My Naughty Boss

My Naughty Boss
MNB BAB 115 - The Last


Sesuai jadwal, Pedro menjemput bosnya hari ini di tempat bulan madu Keenan dan Tessa. Tapi, dalam perjalanan Pedro membawa keduanya untuk bertemu Flo dan Axe yang akan berangkat ke Perancis.


"Adikku sudah besar sekarang, jaga mommy dan daddy, okay." Flo memeluk Keenan dengan mata berkaca-kaca.


"Tenang saja, Kak. Percayakan semua padaku, kembalilah saat sepupu Raphael nanti lahir," sahut Keenan yang enggan melepas pelukan kakaknya.


"Itu sudah pasti," sahut Flo dengan kekehan. Dia selalu suka Keenan yang tingkat percaya dirinya tinggi itu.


Sementara Tessa memeluk tubuh gembul Raphael, bocah itu rupanya juga enggan meninggalkan keluarga besarnya.


"Raphael harus menurut pada daddy dan mommy, okay," ucap Tessa.


"Okay, tapi berjanjilah Aunty tidak akan menangis lagi," Raphael masih mengingat Tessa yang terus menangis saat keguguran waktu itu.


"Aunty sudah tidak cengeng lagi jadi jangan khawatir," balas Tessa.


Kemudian dengan berat hati, Keenan dan Tessa melambaikan tangan saat keluarga kecil Flo memasuki mobil yang membawa mereka ke bandara.


"Pasti mommy dan daddy akan kesepian karena Raphael yang jauh dari mereka," komentar Tessa.


"Maka dari itu, kita harus rajin membuat Kessa Mark II, Mark III dan seterusnya," sahut Keenan yang suka berkhayal mempunyai anak banyak.


"Dasar tukang berkhayal," celetuk Tessa seraya merangkul lengan Keenan. "Ayo pulang!"


_


Setelah selesai bulan madu, Tessa melakukan rutinitas seperti biasanya begitu juga dengan Keenan.


Pagi-pagi, Tessa akan bangun untuk mempersiapkan sarapan dan kebutuhan suaminya kerja.


"Sayang, dasiku yang warna hitam kotak-kotak mana?" tanya Keenan yang berada di walk in closet.


"Warna hitam kan banyak, yang kotak-kotak sepertinya masih ada di laundry," sahut Tessa seraya menyusul suaminya. "Warna abu atau hitam polos juga bagus supaya serasi dengan jasnya!"


Tessa kemudian memilih dasi untuk Keenan tapi lelaki itu terus saja gelisah.


"Kenapa?" tanya Tessa saat sadar.


Tanpa Tessa duga, Keenan menjatuhkan kepala ke bahunya sama persis seperti dulu saat lelaki itu merasa gugup.


"Daddy mengadakan rapat dewan direksi hari ini dan aku...."


Sebelum Keenan menyelesaikan kalimatnya, Tessa menyela sambil menegakkan kepala suaminya.


"Kau pasti bisa, Bos. Percayalah pada dirimu sendiri seperti biasa," ucap Tessa menyemangati.


Keenan memberikan ciuman yang menggebu-gebu pagi itu pada istrinya.


Saat sampai kantor, Keenan berusaha bersikap tenang ketika memasuki ruangan rapat. Semua jajaran dewan direksi berkumpul di sana termasuk Grey.


Rasa gugup Keenan seketika langsung menguar saat Grey sebagai pemimpin rapat menyatakan bahwa akan pensiun dan kursinya akan dia berikan pada Keenan.


"Bukan hanya itu, Keenan akan menjadi pemilik saham mayoritas di perusahaan ini," ucap Grey sangat yakin.


Para dewan direksi yang melihat kinerja Keenan selama beberapa tahun terakhir menaruh kepercayaan pada lelaki itu. Jadi mereka setuju dan tidak meragukan Keenan lagi.


Air mata bahagia menetes begitu saja di pipi Keenan.


"Ish, dasar cengeng!" komentar Grey seraya mengusap air mata itu.


"Dad, aku berjanji akan membuatmu bangga suatu hari nanti," ucap Keenan.


"Daddy sudah bangga padamu!" Grey kemudian memeluk putranya dengan diiringi oleh tepuk tangan semua peserta rapat.


