim?" tanya Tessa memberi usul.


Dulu mereka sering memakan es krim saat mood mereka memburuk.


Keenan hanya pasrah saat tangannya ditarik oleh Tessa ke penjual es krim keliling.


"Saya mau dua yang rasa vanilla," ucap Tessa.


Penjual es krim memasukkan es krim rasa vanilla pada dua cone es krim.


"Terima kasih," ucap Tessa lagi seraya memberikan uangnya. "Kembaliannya simpan saja!"


Tessa ternyata masih seperti dulu, selalu dermawan. Dan hal itu membuat Keenan senang bukan main, Tessa memang wanita yang tepat menjadi istrinya.


"Ayo kita makan di sana!" tunjuk Tessa pada sebuah bangku kosong.


Matahari semakin tenggelam, Keenan dan Tessa memakan es krim mereka tanpa satu patah kata pun.


"Apa mood mu sudah membaik?" tanya Tessa.


Keenan menggeleng. "Masih buruk, aku takut mati sebelum Keesa menjadi janin!"


"Astaga, tidak ada orang yang mati karena gejala jatuh cinta," sahut Tessa yang jadi ikut kesal.


Nada bicara Keenan seperti orang yang putus asa membuat Tessa jadi semakin kasihan.


"Apa kau masih ingat permainan Albert dan Lucille dulu?" tanya Tessa kemudian.


Keenan tampak berpikir, dia berusaha mengingat kejadian empat tahun lalu saat Keenan dan Tessa berpura-pura pacaran.


"Permainan heart to heart itu?" tanya Keenan memastikan.


"Iya, bagaimana kalau kita mencobanya? Tapi kali ini seperti gaya Albert dan Lucille, mungkin sedikit membantu reaksi tubuhmu itu," jelas Tessa panjang lebar.


Kedengarannya tidak buruk, Keenan mengangguk setuju yang membuat Tessa langsung duduk di pangkuan suaminya.


Tessa kali ini bersikap aktif, dia mengusap bibir Keenan yang masih berbekas es krim itu. Dengan mengumpulkan keberaniannya, Tessa mencium dan menyesap bibir Keenan di sana.


"Rasa bibirmu manis seperti vanilla, aku menyukainya, aku juga menikmati goyanganmu dalam gelap," ungkap Tessa dengan nada sensual.


Kemudian Tessa menempelkan telinganya di dada Keenan dan berusaha mendengar debaran jantung suaminya.


"Badumb... Badumb... Badumb..."


Tessa mengelus dada itu pelan, Keenan sampai sesak nafas dibuatnya.


"Jangan tegang, rileks saja, okay." Tessa terus memberikan sentuhan demi sentuhan supaya Keenan bisa mengontrol debaran jantungnya sendiri.


"Pikirkan apa yang kau sukai dariku!" perintah Tessa.


"A--aku menyukai senyumanmu," ucap Keenan susah payah.


Tessa langsung memberikan senyuman manisnya sambil mengelus rambut Keenan. "Apa begini?"


"I--iya," jawab Keenan.


Karena mereka berada di luar, Tessa berhenti memberikan terapi sentuhan itu. Sekarang dia harus bisa memastikan Keenan tidak mimisan saat melihatnya tanpa busana.


"Ayo kembali ke penginapan!" ajak Tessa dengan mengerlingkan matanya.