
Setelah makan malam selesai, Keenan memaksa Tessa untuk memakan es krim yang dia belikan.
"Ini kadar gulanya rendah sayang jadi tidak perlu khawatir," bujuk Keenan.
Karena ingin menghargai suaminya, Tessa memakan es krim itu walau perutnya sudah kenyang.
"Pokoknya kau harus dalam keadaan happy saat mengandung Keesa," tambah Keenan.
Tessa hanya bisa mengulum senyumnya karena Keenan kelihatan begitu sibuk memikirkan ini dan itu padahal dia yang hamil santai saja.
"Tenang saja, aku pasti akan selalu happy," balas Tessa seraya memasukkan es krim ke mulutnya.
Sebelum mereka tidur, Keenan juga menyiapkan vitamin dan susu hamil untuk istrinya.
"Dua gelas lagi?" tanya Tessa yang merasa Keenan terlalu berlebihan.
"Biar adil kan calon bayinya dua," jawab Keenan tanpa beban.
Dan lagi-lagi Tessa harus memaksakan diri meminum dua gelas susu itu sampai mau muntah. Sepertinya dia harus membahas masalah ini pada Keenan jika semua terlalu over juga tidak akan terlihat baik.
"Sekarang tidur, ya!" Keenan menyiapkan bantal hamil untuk Tessa tidur.
"Ini terlalu cepat Kee, perutku saja masih rata," protes Tessa yang tidak mau menggunakan bantal hamil itu.
"Supaya tidurmu rileks sayang," Keenan tetap memaksa.
Tidak bisa dibiarkan, Tessa harus segera meminta bantuan black panther supaya Keenan berhenti terlalu overprotektive.
"Besok minta apa saja pada daddy, ya. Daddy itu kaya pasti bisa membeli apapun yang kalian mau," ucap Keenan seraya mengecup perut Tessa sebelum tidur.
Dan Keenan berharap bayi-bayinya akan mengerti.
Keesokan paginya, Tessa bangun duluan karena ingin menyiapkan sarapan seperti biasa. Sebelum itu Tessa melihat kalender hamilnya dan menyilang tanggal hari ini.
"Perjalanan masih panjang," gumam Tessa.
"Mommy harap kalian kuat dan sehat!" Tessa mengelus perutnya untuk mencurahkan kasih sayangnya. Dia berharap kedua calon bayinya baik-baik saja sampai waktu melahiran tiba nanti.
Setelah membersihkan diri, Tessa pergi ke dapur dan berniat ingin membuat sandwich saja yang simple.
"Sayang..." panggil Keenan yang menyusul ke dapur.
"Kau sudah bangun, Kee?" Tessa mendekati suaminya kemudian mengecup bibir Keenan. "Morning Kiss!"
Rasanya Keenan ingin menerjang Tessa saat itu juga tapi dia mati-matian menahan dirinya. Semenjak tahu mengenai kehamilan Tessa memang Keenan sudah lama tidak main katak bertelur.
Keenan takut akan membahayakan calon anak-anaknya.
"Astaga, sepertinya ada sesuatu yang tegak tapi bukan keadilan," tegur Tessa yang melihat bagian menonjol di celana suaminya.
Tessa justru menggoda dengan menaikkan siku kakinya untuk mengelus benda itu.
"Wow! Keras!" komentar Tessa. "Bukankah kita sudah lama tidak bermain prok prok prok?"
"Jangan menggodaku, aku tidak ingin membuang Keesa dengan percuma," ucap Keenan kemudian.
"Sebenarnya saat aku periksa hamil sudah menanyakan hal ini,"
"Terus dokter bilang apa?"
"Katanya tidak apa-apa asal dilakukan dengan lembut dan jangan terlalu sering,"
Keenan seperti mempunyai secercah harapan, dia kemudian menarik pinggang Tessa sampai tubuh yang mulai berisi itu menempel dengan tubuhnya.
"Jadi, boleh aku melakukannya?" tanya Keenan memastikan.
"Bagaimana ya, aku sudah mandi dan bersih, aku juga harus membuat sarapan, kau juga harus pergi ke kantor," balas Tessa.
"Itu gampang, aku bisa bermain cepat," Keenan menunduk dan mengecup perut Tessa. "Daddy akan berkunjung, jangan kaget, ya."