_


Kenaikan jabatan Keenan dirayakan dengan sebuah pesta. Malam itu, Tessa datang sebagai istri dari seorang Presdir baru.


Rasanya baru kemarin Tessa mengurus Keenan seperti bayi besar tapi sekarang dia justru menjadi pendamping hidup lelaki itu.


"Tidak apa-apa, Bos Nyonya. Saya hanya terharu selain atas pencapaian bos Keenan akhirnya saya bisa berkencan," jawab Pedro apa adanya.


"Memangnya kau sudah punya teman kencan?"


"Belum, masih rencana!"


"Oh, Astaga!"


Kemudian suasana pesta menjadi hening karena Keenan akan memulai pidatonya.


"Terima kasih untuk semuanya karena telah mempercayakan posisi ini. Aku tidak pandai merangkai kata tapi dibalik semua ini ada orang-orang yang sabar dan berjasa untuk mengubahku jadi lebih baik," ucap Keenan seraya memandang Grey dari atas podium.


"Thanks Dad, aku mungkin tidak akan bisa menyamaimu tapi aku akan melakukan yang terbaik. Dan untuk kursi dosa itu sepertinya cukup berguna,"


Setelahnya Keenan menatap Silver yang berdiri di samping Grey.


"Mom, I love you, kau selalu sabar dan tak segan menegurku jika melakukan kesalahan, tunggu saja, aku pasti akan membuatkan cucu yang banyak untukmu,"


Pedro yang mendengar itu memberi kode tanda silang jika Keenan tingkat kerennya menurun.


"Untuk kau, Ped!" Keenan terkekeh sejenak. "Tetaplah seperti itu!"


Sekarang giliran Tessa, perempuan itu tampak berdebar karena penasaran apa yang akan suaminya katakan padanya.


"Dan aku tidak akan sampai di titik ini kalau tidak jatuh cinta pada sekretarisku sendiri. Perempuan yang selalu mendukungku dari aku bukan apa-apa sampai dia membuatku mengalami kelainan aneh tapi aku bersyukur untuk itu,"


"Tessa.... Ini semua untukmu! Terima kasih selalu percaya padaku, I love you every second in my life!"


Tessa tidak bisa membendung air matanya akhirnya dia bisa menemani Keenan sampai menjadi seorang Presdir.


_


Beberapa bulan setelah pelantikan Keenan menjadi Presdir bersamaan dengan rumah masa depan Keenan dan Tessa selesai.


Saat weekend tiba, Keenan mengajak istrinya untuk pindah.


"Untuk pesta pindahan, aku mengundang Sebastian dan Luke," ucap Keenan saat sampai.


"Mommy dan daddy juga akan datang berarti hanya perlu menambahi bahan-bahan pesta barberque kita," sahut Tessa.


"Tapi, aku tidak mau membeli daging lagi karena aku tidak tahan baunya," tambahnya.


Keenan menatap istrinya dengan mengerutkan dahi. "Kalau dipikir-pikir, penciumanmu akhir-akhir ini memang tajam sayang!"


"Kau bahkan memintaku untuk membersihkan bokongku beberapa kali karena kau anggap bau!"


Tessa mengulum senyumnya karena memang semua itu ada penyebabnya. Dan sepertinya Keenan harus cepat tahu.


"Aku ingin memberimu sesuatu Kee," ucap Tessa seraya memberi tespeck dan foto USG pada suaminya.


"Apa ini?" tanya Keenan tidak mengerti. Tapi kemudian otaknya memberi informasi dengan cepat. "Oh God! Apa ini Keesa?"


"Iya, Keesa Mark II dan Mark III."


"A--apa? Ada dua?"


"Aku juga baru tahu setelah memeriksakan diri ke dokter,"


Tessa lalu merangkul Keenan dan mencium bibir suaminya.


"Terima kasih sudah mencintaiku dan memberiku kesempatan untuk mengandung anak-anakmu! I love you, Bos," ucap Tessa kemudian.


Akhirnya Keenan mendengar pernyataan cinta dari istrinya juga setelah hampir satu tahun mereka menikah.


"I love you too," Keenan mencium Tessa di depan rumah masa depan mereka bersama anak kembar mereka nantinya.


...TAMAT...