My Naughty Boss

My Naughty Boss
MNB BAB 67 - Jeritan dan Teriakan


Sepertinya Tessa harus berhenti berharap, Keenan tidak akan bisa bersikap romantis seperti yang dia inginkan.


Lebih baik dia cepat menerima lamaran ala Kim Kee Nan yang aneh itu.


"Baiklah, aku terima pedang panjangnya," ucap Tessa.


Keenan segera memasang cincin berlian itu kembali ke jari manis Tessa. "Berarti sekarang kau pemilik pedang panjangku! Kita harus menyegelnya!"


"Menyegelnya bagaimana?" tanya Tessa bingung.


Keenan mengarahkan tangan Tessa ke bagian tubuh bawahnya yang mana membuat mata Tessa membulat seketika.


"Pedang panjangnya berdiri!" seru Tessa mencoba menjauhkan tangannya tapi dia tidak bisa karena Keenan menahannya.


"Dari tadi juga berdiri dan dia tidak mau turun. Jadi pilih mau menyegel dengan tangan atau aku..." Keenan membidik tubuh Tessa.


"Jangan macam-macam!" ancam Tessa yang tahu otak kotor Keenan mengarah kemana. "Aku akan membantu menurunkannya memakai tangan!"


Dengan cepat Keenan membuka celananya. Tessa memejamkan matanya tapi tangannya merasakan kerasnya benda panjang itu.


Keenan membimbing tangan Tessa untuk mengasah benda berurat yang ingin mendapat pelepasan itu.


Beberapa menit berlalu, Tessa merasakan tangannya menjadi hangat karena ada sesuatu yang tumpah di tangan itu.


"Itu calon anak-anak kita yang tidak jadi," ucap Keenan sambil mengelap cairan kental itu. "Tenang saja, aku nanti produksi lebih banyak lagi!"


Tessa hanya bisa menjerit dalam hatinya. "Siapapun, tolong aku!!"


_


_


_


_


Di sisi lain, Raphael terus menangis karena hujan yang tidak berhenti-henti. Dia jadi tidak bisa bermain di luar, Raphael hanya terkurung di kamar dan bosan.


"Sudah, jangan menangis, nanti kalau hujannya reda, kita langsung bermain di luar, okay," bujuk Silver sambil menggendong cucunya itu.


Grey yang mendengar itu jadi kesal sendiri karena pada kenyataannya Axe menitipkan Raphael terus bersama mereka. Apalagi cuaca mendukung jadi pasti Axe dan Flo tidak keluar dari kamar.


"Bagaimana ini, Grey? Raphael tidak mau berhenti menangis!" Silver sudah merasa kewalahan.


"Kita bawa jalan-jalan saja di lobby penginapan, Honey," usul Grey.


Grey dan Silver kemudian membawa Raphael untuk berjalan-jalan keluar kamar.


Saat mereka sampai di lobby ternyata mereka berpapasan dengan Pedro.


"Loh, bukannya kau seharusnya di kapal pesiar bersama Keenan?" tanya Silver yang tidak tahu rencana pulau terpencil.


Pedro menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Um, sebenarnya..."


"Bos Keenan dan Tessa berada di pulau terpencil sekarang!"


"Apa!?" Grey dan Silver kaget bersamaan.


"Saya sedang meminta bantuan supaya bisa menjemput mereka di tengah hujan badai begini," jelas Pedro yang akhirnya berkata jujur.


Silver menatap suaminya karena cemas. "Grey, bagaimana ini?"


"Begundal itu, kenapa selalu berpikiran gila. Itulah sebabnya aku tidak bisa pensiun kalau dia masih seperti itu," gerutu Grey sambil memijit pelipisnya.


"Padahal empat tahun ini, kinerjanya cukup bagus," tambahnya.


Silver kemudian memberikan Raphael pada Pedro. "Tolong antar Raphael pada orang tuanya, biar urusan Keenan, kami yang memikirkan!"


"Baik, Nyonya." Pedro mengambil alih Raphael dan membawa bocah itu ke kamar Flo dan Axe.


Saat sampai di kamar yang dituju, Pedro mengetuk pintu beberapa kali tapi tidak juga dibuka.


Justru Pedro mendengar Flo yang berteriak dari dalam. Dan hal itu membuat Raphael kembali menangis.


"Huaaa... mommy dipukul daddy!"