
"Ambulance?" gumam Tessa yang masih menahan rasa sakit. Sepertinya dia tidak membutuhkan hal itu karena Tessa mengira dirinya tengah datang bulan.
"Kee, aku hanya datang bulan saja," ucap Tessa mencoba membuat suaminya tenang.
Keenan yang masih panik tentu tidak akan percaya begitu saja.
"Apa datang bulan darahnya sebanyak ini?" tanya Keenan memastikan.
"Sebenarnya aku mengalami keram perut beberapa hari ini karena tidak biasanya aku telat datang bulan," jelas Tessa.
"Kenapa tidak bilang padaku?" Keenan semakin gusar. Akhirnya dia menggendong istrinya ke kamar mandi untuk membersihkan darah yang terus keluar.
Sementara Pedro segera memanggil petugas cleaning service untuk membersihkan darah Tessa yang berceceran di lantai.
Petugas cleaning service itu kebetulan seorang perempuan jadi dia tahu darah menstruasi itu seperti apa.
"Apa bos nyonya benar-benar datang bulan, Tuan?" tanya cleaning service itu pada Pedro.
"Memangnya kenapa?" tanya Pedro balik.
"Maaf jika saya lancang tapi darah menstruasi tidak seperti ini, biasanya darah menstruasi warnanya merah pekat dan bercampur darah kotor sedangkan darah bos nyonya warnanya merah segar," jelas petugas cleaning service itu takut-takut.
Pedro tentu jadi bingung mendengar penjelasan semacam itu. "Jadi, maksudnya apa?"
"Sepertinya bos nyonya mengalami pendarahan atau..." Petugas cleaning service itu ragu-ragu mau melanjutkan kalimatnya.
"Atau apa?" Pedro jadi tidak sabaran.
"Keguguran, Tuan," lanjutnya.
Mata Pedro terbelalak, dia segera berlari ke arah kamar mandi yang ada di ruangan Keenan untuk memeriksa keadaan Tessa.
"Bos..." panggil Pedro dengan mengetuk pintu.
Sementara di dalam kamar mandi, Tessa menangis karena rasa sakit di perutnya semakin bertambah.
"Ini baru pertama kalinya, aku tidak tahu." Tessa merangkul leher suaminya karena merasakan sesuatu akan keluar. Dan sedetik kemudian gumpalan darah keluar dari sela kaki Tessa.
"Sayang?" Keenan jadi panik sendiri.
Tessa semakin terisak, sepertinya dia tahu apa itu.
"Kee..." Tessa tidak sanggup menerima kenyataan.
Suara ketukan dari luar terus terdengar yang membuat Keenan berteriak supaya Pedro meminta bantuan untuk membawa Tessa ke lobby dan segera membawanya ke rumah sakit.
Petugas cleaning service sebelumnya juga berusaha membantu dengan mengambil selimut untuk menutupi tubuh Tessa yang melemah.
"Sayang, kau sebenarnya kenapa?" Keenan semakin panik karena melihat Tessa yang wajahnya memucat.
Keenan kemudian segera menggendong istrinya untuk keluar dan membawanya ke lobby seorang diri.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri," tolak Keenan saat bantuan datang.
Di dalam lift, Keenan terus menciumi kening Tessa sampai lift turun di lantai bawah. Pedro bergegas membuka pintu mobil dan supir langsung menginjak pedal gas. Mobil melaju kencang menuju rumah sakit.
Saat sampai, Tessa langsung masuk ke unit gawat darurat untuk melakukan pemeriksaan.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Keenan tertunduk karena masih bingung. Kejadian tadi terasa begitu cepat padahal sebelumnya Tessa baik-baik saja.
Pedro ikut duduk di samping Keenan dan berusaha menghibur bosnya.
"Sabarlah, Bos. Pasti bos nyonya akan baik-baik saja," ucap Pedro yang tidak tega memberitahu apa yang dikatakan oleh cleaning service sebelumnya.
"Coba kau cari di internet, apa wanita datang bulan darahnya akan separah itu, tadi aku melihat..." Keenan tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena sepertinya dia sadar gumpalan darah yang keluar dari sela kaki Tessa sebelumnya.
Tanpa bisa Keenan tahan, air matanya menetes keluar. "Apa tadi itu Keesaku?"